Young Rice Farmer Series: Subang

Young Rice Farmer Series adalah artikel serial kerjasama antara Top Tables dengan Kazerice, sebuah perusahaan social enterprise yang bergerak di pertanian khusus beras organik. Ini adalah saatnya untuk membangkitkan generasi baru petani muda yang cakap dan bertanggung jawab, serta memberikan mereka sorotan. Karena masa depan pangan kita ada di tangan mereka.



Mendengar kata petani apakah yang muncul di kepala Anda? Beras? panas-panasan? atau pekerjaan yang sangat grassroot? Memang ketiganya betul, namun permasalahan utama yang terjadi di Indonesia adalah bagaimana berkurangnya regenerasi petani muda, sementara demand untuk makan manusia justru semakin meningkat. Hal ini menjadi salah satu isu penting yang harus diperhatikan oleh generasi ini.


Namun bagi Endri Geovani justru ia ingin menjadi bagian dari regenerasi tersebut. Pria berusia 25 tahun lulusan Universitas Gajah Mada ini sejak tahun 2016 sudah bergabung dengan Kazerice, sebuah perusahaan yang bergerak dalam pertanian beras dan edukasi kepada petani lokal yang didasari oleh misinya untuk memajukan produk hasil tani Indonesia dan menumbuhkan kebanggaan terhadap hasil alam Indonesia.


Endri yang asli Lampung ini tergerak dengan kondisi yang dialami oleh para pelaku tani di Indonesia, baginya negara ini punya potensi besar dalam hal pertanian, terutama beras, namun kondisi beberapa waktu terakhir tidak mencerminkan potensi itu. Pertanian merupakan usaha yang sangat mengandalkan alam serta sosiologis manusia. Karena inilah umumnya menjadi petani perlu dedikasi, kesabaran serta mental yang kuat. Dengan semakin berkembangnya teknologi, dunia pertanian pun juga terbawa dampaknya.


Endri Giovani, 25 tahun

Banyak hal yang lebih bertanggung jawab yang dapat dilakukan untuk memajukan pertanian. Seperti yang dilakukan oleh Kazerice yang selalu berupaya melakukan riset bagaimana mengembangkan hasil tani beras yang bukan hanya berkualitas tapi juga beretika dan menjunjung tinggi proses natural non kimia. Tapi yang namanya memenuhi demand yang berlebihan, masih banyak juga pengusaha tani lain yang masih mengandalkan bantuan kimia untuk menghasilkan beras yang "dipaksa" untuk berkualitas.


Top Tables berkesempatan untuk mengikuti Endri menuju Kota Subang, tepatnya di desa Pegaden, salah satu wilayah dari lumbung padi nasional di Jawa Barat.


Di wilayah Subang inilah Endri turut bekerja sebagai petani muda dengan memiliki bekal akademis (educated farmer) bersamaan dengan para petani senior yang sudah mendarah daging mengelola persawahan (experienced farmer) mitra dari Kazerice. Endri menjelaskan bahwa usaha petani di wilayah Subang ini lebih kepada usaha tani, yang maksudnya adalah menjual seluruh hasil tani ketimbang juga disimpan untuk simpanan pangan pribadi. “Ini sebenarnya menarik, karena umumnya petani yang melakukan penyimpanan setidaknya seperempat dari hasil tani pasti akan memperhatikan kualitasnya. Karena pada akhirnya keluarga akan ikut mengkonsumsi. Namun yang agak sulit adalah yang menjual seluruh hasil tani, karena orientasi mereka hanya untung semata, yang dapat menjurus kepada hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu kami ada di sini untuk salah satunya memberikan pelatihan juga membantu mengawasi produksi dengan cara yang baik dan organik,” jelas Endri.


Keinginan Endri untuk turun ke sawah dan menjadi petani sudah ada sejak ia kecil, hal ini dikarenakan keluarganya sendiri adalah petani. Ketika kuliah ia pun mengambil jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian di Universitas Gajah Mada. “Masalah utama dari pertanian di Indonesia itu adalah sedikitnya lulusan pertanian yang betul-betul turun kembali menjadi petani. Banyak yang justru bekerja di bank atau perusahaan lain.” katanya sembari kami menyusuri persawahan yang sudah siap dipanen. “Kalau beliau-beliau para experienced farmers sudah tidak ada, maka siapakah yang akan menggarap seluruh pertanian. Dan pada akhirnya, mau makan apa kita?”


Di negara-negara maju seperti Jepang hingga Belanda, pertanian dan teknologi sudah tidak bisa terpisahkan. Banyak cara revolusioner yang bertanggung jawab mereka terapkan untuk bukan hanya mengoptimalkan hasil tani namun tetap menjadi nutrisi dan kondisi alam sebagaimana aslinya. “Mengedukasi para petani senior itu sangat menantang, karena mereka sudah puluhan tahun bekerja. Oleh karena itu pendekatan yang tepat adalah kuncinya, terutama dalam memperkenalkan teknologi baru.”


Endri tidak sendiri, ia bersama dengan Sulton, rekan belajarnya dari Universitas Gajah Mada yang mengambil bidang agronomi. Agronomi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari budidaya tanaman dengan produksi yang optimum dan kelestarian yang berkelanjutan. “Mulai proses awal tanaman tumbuh, menghasilkan produk hingga paska panen saya pelajari.” Di Kazerice sendiri, implementasi yang dilakukan Sulton adalah mulai dari awal pengolahan tanah, pemupukan dan memastikan unsur hara yang cocok, sampai ke pengendalian dari hama.


Sulton, 24 tahun

“Salah satu tujuan utama saya dan Sulton ikut bekerja di sini bukan hanya soal produksi padi tapi juga ingin mengajak rekan-rekan saya yang lain - terutama anak muda yang lahir dari kalangan petani - untuk ikut. Sangat menantang, karena menjadi petani itu khan bermain dengan sosiologis dan faktor alam juga,” terang Endri. Banyak anak muda di daerah yang masih lebih memilih untuk bekerja di pabrik atau di bahkan minimarket, ini yang cukup ironis. Namun menurut Endri, banyak juga dari mereka yang setelah jenuh dengan pekerjaan di pabrik akhirnya kembali turun untuk bertani.


“Memang menantang untuk awalnya mengajak para anak muda bahkan mitra tani. Namun yang kami lakukan adalah kami menyediakan sistem untuk basis eras organik. Kami juga melakukan pendampingan, analisis, hal-hal yang sebenarnya penting namun mereka tidak bisa melakukannya, yang tentunya juga dilakukan dengan bahasa yang dengan mudah dimengerti. Apalagi sekarang ini teknologi semakin canggih, report bisa dilakukan dengan video call, WhatsApp dan foto. Intinya kami tidak lepas dari mendampingi para petani daerah ini.” Terang Endri.


Selain wilayah utama sebagai pertanian beras, sebagian kecil lahan di desa Pegaden ini juga menjadi salah satu tempat penelitian dan pengembangan usaha tani yang lain oleh Kazerice. Tanaman seperti kunyit, lemon cui, cabai, singkong, hingga biji-bijian seperti sorghum juga ikut ditanam. Sulton dengan latar Agronominya yang bertanggung jawab untuk ini. Pada akhirnya, prinsip bertani yang baik dapat diaplikasikan ke banyak produk. “Saya senang melakukan riset dengan produk lain selain beras. Saya bisa mempelajari bagaimana hasil jadi produk bila pengolahannya dilakukan dengan bertanggung jawab,”ujarnya.


Salah satu tantangan utama petani muda adalah bekerja beriringan dengan para petani senior (experienced farmer) yang umumnya lebih ortodoks.

Di bawah terik matahari, persawahan sejauh mata memandang, Endri dan Sulton saling berdiskusi dengan petani muda dan juga senior yang sama-sama dikelilingi padi yang menunduk. Tentunya di negara agraris seperti Indonesia, dua orang seperti mereka tidaklah cukup. Pangan nasional memerlukan puluhan ribu bahkan lebih lagi pengelola lahan tani seperti Endri dan Sulton. Mereka berdua adalah contoh dari bagaimana generasi petani baru seharusnya ada; kaya dengan ilmu pengetahuan modern namun juga tetap berpegang pada prinsip menghormati alam agar keduanya menghasilkan hasil tani yang optimal tapi tetap bertanggung jawab.

Oleh Top Tables. Berkerjasama dengan Kazerice sebagai partner konten.

262 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png