Tentang Haka Dimsum di Kemang

Haka Dimsum memberikan makanan yang baik dengan elemen lain yang masih dapat ditingkatkan.


Wilayah Kemang memang sejak beberapa tahun terakhir sedang mengalami kebangkitan kembali dalam statusnya sebagai destinasi tempat makan urban. Dari poke bowl, burger, Australian brunch-slash-coffee shop hingga sekarang yang saya datangi adalah dim sum.

Haka Dimsum yang berada di jalan Kemang Selatan VIII ini adalah cabang kedua. Yang pertama berada di wilayah BSD, Tangerang Selatan.


Datang ke Haka Dimsum meyakinkan saya bahwa ada tiga rumus tempat makan baru sekarang yang setidaknya salah satu dari pasti diaplikasikan: lokasi yang agak tersembunyi,  jalan masuk seperti gang kecil, serta yang mecolok adalah tempelan poster retro atau vintage yang tersebar di mana-mana.


Haka Dimsum berada di lantai atas sebuah deretan ruko dengan suasana yang menggambarkan pribahasa mati segan hidup tak mau. Ruang makan dibuat dengan sederhana, polesan beton dan semen yang meninggalkan kesan seperti sebuah ruangan seadanya di pelosok Hong Kong atau Penang yang dialih fungsikan sebagai tempat makan dadakan. Pemilihan warna merah dan biru yang kontras cukup unik, memberi semangat yang cukup di dalam ruang yang terasa dingin ini.


Evolusi street food China-Hong Kong memang sepertinya sedang terjadi di Ibukota. Mulai dari Bubur Cap Tiger di Cikajang, Demie Bakmi dan Bakmie Tiga Marga, serta sekarang Haka, melengkapi trifecta antara bubur, bakmi dan dim sum dengan branding yang modern. Menu Haka sendiri memang menjual dim sum klasik yang dapat Anda temukan entah itu di sebuah restoran di Pasar Baru atau gang kecil sekitar Nathan Road, Hong Kong. Seperti hakau, feng zhua / ji jiao (dimsum ceker ayam), hingga shiau mai. Namun ada pula kreasi Haka seperti Bakmi Daging Sapi Haka yang menurut menu mendapatkan inspirasi dari bakmi di Kuala Lumpur serta onde-onde wijen hitam.


Satu hal yang saya sadar ketika sedang menyusuri menu adalah gangguan dari pecahan suara yang terkungkung di dalam ruangan tanpa lapisan akhir dinding ini. Saat masih sepi tak apa, namun di kala ramai cukup mengesalkan. 


Cheong fun Medan di Haka | Top Tables

Tak berapa lama saya sudah mengunyah dimsum kaki ayam yang datang dengan ukuran yang cukup besar. Menu ini terlihat di masak dengan baik, bumbu menyerap, daging serta kulit dengan mudah lepas dari sekitar tulangnya. Onde-onde wijen hitam juga memberikan ide baru bahwa dimsum masih dapat dikreasikan lebih lagi dan tak hanya menu template itu semata, masih bisa menambah lagi elemen baru dalam repertoire yang sudah banyak variasi. Ketebalan kulit luar yang pas memberikan kerenyahan yang tepat kepada lapisan onde-onde, di mana di dalamnya lelehan wijen hitam yang creamy muncul dengan spektrum rasa umami sekaligus asin manis yang tidak berlebihan.


Menu kembali ditelusuri. Minuman sarsaparilla Badak khas Medan sudah di depan mata bersama dengan cheong fun Medan yang dibanjur dengan saus oranye merah menyala serta uyen lumpia keemasan yang menandakan rerenyahan. 


Baik, ada satu hal. Banyak restoran yang kurang atau bahkan tidak memperhatikan fungsi dan peran menu yang sangat penting dalam sebuah restoran. Menu merepresentasikan seluruh aspek dalam restoran, dari feel dan mood hingga makanan. Ketika tidak ada waiter yang melayani Anda (atau ketika Anda sedang malas berbicara) menu-lah yang menjadi alat komunikasi dengan para tamu. Maka hal sekecil apapun yang ada di dalam menu akan turut membentuk image restoran di mata pengunjung. Merujuk ke Haka, saya mengerti maksud mereka untuk membawa nuansa fun dan kasual dalam restoran. Tapi penamaan di dalam menu terasa berlebihan.


Satu, dua halaman masih bisa terasa lucu atau bahkan orang tidak sadar bahwa tokoh yang disebut dalam menu adalah fiksi. Namun menuju halaman-halaman berikutnya ibarat menyaksikan kredit film setelah habis nama pemeran, ingin segera saya percepat. Tapi saya mengerti, karena beberapa orang di balik Haka Dimsum jugalah berkecimpung di dunia food and beverage anak muda, jadi esensi fun terkadang masih menjadi bagian yang harus ada walaupun mungkin tidak diperlukan.



Sembari memperhatikan menu cheong fun sudah perlahan saya lahap. Tekstur uyen yang renyah memberikan kontras yang cukup terhadap lembutnya lembaran cheong fun. Siraman saus asam manis ini menjadikan cheong fun Kanton menjadi sangat identik dengan masyarakat Medan. Belum lagi ada minuman Badak, warga Medan pasti senang.


Tapi sebagaimana restoran yang dikelola oleh anak muda, mereka harus lebih sering hadir agar terhindar dari permasalahan seperti inkonsistensi atau mungkin yang lebih berbahaya, makanan yang tidak matang. Bisnis restoran bukanlah bisnis yang bisa dilepas begitu saja tanpa diperhatikan terus menerus, terlebih ketika makanan adalah nilai jual utama - seperti dimsum. 


Keluar dari Haka, saya merasa restoran ini masih bisa dimaksimalkan dari beberapa elemen seperti di atas. Sembari menunggu taksi di depan, saya tidak bisa memungkiri kehadirannya di sini akan membantu menghidupkan kembali distrik ini.


ALAMAT

Jalan Kemang Selatan VIII, Ruko Belle Point, No.44A, Kemang, Jakarta Selatan

@hakadimsum


HARGA

Rp60.000 - Rp 150.000/person. Tergantung banyak dan jenis menu yang dipesan.


DETAIL

Tidak cocok sebagai tempat dimsum untuk mengajak manula karena tidak adanya akses kursi roda, serta menggunakan tangga. Tidak ramah tuna daksa.


MENU REKOMENDASI

Cheong Fun Medan, Char Siu Bao, Onde-Onde Wijen

Oleh Kevindra P. Soemantri, founder dan restaurant observer Top Tables.


Disclaimer: Top Tables datang tanpa diundang, secara anonim dan kami membayar sendiri makanan yang kami pesan.

755 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png