The Cool Young Farmers: Berkenalan dengan Pendiri Saux Farm dan BBQ Mountain Boys

Bagaimana Hedi Rusdian dan Gianjar Saribanon ingin mengajak anak muda kembali bertani dengan pedekatan outdoor activities dan barbecue.


Hedi Rusdian dan Gianjar Saribanon | Saux Farm

Apabila dahulu pekerjaan petani masih dianggap oleh banyak generasi baby boomer hingga Gen-Y sebagai pekerjaan yang erat hubungannya dengan hal negatif seperti kemiskinan dan ketidakberdayaan, banyak dari generasi millennial yang berpendapat sebaliknya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengambil sekolah hingga ke negara luar untuk pulang dan menggarap lahan tani atau perkebunan. Ada beberapa pula yang banting stir dari pekerjaan impian untuk langsung turun tangan membantu dan melatih para petani mengelola usaha mereka. Salah satu kisah unik adalah yang dilakukan Hedi Rusdian dan Gianjar di Saux Farm dan Youtube mereka, BBQ Mountain Boys.


Sangat aktif di Instagram mereka, Hedi dan Gianjar ibarat seniman muda yang berlabuh menjadi petani. Pembawaan serta pendekatan mereka sangat muda, kasual serta ‘hipster’. Alih-alih coffee shop atau streetwear store, foto-foto mereka berlatar belakang pepohonan yang tinggi dan rimbun, aliran sungai, serta kegiatan outdoor barbecue atau menyeduh kopi di tengah perkebunan.


Nama Hedi Rusdian awalnya memang sudah dikenal, bukan di dunia kuliner, namun di dunia kreatif dikarenakan ia adalah pendiri dari Fourspeed Metalwerks, yang merupakan perusahaan perhiasan yang sudah digunakan oleh selebritas dunia seperti tattoo artist Kat Von D, skater Steve Caballero hingga grup band Metallica. “Pada awalnya saya mulai merasa jenuh dengan rutinitas di perkotaan,”ujar Hedi kepada Top Tables. “Akhirnya saya bertemu dengan teman lama saya, Gianjar. Ia dan keluarganya memiliki latar belakang sebagai petani dan punya hobi bercocok tanam. Dari ketemu dengan Gianjar, akhirnya kami berdiskusi dan akhirnya mendirikan Saux Farm. Produk pertama kami adalah varietas biji kopi Arabica yang kami tanam di dalam hutan dengan ketinggian 1000 - 1500 mdpl,” jelasnya.


Pada tahun kedua bisnis mereka, Saux Farm melihat sebuah isu fundamental yang meresahkan: yakni bertumbuh besarnya coffee shop di perkotaan namun belum banyaknya pertumbuhan petani kopi. Hal ini tentunya mengakibatkan ketimpangan dalam hal supply dan demand, sehingga impor pun banyak dilakukan.


Masalah ini sendiri juga tidak hanya terjadi kepada kopi, namun juga beras yang pada sepanjang tahun 2018 Indonesia masih mengimpor beras sebanyak 2,25 juta ton dengan nilai US$1,03 miliar. Hedi dan Gianjar pun akhirnya mengubah fokus Saux Farm dari usaha kopi menjadi tempat yang bisa menginspirasi anak muda untuk mulai kembali bertani. “Kita masih dihantui dengan image bahwa petani itu miskin, petani itu tidak keren dan kotor, tidak menyenangkan dan masih banyak lagi. Dari situlah kami akhirnya memulai dengan membuat aktivasi online di Youtube dengan nama BBQ Mountain Boys di tahun 2018.” Terang Hedi kembali.


Melihat dari video-video yang dikeluarkan oleh BBQ Mountain Boys, terlihat bahwa mereka berdua betul-betul mengedepankan suasana natural namun fun yang sebenarnya bisa didapat dengan menjadi petani. Lingkungan bekerja yang natural seharusnya dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani masa depan, belum lagi dengan ilmu pengetahuan serta kreativitas yang semakin berkembang. Ikon dari Saux Farm dan BBQ Mountain Boys sendiri adalah sebuah outdoor creative space dengan kabin kayu yang sering dimanfaatkan untuk menjamu tamu. “Dalam video kami, kami ingin menceritakan tentang gaya hidup petani yang memiliki segudang kegiatan yang disebut sebagai modern outdoor lifestyle. BBQ hanyalah salah satu dari banyak kegiatan sebagai petani tersebut selain off-road hingga eksplorasi alam.”


Di Indonesia sendiri, kegiatan agrikultur seperti bertani, berkebun dan beternak memang masih sangat grass root dan belum banyak dilirik oleh banyak masyarakat modern. Padahal banyak sekali yang bisa digarap dari memiliki usaha agrikultur tersebut. Seperti Bumi Langit di Yogyakarta yang berhasil memanfaatkan konsep pertanian permakultur mereka menjadi daya tarik wisata sembari menyebarkan nilai-nilai kebaikan kehidupan yang mutual antara manusia dengan alam. Experience adalah kunci dari memperkenalkan pengalaman agrikultur kepada masyarakat menurut National Museum of American History.


Australia pun melakukan hal ini untuk memperkenalkan produk pertanian mereka. Negara ini giat melakukan farming tour untuk wisatawan dan media lokal dan internasional. Seperti di wilayah Margaret River, Western Australia, di mana perkebunan wine, peternak madu dan lobster air tawar, hingga petani buah memiliki experience center yang umumnya merupakan restoran atau cafe yang menggunakan produk-produk hasil tani dan ternak mereka. “Kita ingin mengubah persepsi tentang petani di Indonesia.” Ujar Hedi.


Untuk waktu sendiri, mereka berdua mendedikasikan waktu di saat weekend. Dengan misi besar di tangan, tentunya bukan perkara yang mudah bagi Hedi Rusdian dan Gianjar untuk mengubah persepsi yang sudah terbangun selama puluhan bahkan ratusan tahun. Namun bagi mereka tidak ada yang mustahil. “Di sini kami bergerak secara independen tanpa dorongan dari siapa pun, dan kami tidak mengharapkan hal yang muluk-muluk. Karena bagi kami perubahan itu bisa dilakukan mulai dari diri sendiri. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.” Ujar Hedi Rusdian.


Apabila kalian tertarik untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Saux Farm dan BBQ Mountain Boys atau ingin ikut berpartisipasi bisa menghubungi +62-857-0301-5340 atau kunjungi Instagram mereka di @saux.farm dan @bbqmountainboys

Oleh Top Tables

2,520 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png