Terima Kasih Sunyi: Cafe yang Membuktikan Bahwa Teman Difabel Mampu

Sunyi Coffee House & Hope mempekerjakan dan mendorong teman difabel untuk terjun di dunia food and beverage.


Sunyi Coffee House & Hope |Top Tables

Matahari saat itu sangat terik, panas bukan main di suatu Jumat. Setelah mencermati sisi Jalan RS Fatmawati pelan-pelan, akhirnya saya sampai di tempat tujuan, yaitu sebuah coffee shop tersembunyi yang sama sekali tak memiliki papan penunjuk atau logo bernama Sunyi Coffee House and Hope (Sunyi).


Seperti namanya, keadaan saat itu masih sangat sepi dikarenakan jam sholat Jumat baru saja selesai. Namun facade tempat ini yang aerodinamis serta outdoor seating yang tertutup memberi keteduhan yang cukup. Apabila dunia makanan sudah sangat kompleks untuk dipelajari, minuman sudah seperti semesta sendiri. Kopi, teh, wine, liquor, bir, semua memiliki cerita dibaliknya serta craftsmanship yang tidak main-main. Saya sendiri masih banyak belajar untuk hal minuman.


Namun mengapa saya memutuskan untuk menulis tempat ini? Ada satu alasan kuat yang dapat dikemukakan: Sunyi adalah coffee shop yang dengan penuh kebanggaan mempekerjakan tunarungu dan tunadaksa, serta mengedukasi pelanggan untuk bisa berinteraksi dengan mereka.


Tentu perasaan grogi dan canggung pastinya muncul, karena siapa yang tahu apa yang harus saya hadapi. Bagaimana saya ingin memesan? Apa bahasa isyarat dari “saya ingin pesan teh ya?” Bagaimana bila nanti saya salah menggerakan tangan? Apakah mereka akan tersinggung? Apakah saya akan terlihat clueless dan bodoh? Seluruh pertanyaan itu bermain dalam pikiran saya.


Ketika saatnya tiba, saya pun masuk ke ruangan dalam yang terbilang cukup kecil. Nuansanya menggambarkan namanya, sunyi. Hanya suara mesin kopi dan dentingan gelas yang sesekali memecah keheningan. Musik pun dibuat minim, hanya seperti bisikan angin.


Namun di balik meja counter, dua individu difabel penuh semangat sedang menyiapkan minuman dengan sebaik mungkin. Giliran saya untuk memesan datang. Saya melirik dinding sebelah kanan yang menunjukkan alphabet dari bahasa isyarat. Saya berusaha mengingat adegan-adegan dalam serial Switch at Birth yang ditayangkan oleh Star World (sekarang Fox Life) delapan tahun yang lalu, yang mengisahkan keluarga dengan anak tunarungu.

Ada satu gestur yang saya ingat, terima kasih.


Saat pelanggan di depan saya sudah mendapatkan pesanannya, atensi dari pegawai pun datang ke saya. Rupanya mereka memiliki seorang lagi personil yang bertugas juga sebagai penerjemah bagi tamu dan pegawai tunarungu. Sungguh menarik. Saya pun memesan dua menu saja, nasi dengan ayam goreng mentega serta kopi dengan proses cold brew dengan lemon.


Menurut salah seorang pegawai, tiap komponen di restoran dipikirkan untuk mendukung teman disabilitas. Seperti pintu masuk yang memiliki ukuran untuk kursi roda, jalur guiding block berkontur yang dimulai dari depan hingga dalam untuk tunanetra, serta ukuran meja yang mendukung tunadaksa.


Bagian outdoor Sunyi | Top Tables

Di bagian dinding outdoor area juga terdapat puisi yang ditulis dalam huruf Braille yang sekaligus menjadi aksen luar ruang. Seiring saya menyeruput cold brew dengan lemon yang sedikit terlalu manis sehingga menutupi rasa kopi yang dasarnya lebih fruity, pelanggan satu persatu mulai berdatangan, menunjukkan bahwa Sunyi Coffee House & Hope ini memang sudah memiliki pelanggan yang setia.


Di wilayah Cinere, Depok, sebelumnya sudah terlebih dahulu ada cafe yang bernama Deaf Fingertalk yang sudah ada sejak tahun 2016. Dua tahun setelahnya, Kopi Tuli yang mempekerjakan kawan tunarungu pun juga dibuka di wilayah yang sama yaitu Cinere. Sesungguhnya saya sendiri kagum dengan mereka yang memiliki inisiatif ini, karena pada dasarnya dunia hospitality seharusnya merupakan dunia yang tidak mengenal batasan dikarenakan fundamental yang saling melayani.


Sembari menunggu nasi ayam mentega yang sudah dipesan lebih dari dua puluh menit yang lalu, saya melihat bagaimana Sunyi Coffee House and Hope secara tidak langsung tergabung dalam gerakan baru di dunia yang mendukung kaum difabel untuk bisa bekerja di industri restoran dengan kapasitas dan kemampuan mereka masing-masing. Restoran Universo Santi di Spanyol menjadi salah satu yang pertama di negara itu yang merekrut hampir seluruh karyawan difabel. Sementara restoran Alma by Juan Amador di Singapura yang mendapatkan satu bintang Michelin, sempat dipimpin oleh chef Haikal Johari yang merupakan seorang tunadaksa, sebelum akhirnya ia mendirikan restorannya sendiri.


Puisi dalam huruf Braille | Top Tables

Sudah lapar, salah seorang pegawai mendatangi saya dengan membawakan sebuah cookies cokelat yang agak besar. Mungkin saja ini seperti tanda ‘maaf telah menunggu lama’. Terima kasih, balas saya dengan gestur bahasa isyarat. Mulut saya pun mengunyah cookies berwarna cokelat yang bagian atasnya pecah berkerak cantik seperti pola marmer yang baru saja dibawakan ke meja. Dalam beberapa detik, rasa cokelat yang setengah meleleh jatuh ke lidah saya. Adonan cookies itu juga pekat, intense dengan rasa cokelat yang pahit dan manis bergiliran. Teksturnya chewy, similar dengan mengunyah American fudge brownie. Membuat saya ingin memesan lagi untuk dibawa pulang.


Ayam mentega itu akhirnya datang sesaat saya memutuskan untuk pergi menuju pertemuan selanjutnya. Ia dilapisi oleh tepung yang pas dan keemasan, sementara saus mentega itu cenderung manis dan membutuhkan tendangan gurih yang lebih. Tentu karena ini adalah coffee shop, tidak bijak bila menilai hanya dari makanan saja. Walaupun saya pergi dari Sunyi dengan terburu-buru, hati ini senang melihat yang dilakukan sang pemilik dengan tempat ini.


Terkadang kita lupa, bahwa nilai sesungguhnya dari sebuah tempat makan adalah fungsi restorasi. Betul bila dalam hal makan dan minum minim impresi (kecuali cookies cokelat yang sangat baik itu), namun kepercayaan saya akan masa depan manusia Jakarta yang semakin baik dalam dunia kuliner ini meningkat. Apabila restoran dan cafe yang jumlahnya puluhan ribu di Jakarta ini bisa menerapkan sebagian saja dari yang dilakukan oleh Sunyi, maka kota ini dapat menjadi kota percontohan ekosistem food and beverage yang adil untuk semua kalangan di Indonesia.


ALAMAT

Jalan RS Fatmawati Raya, No. 15 (tepat di seberang Mars Kitchen, Snapy dan Total Buah)

Instagram: @sunyi.coffee


HARGA

Rp 50.000 - Rp 70.000/person. Tergantung banyak dan jenis menu yang dipesan.


DETAIL

Outdoor area cocok untuk beramai-ramai, sementara bagian dalam cocok bila sendiri atau minim rekan.


MENU REKOMENDASI

Chocolate cookies, kopi susu pandan, lemon zest cold brew.

Oleh Kevindra Soemantri, restaurant observer dan co-founder dari Top Tables


Disclaimer: Top Tables datang tanpa diundang, secara anonim dan kami membayar sendiri makanan yang kami pesan.

127 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png