Terpikat oleh Bakmie Mpek Tjoen

Kali ini saya mengunjungi Mpek Tjoen, restoran bakmie baru di Jakarta Selatan.


Ruang makan di Mpek Tjoen. | Top Tables

Ketika restoran yang mengedepankan eksklusivitas bahan baku Spanyol bernama Javanegra buka di Jalan Kramat Pela yang terkenal macet dan padat, banyak orang yang mempertanyakan. Namun tidak perlu waktu lama untuk food enthusiast di Jakarta mengakui bahwa Javanegra merupakan salah satu restoran Spanyol terbaik di kota raksasa ini. Restoran yang dimiliki oleh Andrea Peresthu itu dikenal dengan makan malam mereka yang privat dan intimate. Tentu saja menyajikan bahan baku premium, seperti aneka keju, olive oil terbaik hingga Jamón ibérico (daging ham dari Iberia) yang bisa mencapai harga US$ 2.000/paha.


Ketika pribadi yang sama menciptakan restoran bakmi, apakah yang terjadi? Lahirlah Mpek Tjoen.


Lokasinya hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari Javanegra, tepatnya di Jalan KH Ahmad Dahlan. Lagu Lir Ilir dari Jawa Tengah yang diaransemen ulang secara jazz langsung menyentil telinga saya yang sedang memesan di counter. Interiornya sangat modern, minimalis, dan seperti Javanegra, didominasi oleh kayu berwarna krem serta semen beton yang keduanya sudah dipoles dengan sangat halus. Ia maskulin namun juga feminim. Segalanya terkesan familiar, apalagi counter kayu sebagai beverage counter, seakan Javanegra memiliki saudara lain.


Counter kayu halus yang minimalis | Top Tables

Untuk makanan, Mpek Tjoen menjadikan bakmi sebagai bintang, walaupun mereka juga memiliki nasi goreng hingga roti maryam yang disajikan dengan kari ayam. Hanya ada sekitar 15 menu di sini, tidak berlebihan. Di Mpek Tjoen, pelanggan diberikan tiga pilihan ukuran bakmi: kecil, sedang dan yang besar. Ukuran ini bukan dalam konteks porsi melainkan ketebalan dari bakmi mereka yang seluruhnya homemade. Saya punya beberapa ekspektasi ketika memilih untuk makan di sini, seperti rasa yang spot on dan juga pemilihan bahan baku.


Selain Javanegra, restoran Andrea Peresthu yang lain yaitu Daun Muda yang terkenal dengan cita rasa pedas aromatik khas Manado dan Palembang. Keduanya sangat mengedepankan kualitas bahan baku serta rasa yang berani. Saya pun senang, karena di Mpek Tjoen keduanya juga tidak luput dari perhatian.


Tiap helai bakmi terlapisi minyak bawang dengan baik, sehingga tiap seruput penuh dengan rasa. Bakmi yang cenderung kenyal dan chunky, daging ayam rebus yang lembut, lembab dan menyerap bumbu, beberapa helai daun ketumbar yang aromatik, semuanya pas dan tidak berlebihan. Namun ada dua hal yang juga menjadi pembeda dari bakmi ala Tionghoa sejenis: penggunaan jeruk lemon cui dan sambal yang bercita rasa asam seperti yang sering digunakan dalam repertoire kuliner Melayu.


Berbeda dengan jeruk lemon atau jeruk nipis, lemon cui yang sering digunakan di makanan Kalimantan dan masyarakat Tionghoa di Sumatera memiliki rasa yang mirip jeruk peras namun dengan aroma lemon yang lembut. Beberapa tetes jeruk ini seketika meningkatkan profil rasa bumbu bakmie, belum lagi sambal pedas asam yang menambah kesegaran. Kombinasi keduanya membuat aftertaste menjadi bersih dan segar, tidak greasy sebagaimana makan bakmie pada umumnya.


Semangkuk bakmie di Mpek Tjoen | Top Tables

Ada satu lagi yang saya rasa merupakan kegemaran dari Andrea Peresthu juga turut dihadirkan di restoran ini, yaitu jeruk Kalimantan yang segar. Di Javanegra juga Andrea menyajikan minuman jeruk peras, namun berbeda genus yaitu antara valencia atau navel. Memang terdengar sederhana, namun bayangkan hal ini: Anda habis berada di bawah panas terik ibukota, lapar, haus, semua menumpuk. Lalu Anda disuguhkan segelas jeruk yang segar, dengan bulir halus dan rasa sitrus yang natural, dingin, manis alami. Saya yakin segelas jeruk tersebut akan menjadi salah satu hal terbaik di hari itu untuk Anda.


Hal-hal kecil di dalam menu seperti inilah yang menjadikan sesuatu yang sederhana menjadi spesial. Terkadang banyak yang masih menganggap sepele pentingnya mengedepankan kualitas bahan baku, semua fokus kepada teknik semata.


Mpek Tjoen mengingatkan saya kembali bahwa bahan baku yang baik, di tangan orang yang tepat juga, akan menghasilkan hidangan yang penuh kebaikan, a real good food. Eksekusi bahan baku sejatinya akan menentukan kualitas seorang chef itu seperti apa. Terkadang, yang harus dilakukan seorang chef tidak lain hanyalah mengedepankan rasa, aroma serta unsur natural dari sebuah bahan baku.


Bakmie dan bakso yang punya tekstur baik, kombinasi aroma dan rasa yang beriringan, dinikmati bersama jeruk peras dengan kualitas serta temperatur yang tepat, bukankah ini lebih dari cukup? Tentu saja dengan harga yang masih terjangkau, Mpek Tjoen lebih dari cukup untuk bisa dibilang sebagai restoran bakmi modern yang - sama seperti lagu Lir Ilir yang saya dengar di awal - berkesan.


ALAMAT

Jalan KH Ahmad Dahlan No.31, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

(+62) 813 8181 8231


HARGA

Rp 40.000 - Rp 80.000/person. Tergantung banyak dan jenis menu yang dipesan.


DETAIL

Cocok untuk makan perorangan atau beramai-ramai. Memiliki lahan parkir yang cukup.


MENU REKOMENDASI

Bakmi ayam dengan pangsit rebus. Jeruk Kalimantan.

Oleh Kevindra P. Soemantri, co-founder dan restaurant observer Top Tables.


Disclaimer: Top Tables datang tanpa diundang, secara anonim dan kami membayar sendiri makanan yang kami pesan.

478 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png