Dari Dalgona hingga Garden Focaccia

Bagaimana kebosanan dapat mendorong kreativitas di dalam dapur hingga melahirkan tiga tren unik ini.


Oleh Top Tables


Sudah lebih dari 50 hari dunia seakan berhenti bergerak dan manusia-manusia menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam rumah. Namun seperti yang dikatakan oleh Sandi Mann, senior lecturer dari University of Central Lancashire di Inggris dan penulis buku The Upside of Downtime: Why Boredom Is Good, rupanya kebosanan dapat mendorong lahirnya kreativitas manusia, hal yang banyak dari kita alami sebetulnya saat belum banyak terpaku di depan layar. 


Dalam dunia kuliner, hal ini terbukti dari munculnya tiga tren makanan di waktu yang hampir bersamaan dan cenderung dekat, yaitu selama hampir 60 hari. Sementara pada masa sebelum pandemi, tren dalam dunia kuliner hadir sesekali dalam setahun, bahkan rentang waktunya bisa cukup panjang selama beberapa bulan sebelum tren berikutnya muncul.


Hingga minggu lalu, kami masih melihat di media sosial kegiatan yang berhubungan dengan mengocok kopi hingga kental yang disebut Dalgona Coffe. Dari yang enggak pernah sebelumnya mempunyai mixer sampai akhirnya beli hanya untuk mengikuti tren ini. Mulai menjadi populer di Korea Selatan, minuman yang bertekstur creamy ini sejatinya mirip dengan proses membuat marshmallow yaitu mengocok gula yang dilarutkan hingga mengembang seperti awan. Dengan ditambahkan kopi instan, tentu kandungan gula yang ada semakin tinggi serta mendapatkan rasa tanah kopi yang khas. "Saya sampai niat membeli mixer via online hanya karena mau coba bikin ini di rumah, " ujar Ayunda (28) yang sebelum masa pandemi ini sibuk dengan pekerjaan di dunia kreatif.


Menariknya, tren Dalgona yang viral ini tidak berhenti di situ saja. Hanya dalam waktu beberapa saat, dunia kembali dilanda demam yang berhubungan dengan makanan, namun bukan suatu hidangan mudah, melainkan membuat roti sourdough sendiri. Mulai dari aktor Jake Gyllenhaal hingga chef kenamaan semua seakan tidak mau ketinggalan. Umumnya, roti sourdough bisa kalian beli di toko roti artisan. Hal ini dikarenakan jenis roti seperti sourdough masih memerlukan sentuhan tangan untuk membuatnya.

Menurut Ardika Dwitama, pastry chef dari Oui Dessert dan Restaurant August, orang-orang merasa tertantang dalam kondisi ini untuk melakukan sesuatu yang kreatif. "Bahan dasar roti ini sangat sederhana. Tepung, garam, air dan ragi. Asumsi orang adalah mereka punya ketiganya tinggal ragi saja. Dengan waktu yang mereka punya, pasti bisa sekali," jelasnya kepada Top Tables. Padahal walaupun bahan bakunya sederhana, roti sourdough tetap memerlukan keterampilan untuk membuatnya, termasuk bagi para chef pastry dan baker sendiri. "Bagi kami, sourdough ibarat kanvas yang bisa dikreasikan dengan berbagai cara." Terang Ardika yang juga membuat roti sourdough sendiri dan dijual selama pandemi melalui akun instagramnya @ardikadwitama.

Roti sourdough kreasi Ardika Dwitama | Ardika Dwitama

Bila sourdough hadir dalam tampilan yang rustique, klasik dan membumi, tidak dengan tren roti (ya, roti lagi) yang satu ini. Gardenscape focaccia namanya. Beberapa saat lalu di media sosial, Top Tables melihat rangkaian tampilan roti focaccia yang tidak biasa. Di atasnya irisan bawang bombay merah, daun bawang, dan beberapa dedauan tersusun membentuk pola layaknya sebuah lukisan. Seperti sourdough, roti focaccia bukanlah seperti membuat kue yang sederhana. Kelembaban udara hingga kepiawaian dalam mengolah adonan menjadi penting dalam membuat roti focaccia, belum lagi menyusun irisan-irisan topping yang berbentuk lukisan.


Di Indonesia sendiri, tren yang ramai di Amerika Serikat dan Eropa ini mulai dipraktikkan oleh mereka yang berada di rumah, salah satunya Charins Chang, head pastry chef Benedict dan Cork & Screw Country Club. "Saya pertama kali tahu tentang tren ini dari The New York Times yang menyebutkan seorang pembuat roti rumahan, Teri Culleto, sebagai yang memulai tren ini." Namun tren ini tidak hanya cantik tampilan saja, topping yang dipilih juga menambah rasa dan aroma foccacia seperti kalamata olive hingga sun-dried tomatoes. Foccacia sendiri memang sering diberi pugasan seperti rempah herbal rosemary, ditabur garam laut, dan dinikmati sebagai roti gurih di restoran Italia.


Selain ketiga di atas, terlihat orang-orang juga mulai banyak yang mencoba membuat kimchee sendiri di rumah hingga ada yang meracik kombucha yang merupakan teh fermentasi. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya siapapun bisa membuat aneka makanan dan minuman yang sulit sekali pun bila waktunya memungkinkan. Akankah paska pandemi kebiasaan mencoba membuat kreasi baru di dapur rumah tetap tinggal?

59 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png