Terima Kasih Potato Head Jakarta

Updated: Mar 12, 2019

Setelah 10 tahun, salah satu restoran yang memiliki kontribusi dalam membentuk lanskap dining di Jakarta ini resmi tutup.


Facade Potato Head Jakarta di pusat perbelanjaan Pacific Place | CitySeeker.com

Satu dekade yang lalu, tepatnya di awal tahun 2009, lanskap kuliner Jakarta masih cenderung stagnan. Sangat jarang adanya restoran baru yang dibuka, apalagi yang menyajikan makanan kontemporer, terdengar tabu dan asing. Wilayah Pantai Indah Kapuk (PIK) pun masih cenderung dikenal sebagai wilayah perumahan elit saja. Kemang, ya, wilayah Kemang Raya tetap sebagaimana identitasnya: hub creative urban dan ekspatriat serta salah satu lokasi mencari makanan Western terbaik (terima kasih Toscana, CASA dan KOI.)


Tahun 2009 juga menjadi tahun di mana Susilo Bambang Yudhoyono terpilih kedua kalinya menjadi presiden Republik Indonesia dengan wakilnya Jusuf Kalla. Dunia entertainment pun juga dikejutkan dengan meninggalnya “The King of Pop”, Michael Jackson di bulan Juni. Bahan obrolan pokok tiap pertemuan masihlah didominasi dengan gosip dan politik, belum makanan. Sejak ditutupnya Kafe Tenda Semanggi (KTS) di tahun 2002, wilayah Sudirman Central Business District (SCBD) seakan kehilangan salah satu kepribadiannya sebagai destinasi tempat makan ibukota. Namun hal itu tentunya segera berubah dengan hadirnya sebuah restoran dengan nuansa eklektik, racikan cocktail yang mantap, menu makanan - terutama dessert - yang ketika itu terbilang sungguh kreatif bernama Potato Head di tahun 2009.


Potato Head, nama itu tanpa menunggu lama langsung merayap masuk ke dalam percakapan kaum urban Jakarta. Nama yang terdengar witty dan playful, sangat kontras dengan kebanyakan nama upscale restaurant di Jakarta yang saat itu masih bernuansa formal, elegan, hingga berbau filosofis. Restoran ini adalah kreasi dari seorang art enthusiast bernama Ronald Akili, bersama dengan restaurateur Jason Gunawan.


Sebelum menjadi sebuah hospitality imperium seperti sekarang, dengan lebih dari enam properti restoran di Indonesia, Singapura sampai Hongkong, serta satu boutique hotel bernama Katamama, grup ini memulainya dengan Potato Head di Pacific Place, Jakarta Selatan.



Bagian Dari Food Renaissance


Dapur Potato Head Jakarta pada awalnya dipimpin oleh Antoine Audran, chef Perancis yang namanya sangat dikenal di kancah fine dining Jakarta. Chef Antoine sebelumnya dikenal dengan restoran Java Bleu miliknya di wilayah Fatmawati, yang pernah menjadi buah bibir pada masanya. Dengan reputasi Antoine sebagai salah satu chef terbaik di Jakarta, serta konsep yang menawarkan suasana yang chill, kasual namun tetap chic, seakan menjadi resep sempurna kepopuleran Potato Head sejak awal.


"Era itu tempat makan belum seperti sekarang. Dining masih banyak didominasi oleh hotel dan shopping mall," ujar Jessica Eveline, manajer operasional dari restoran KAUM Jakarta yang memulai karirnya tepat 10 tahun lalu sebagai pegawai magang di Potato Head Jakarta. Tahun 2009 dianggap sebagai dimulainya demam kuliner di ibukota, sebuah dunia baru yang sebelumnya dianggap tidak terlalu penting. Sepanjang tahun 2009 hingga 2011, bagaikan ombak yang tak diduga datangnya, restoran berkonsep upscale dining mulai menjamur, terutama di wilayah Jalan H.R Rasuna Said seperti Bluegrass, OtelLobby hingga JackRabbit. Bistro Baron dengan menu Perancis klasik dan Kitchenette di Plaza Indonesia, hingga Union Brasserie di Plaza Senayan yang mengambil lokasi Palem Cafe yang merupakan cafe hits di akhir 90-an pun dibuka sekitar tahun 2010 - 2011.

"Ketika itu sebelum saya dan suami menyaksikan indie band tampil di wilayah Bengkel, kami pasti mampir ke Potato Head dulu," kenang Nadya, seorang editor media digital yang sekarang sudah menjadi ibu dengan satu anak. Hal tersebut memang dimaklumi karena SCBD saat itu belum dipenuhi dengan bar, club dan restoran seperti sekarang. Wilayah Senopati pun juga masih menjalankan fungsinya sebagai jalan pintas menuju pusat kota.


Evolusi Potato Head Menjadi Potato Head Family


10 tahun telah berlalu dari awal diresmikannya "anak pertama" dari Potato Head Family. Ya, grup ini pun sekarang lebih dikenal dengan nama Potato Head Family, tambahan kata yang diperlukan untuk menggambarkan semakin besarnya anggota keluarga Potato Head. Ketika awalnya Potato Head berdiri lalu diikuti dengan banyak restoran lainnya, semakin lama terbentuklah perusahaan yang memayungi banyak restoran-restoran tersebut seperti Union Brasserie, Loewy dan Cork & Screw yang menjadi satu di bawah payung Union Group, begitu pula Potato Head serta satu lagi raksasa lifestyle dining dan club yaitu Ismaya.

Ketiganya berhasil mendominasi lanskap upscale-lifestyle dining di Jakarta, menjadi yang terdepan dalam memperkenalkan kaum urban dengan sebuah pengalaman baru yang kompleks dalam hal makan: trifecta dari food, service dan ambiance (music dan dekor.)


Baju kolaborasi Potato Head dengan Green School | PTTHead.com

Selain boutique hotel Katamama di jantung Petitenget, Bali, grup ini juga turut meluncurkan fashion brand yang tiap desainnya mencerminkan karakter yang vibrant, dinamis namun tetap santai. Hal ini menunjukan bagaimana keseriusan Potato Head Family untuk benar-benar masuk ke dalam area lifestyle di luar industri hospitality. Hal inilah menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara Potato Head Family dengan restaurant group lainnya yang menjamur di Jakarta. Penguatan dari segi branding sangat terlihat dan terasa di dalam group ini. Fakta ini mungkin tidak lepas dari tangan seorang Ronald Akili yang secara nasional juga dikenal dengan kecintaannya yang tinggi terhadap dunia seni – terutama visual dan seni murni – yang akhirnya secara natural ikut menjadi DNA dari usaha yang dibangunnya.


Ketika yang lain belum memikirkan, ia dan rekan-rekan sudah terlebih dahulu membuka jalan. Selain Potato Head yang bisa dianggap sebagai salah satu pionir lifestyle dining di Jakarta post-reformasi, ia juga unggul menjadi pembuka jalan dari restoran dengan core burger. Ketika saat ini restoran berkonsep American burger atau gastropub burger joint mulai menjamur seperti Lawless Burger di Kemang, Le Burger di SCBD, Roast Beef Gusto di Panglima Polim, Three Buns sudah terlebih dahulu menempati lokasi di Jalan Senopati Raya sejak tahun 2015. Sebuah langkah yang terbilang visioner.


Interior dari Three Buns | Threebuns.com

Terima Kasih Potato Head Jakarta


Namun terkadang, ada hal yang tidak bisa kita duga saat berbicara tentang kuliner di ibukota. Tepatnya kemarin, 10 Maret 2019, Potato Head Jakarta, outlet yang memulai semuanya resmi tutup. Hal ini tentu mengejutkan bagi siapapun yang telah menjadikan Potato Head Jakarta sebagai salah satu tempat favoritnya. Tidak menutup kemungkinan, bisa saja restoran ini menjadi saksi perjalanan seorang direktur atau general manager sebuah perusahaan multinasional yang pada tahun 2009 lalu masih bekerja di level menegah. Dari ia meniti karir hingga berhasil, restoran ini menjadi bagian penting dari hari-harinya: saat ia melepas penat, saat ingin makan enak selepas gajian, hingga merayakan keberhasilan sebuah proyek atau promosi.


Kabar yang mengejutkan ini mengingatkan kami dengan tutupnya salah satu restoran bertema Asia terfavorit di Jakarta, yaitu Eastern & Oriental (E&O) milik Union Group beberapa tahun silam. Hal ini juga yang terjadi kepada Potato Head Jakarta, mengejutkan. Tentu saja akan muncul banyak spekulasi dari berhentinya operasi dining destination di ibukota yang tentu kita sendiri tahu tidak pernah terlihat sepi. Memang, harga penyewaan ruang di wilayah SCBD merupakan salah satu yang tertinggi di Jakarta dengan bisa mencapai Rp 50.000.000,- per bulan/100m persegi. Namun sebenarnya ada banyak variabel yang memiliki andil dari keberlangsungan sebuah restoran di Jakarta. Mulai dari yang bisa dihitung di atas kertas seperti harga sewa dan harga bahan baku; hingga yang tidak bisa ditebak seperti kondisi ekonomi regional hingga perubahan tren konsumsi masyarakat, semuanya bisa mengambil bagian dalam mati dan tumbuhnya industri restoran.


Tentu saja tutupnya Potato Head di Pacific Place ini akan membuat kita bertanya-tanya, namun akan lebih baik juga bila kita melihat dari sisi lain. Properti milik Potato Head Family sudah semakin besar dan berkembang luas, dari dalam hingga negara luar. Tentu operasional dan fokus akan semakin dibutuhkan lebih lagi. Anggap saja masa bakti dari Potato Head Jakarta sudah selesai. Ia telah berhasil meletakan fondasi yang sangat kuat dan kokoh dari grup utamanya. Bukan cuma itu saja, restoran ini telah meninggalkan jejak yang manis dalam dunia food & beverage di Jakarta yang semakin hari semakin meriah.


“Ada satu hal yang tidak bisa saya lupakan dari Potato Head Jakarta sejak pertama saya bekerja di sini, 10 tahun yang lalu. Wanginya yang khas, atmosfer ruangan, pilihan music, rasa kue muffin, hingga area pateo luar yang menampilkan riuh Jakarta secara utuh.” Tutup Jessica sembari mengenang.


Oleh Kevindra Soemantri, penulis kuliner dan restoran serta co-founder dari Top Tables.

1,137 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png