Top Tables Hottest Openings 2019

Updated: Dec 7, 2019

Oleh Kevindra Soemantri


Dari rumah makan bakmie hingga osteria Italia, dari tapas hingga izakaya, inilah 10 restoran paling berkesan yang muncul di tahun 2019 di kota Jakarta.

Tepat ketika Top Tables pertama kali diluncurkan, salah satu tujuan utama kami adalah merayakan keberadaan Jakarta bukan hanya sebagai tempat tinggal, namun juga tempat kami merayakan hidup. Dengan cara apa paling tepat merayakannya? Tentu dengan makanan. Setiap tahun, Jakarta selalu kedatangan wajah-wajah baru dalam dunia restoran. Kita masih ingat betul wilayah-wilayah baru muncul dan menjadi ramai akibat terbentuknya komunitas penggemar makanan. Maka dari itu, kami memutuskan untuk menepati janji kami dengan membagikan pilihan tempat makan yang bagi kami meninggalkan kesan sangat baik.


Mohon diingat, kami tidak berkata bahwa pilihan kami adalah the best di antara yang ada, ataupun terbaik untuk setiap orang. Lagi pula, yang namanya makanan dan minuman selalu tentang preferensi atau selera pribadi. Sebagaimana sepiring makanan bersifat personal dan setiap orang yang mencicipinya bisa memiliki pandangan yang berbeda, begitu pula daftar kami ini. Kami pergi, siang dan malam, menelusuri jalanan ibukota. Kami berkejaran dengan waktu, menaiki taksi online, ojek online atau himpit-himpitan di dalam bus Transjakarta serta MRT. Hari kerja hingga akhir minggu, kami menghampiri puluhan tempat makan dan restoran baru di Jakarta yang hadir mewarnai ibukota sejak tahun ini dimulai.


Dengan mengorbankan lingkar pinggang, kami makan, makan dan terus makan. Kami melahap kreasi-kreasi para seniman dapur di restoran mereka masing-masing. Kami datang tanpa reservasi, tidak diundang dan tentu dengan dana kami sendiri. Kami menemukan banyak harta karun tersembunyi di balik puluhan menu restoran. Kami menemukan makanan yang tekstur dan rasanya masih terasa hingga sebelum tidur. Kami menemukan makanan yang membuat perut kami perih, namun di sisi lain juga menyantap kreasi yang menyenangkan hati.


Kesepuluh daftar yang kami pilih adalah mereka yang menurut kami memberikan kesan yang sangat baik. Entah itu dari rasa, harga, cerita yang ada di situ. Kami memang melihat pentingnya konsistensi di dalam sebuah menu, sehingga kami sempat beberapa kali datang untuk memastikan opini kami tidaklah salah. Memang kami juga membandingkan antara harga dengan kualitas makanan yang diberikan, sebagaimana masyarakat umum akan melakukannya. Tapi di luar itu semua, senyum tamu yang hadir saat melahap hidangan, hingga para pramusaji yang penuh semangat juga tak luput dari perhatian kami.


Pada akhirnya, kami sampai pada suatu titik di mana sepuluh nama terus terngiang di benak kami. Di mana entah itu makanan atau pelayanan yang kami rasakan sangat melekat dan terasa tepat. Di mana kami tidak bisa berhenti membicarakan tentang mereka ke banyak orang. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kami persembahkan kepada Anda, para pembaca setia, sepuluh restoran di ibukota yang paling berkesan bagi kami, dan tentu kami harap, juga bagi Anda.



Terletak di lantai dasar Menara Rajawali di Kawasan Mega Kuningan, terdapat sebuah restoran yang memiliki benang merah sebagai melting pot dari kultur Barat dan Asia, Arrack & Spice. Apabila Anda jarang melewati Kawasan Mega Kuningan, besar kemungkinan Anda mungkin tidak akan tahu akan keberadaannya. Nuansa Era Penjelajahan sangat kental, seakan-akan Columbus dan Marco Polo bisa temu kangen di sini.


Salah satu tempat yang tegolong underrated, Arrack & Spice memiliki hampir semua komponen yang dapat menjadikannya favorit: Makanan, konsep hingga tentunya cocktail. Di mana lagi Anda bisa menemukan restoran dan bar yang memiliki distillery sendiri di Jakarta? Memastikan bahwa tiap minuman Anda lahir dari konsep yang matang dan ditangani oleh personil yang tepat, di mana kreativitas hanya dibatasi oleh langit saja.


Dari segi menu, restoran ini punya ragam pilihan untuk bereksplorasi lidah. Favorit kami adalah roti yang dipanggang, lalu dibubuhkan chutney anggur yang punya keseimbangan rasa asam dan manis yang tepat. Lalu semilir rasa kayumanis yang tak mengganggu juga hadir, memberikan sensasi hangat. Ada pula khoi soy noodle dari Thailand yang meriah.

Tapi apabila datang ke sini, mestilah mencoba ragam minuman mereka. Pak Raden menjadi highlight kami. Kombinasi dari rum mesoyi (kerabat kayumanis) lalu sitrus dan angostura dari Karibia menjadikan minuman ini punya kesan eksotis yang maskulin. Namun bila Anda tak merasa sedang menginginkan cocktail, maka spiced milk tea dari Arrack & Spice yang disajikan dengan racikan rempah signature kami rasa bisa jadi pilihan tepat.


Arrack & Spice

Menara Rajawali, Lantai Ground, Jl. Dr Ide Anak Agung Gde Agung, Mega Kuningan.

Menu Highlight:

Khoi Soy Noodle, Brioche Camembert & Honey, Salmon Tandoori Gravy, Avocado & Grape Cinnamon Chutney




Mencari lokasi tempat makan selalu menjadi petualangan untuk kami setiap saat. Melewati perumahan mewah Permata Hijau, menyusuri jalan-jalannya, hingga akhirnya sampai ke sebuah rumah model lama tanpa nama. Dari luar, eksterior tempat ini memang terlihat sederhana, namun interior yang seakan-akan membuat rumah ini bagian dari sebuah restorasi kota lama, sangat menggambarkan pemiliknya, Leonard Theosabrata.


Bakmi di sini sungguh baik. Ia bukan bakmie karet tebal, namun juga bukan bakmi telur yang umumnya dipakai untuk bakmie Jawa. Teksturnya kecil namun tetap firm, menjadikan tiap seruput dan kunyah memiliki tekstur. Tak hanya bakmi, menu lain seperti siomay, bakcang, membuat hidangan yang sederhana menjadi semarak dengan kehadiran berbagai snack yang dapat dipesan atau dibawa pulang sebagai buah tangan.


Yang juga memberikan kesan bagi kami, adalah demografis tamu yang hadir di tempat makan ini. Mulai dari kalangan ekspatriat, keluarga muda, kakek nenek, hingga urban millennials saling berbagi cerita dan dari wajah mereka, terlihat bahagia sembari mengenyangkan diri dengan semangkuk bakmie.


Bakmi Tiga Marga

Jalan Biduri Bulan, Blok I No. 12, Permata Hijau, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

Bakmi Ayam, Bakmi Babi, Swikiaw, Siu Mai




Malam terasa berbeda dengan hadirnya restoran ini di wilayah Cikajang. Bagi kami, restoran yang baik harus menjadi dampak bagi daerah tempat ia berada. Hadirnya Bubur Cap Tiger tidak hanya memberikan opsi baru terhadap aneka makanan di sepanjang jalan ini, namun, ia membuktikan bahwa kecintaan warga urban terhadap semangkuk bubur hangat tak pernah hilang ditelan zaman. Bubur Cap Tiger berhasil menghadirkan kehangatan yang umumnya menjadi privilege warga Jakarta Barat dan Jakarta Utara ke wilayah Jakarta Selatan.


Mereka menyajikannya dengan sederhana, tak bertele-tele, sebagaimana jiwa dari semangkuk bubur itu sendiri. John, sang pemilik, selalu berada di sana sejak awal restoran ini berdiri. Ia ibarat tentara yang tak pernah meninggalkan pos jaga. Dan bagi kami, ini adalah elemen penting yang tak tergantikan. Ketika pemilik hadir di ruang makan, bersama-sama dengan pelanggan, melayani mereka sepenuh hati, akan terbentuk jiwa dari restoran tersebut.


Namun tentu saja kualitas makanan menjadi objek utama. Bubur gurih yang tak terlalu cair dan juga tak terlalu pekat, ayam rebus dan panggang yang keduanya selalu tak luput hadir di atas meja, serta acar sawi yang punya keseimbangan rasa manis dan asam sempurna dengan tekstur yang masih renyah serta juicy. Ketika makanan lezat bertemu dengan keramah-tamahan yang tak dibuat-buat, maka itu lebih dari cukup untuk membuat kami akan kembali lagi terus menerus.


Bubur Cap Tiger

Jalan Cikajang No.34 A , Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

Aneka bubur dan aneka ayam, acar sawi



Di kala restoran berlomba-lomba untuk memadati kawasan yang populer, Byurger hadir sebagai pemantik yang menjadikan Pasar Cipete hidup dan menjadi pusat perhatian penikmat makanan Jakarta.


Dikepalai oleh Respati Tamio, Byurger menjadi destinasi makan burger yang sesuai untuk kelasnya. Sebelum mendatangi restoran ini, kami memahami bahwa tempat makan itu muncul dalam beberapa kelas dan konsep. Byurger memang bukanlah tempat untuk mencari sepiring burger yang disajikan dengan roti brioche atau diselipi irisan truffle. Ia bukanlah tempat untuk mencari burger yang menggunakan daging hida dari prefektur Gifu di Jepang. Namun bila yang Anda inginkan adalah burger yang memiliki kombinasi daging yang tepat, dipanggang hingga sedikit smokey, serta sayuran yang hadir dengan tekstur renyah dan saus yang berlimpah, Byurger adalah tempatnya.


Tempat makan ini tahu betul bagaimana mayoritas Jakarta menyukai cita rasa yang berani. Untuk itu mereka hadir dengan beberapa pilihan menu, mulai dari yang terinspirasi bumbu Korea, hingga back ribs yang dimasak selama 36 jam hingga lembut menggantikan patty klasik.


Dengan harga yang masih rasional, kualitas yang tepat sesuai dengan konsep yang diusung, maka tidak heran kalau Byurger selalu ramai oleh tamu yang datang dengan penuh antusias.


Byurger

Pasar Cipete, Jalan Antasari Raya No.10, Fatmawati, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

K-Pop Sensation, Sexy Back Ribs, Damn Basic




Kami masih ingat betul ketika Duck Down pertama kali hadir di Jakarta, dengan mudah demam akan mereka menjangkiti siapa pun. Bernyanyi hingga suara habis dan bersenang-senang dengan orang tak dikenal di samping Anda menjadi kenikmatan baru yang rupanya disukai oleh kaum urban.


Namun ketika ia buka di wilayah Kemang, hal ini mengejutkan kami. Bukan karena wilayahnya, namun karena namanya memanjang menjadi Duck Down Pizza Party alih-alih hanya dua kata pertama. Dengan mengajak Bjorn Shen, chef pemilik restoran Artichoke dari Singapura sebagai peracik menu makanan, hal ini membuktikan bahwa BIKO, grup yang menaungi tempat ini, sungguh serius. Sama dengan esensi Duck Down yang witty namun jujur dan penuh keberanian, penuh semangat dan hasrat serta spontanitas, makanan di tempat ini turut hadir dengan menghidupi esensi tersebut – dan tentunya – terasa lezat. Pizza di Duck Down Pizza Party diferementasi dengan cara yang sedikit berbeda, sehingga menghasilkan tekstur dan rasa yang membuatnya memiliki kualitas tersendiri. Puree kentang yang menemani fried chicken juga sama kualitasnya dengan Anda mendatangi restoran Perancis dan meminta seonggok pomme purée.


Ketika pada awalnya kami pikir bahwa kami akan pergi ke salah satu restoran di sekitar Kemang untuk mengenyangkan diri setelah mampir dari sini, hal itu salah. Kami justru hanya ingin pulang, duduk santai di mobil, dan tertawa kenyang setelah melahap cock slayer (yes, itulah nama salah satu menunya) dan black flag yang mengesankan.


Duck Down Pizza Party

Plaza Bisnis Kemang, Jl. Kemang Raya, RT.14/RW.2, Bangka, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

Cock Slayer, Black Flag



Sekitar pukul sepuluh malam, mata kami sudah ketiga kalinya menelusuri bill pembayaran di Masanobu. Suasana ruang makan yang tadinya ramai dengan simfoni bahasa Jepang, Indonesia dan Inggris sudah mereda, digantikan dengan suara samar-samar sirene dan klakson mobil yang terdengar dari Jalan Jenderal Sudirman di depan sana.


Masanobu, restoran Jepang yang berada di kaki gedung raksasa Menara Astra ini menjadi angin segar baru ramainya kuliner Jepang di ibukota. Tentu unsur modern menjadi identitas utama, sebagaimana “saudara” mereka, Enmaru, di The Plaza. Tangan dingin chef Takashi Tomie melahirkan beberapa hidangan yang meninggalkan kesan bagi kami, memberikan perspektif baru dari kuliner Negeri Sakura yang selama ini kita kenal.


Siapa sangka kalau tuna mentah bisa cocok disajikan dengan cream cheese, acar wasabi dan saus wijen? Atau ketika pahitnya matcha yang berkualitas sebetulnya bisa menggantikan posisi kopi dalam semangkuk tiramisu? Di akhir waktu makan kami berpikir, bahwa sesekali memang diperlukan untuk seorang chef keluar dari zona aman dan mencoba memberikan warna serta karakter baru dari hidangan yang sudah ada dan tak berubah selama puluhan bahkan ratusan tahun. Apabila tidak berhasil, maka mudah saja untuk jangan dilanjutkan. Namun bila berhasil – seperti yang dilakukan chef Tomie – maka besar kemungkinan standar baru telah diciptakan.


Pada akhirnya kami harus berhenti memandangi bill, membayar dan pulang dengan membawa satu fakta: Bahwa makan dengan kualitas prima di Masanobu (dalam hal ini kami banyak memesan Japanese tapas) rupanya tidak mengganggu keuangan kami.


Masanobu

Menara Astra, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat

Menu Highlight:

Maguro & cream cheese, tori liver goma abura, maccha tiramisu


Ketika kami tahu tempat ini berada di lantai dua gedung SOHO di Jalan Gunawarman, kami sempat berpikir apakah akan sama saja dengan dua tempat lain di bawahnya yang akan dipenuhi oleh anak-anak muda yang melepas energi malam mereka. Tapi rupanya tidak.

Nidcielo hadir sebagai sebuah sanctuary di tengah hiruk pikuk kehidupan malam yang extravagant. Yang membuat kami senang dengan tempat ini, adalah tidak diperlukannya kami berbicara hingga harus teriak. Bahkan, terkadang kami harus sedikit berbisik apabila ingin bicara topik yang sensitif.


Lalu, bagaimana dengan makanannya? Nidcielo hadir dengan pilihan tapas, yang beberapa membuat kami tidak bisa lupa. Chipirones, potongan cumi yang mungil dimasak dengan jeruk serta disajikan dengan saus aioli yang dibubuhkan tinta cumi sehingga menambah karakter dan dalamnya rasa saus. Tortilla de Albahaca juga dapat membuat siapa pun akan mempertanyakan kembali bagaimana selama ini mereka menikmati sebuah omelette.


Apabila restoran dengan jiwa nightlife yang kuat identik dengan pelayanan yang easy going atau terlampau fun, pendekatan yang dilakukan oleh staf Nidcielo berbeda. Mulai dari menyambut tamu di depan elevator, mengajak mereka ke meja sembari bertanya tentang kondisi hari ini, hingga hal detail seperti memberitahu Anda untuk hati-hati melangkah karena anak tangga yang tipis di depan. Belum cukup juga, mereka dapat membantu Anda memilih tiap menu dengan detail yang presisi.


Nidcielo

SOHO Building, Jalan Gunawarman No.61, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

Tortilla de Albahaca




Setelah sebuah pengalaman yang kurang mengenakan beberapa bulan yang lalu, kami kembali lagi mengunjungi Osteria Gia. Kami percaya, restoran – sebagaimana halnya manusia – layak mendapatkan kesempatan kedua. Kami ikutilah naluri kami untuk datang lagi dan hadir. Lagi pula, sejak awal kami tidak pernah bisa menutup fakta kalau makanan di restoran ini masih memberikan kesan positif.


Walaupun sempat sedikit ragu, namun keraguan itu perlahan hilang. Bahkan, menurut kami Osteria Gia telah berhasil membawa pelayanan yang menyenangkan. Untuk makanan Italia sendiri, tentu Tomasso Gonfiantini adalah ahlinya. Kami tersenyum ketika cavatelli yang lembut dan berlapis saus pekat itu bermain di mulut bersama dengan jamur porcini dan escargot, sebagaimana saat panna cotta yang memiliki tekstur sangat lembut seperti tahu sutra ini diramaikan dengan remah hazelnut yang manis dan earthy serta ceri yang asam serta intense.


Ketika masakan Italia kami rasa sudah sampai pada tahap kejenuhan, Osteria Gia dapat kembali memunculkan keseruan dalam mendatangi sebuah restoran makanan Italia yang lebih fun dan relevan dengan area tempatnya berdiri, yaitu Sudirman Central Business District (SCBD). Kami sendiri dapat melihat bahwa karakter Tomasso yang ramai namun ramah hadir dalam tiap kreasi menunya. Dan apabila Anda dapat merasakan karakter seorang chef dalam tiap hidangan yang tersaji, maka ini lebih dari cukup untuk menandakan bahwa Anda sedang makan di tempat yang tepat.


Osteria Gia

Pacific Place Shopping Mall, Lantai Dasar, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

Cavatelli with porcini and escargot, panna cotta




Kami bertanya kepada pramusaji, apakah hanya meja ini yang diberikan komplimentari empat buah bola kroket mungil dengan kentang yang meleleh bak krim di tengahnya? Jawabannya semua dapat. Tidak berapa lama, Oskar Uzelai, sang chef mendatangi meja kami dengan penuh antusias, menceritakan konsep Txoko yang ingin membuat siapapun yang datang kenyang dan pulang dengan bahagia.


Lalu, ia undur diri, dan menyapa lagi satu persatu meja tamu di lantai bawah restoran itu. Tindakan yang dilakukan chef Oskar menyentuh kami. Munginkah ini dikarenakan seni datang ke meja dan berbincang dengan pelanggan sudah punah di blantika kuliner di Jakarta?


Karakter ramah namun penuh semangat dirinya juga bisa kami rasakan dalam tiap hidangan yang kami pesan, seluruhnya mengedepankan kebanggan atas kuliner Basque. Mulai dari es krim mustard dengan rasa sedikit asam, manis dan gurih yang sangat cerdas mendampingi potongan ikan salmon yang melalui proses curing, hingga udang yang diiris tipis di atas piring, disajikan dengan saus bawang putih yang sudah manis, lalu dibakar bagian atasnya sehingga meninggalkan rasa smokey yang saling menyulam cantik dengan rasa natural manis dan aroma koral dari udang.


Saat kami bersiap-siap keluar dari meja di kunjungan terakhir kami, dua staf secara mengejutkan memohon maaf dengan nada yang Anda tahu bahwa itu keluar dengan penuh penyesalan, dikarenakan mereka merasa bahwa mereka kurang atentif hari itu, padahal kami tidak terlalu merasakannya.


Sepulang dari Txoko, kami sependapat, bahwa Oskar Uzelai telah membawa dampak positif ke dalam ekosistem di Txoko, di mana ketulusan untuk melayani terpancar hingga staf di lapangan. Makanan yang seru, pelayanan yang tulus, suasana restoran yang cerah, menjadi resep sempurna untuk Txoko sebagai salah satu tempat makan paling berkesan di tahun ini dan membawa kuliner Spanyol (Basque) kembali ke panggung.


Txoko

Jalan Suryo No.6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Menu Highlight:

Garlic prawns pret a porter, Grilled octopus with boletus cream, pork knuckle vizcaina sauce




Saat kami tahu bahwa Yabai telah melalui transformasi dari menu hingga logo dan desain restoran di tahun 2019, maka kami memutuskan untuk mendatanginya kembali dan merasakan transformasi secara langsung. Yabai sebelumnya di kepalai oleh chef Jodie Adrianto dan tongkat estafet diberikan kepada chef Kade Chandra.


Yabai yang sekarang hadir dengan suasana yang lebih relevan dengan konsepnya, yaitu Japanese gastropub, dengan ornamen-ornamen hingga ikonografi yang kreatif. Saat memasuki Yabai, kami aroma yang kami hirup mengingatkan ketika mendatangi izakaya di sebuah jalan kecil di Jepang.


Kami memesan cukup banyak, terutama aneka grilled items dikarenakan jiwa dari tempat makan ini seharusnya adalah aneka panggangan (robatayaki) apabila melihat dari konsep yang mereka usung. Benar saja, kami dibuat terbuai dengan tsukune milik Yabai. Paduan daging yang tepat dengan bumbu, juga rasionya pas sehingga tidak terlalu padat atau pun terlalu pecah, tidak terlalu kering namun juga tidak terlalu lembut. Lapisan saus tare di luarnya yang terkaramelisasi, serta dicelupkan ke kuning telur yang meleleh, sungguh kenikmatan duniawi yang membuat kami ingin lagi dan lagi. Tare teba age, yaitu sayap ayam yang digoreng hingga bagian luarnya renyah tipis, meninggalkan daging dalam yang masih juicy, terlapisi dengan tare yang lengket dan pekat, serta dicelupkan ke mayonnaise dengan tobiko – membuat kami melupakan sayap ayam yang selama ini kami coba.


Yabai membuktikan, bahwa terkadang transformasi itu diperlukan oleh sebuah restoran apabila ingin mencapai sebuah tujuan. Bahkan hingga terakhir kami memasuki tahap diskusi penilaian, tsukune dan sayap ayam milik Yabai tak bisa kami lupakan.


Yabai

De Ritz Building, Lantai Ground, Jl. HOS Cokroaminoto No. 91, Menteng, Jakarta Pusat

Menu Highlight:

Teba age, tsukune dan aneka panggangan.

Kevindra Soemantri sebagai editor kepala juga turut mewakili dua individu penting yang ikut dalam proses pencicipan dan pemilihan Hottest Openings 2019, Sharima Umaya dan Archie Narendra.

331 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png