Siska Silitonga: Dari Chili Cali Sampai Bon Appetit

Oleh Top Tables

Sudah sejak lama kita menginginkan agar makanan Indonesia dikenal secara global. Namun, sedikit yang mengerti bahwa memperkenalkan makanan ke sebuah negara lain tidaklah cukup sebatas melakukan demo masak di kedutaan besar atau festival yang notabene hanya terjadi sesekali saja. Harus ada sebuah tindakan yang permanent dan dalam jangka waktu yang panjang. 


Beberapa waktu lalu Top Tables mendapatkan informasi tentang seseorang yang melakukan ini di era modern, memperkenalkan masakan Indonesia secara grassroot di negara tersebut, tepatnya di Pesisir Barat, Amerika Serikat. Namanya Siska Silitonga, wanita asli Indonesia yang sekarang menetap di San Francisco dan memiliki usaha food truck serta katering bernama Chili Cali.


Nama Siska Silitonga pun semakin dikenal setelah tulisan panjangnya yang penuh emosi tentang minimnya pengenalan akan makanan Indonesia dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain muncul di Bon Appetit, majalah makanan terbesar di Amerika Serikat yang diterbitkan oleh Conde Nast (yang juga menerbitkan Vogue serta GQ). 


Top Tables berhasil melakukan wawancara elektronik dengan Siska, menggali lebih dalam cerita tentangnya memperjuangkan cita rasa Nusantara di Amerika.


Siska Silitonga

1. Siska, sejak kapan Siska pindah dari Indonesia dan kalau boleh tahu apa alasannya?


Saya pindah ke San Francisco dari tahun 2006 untuk mengambil master studi media independen yang bebas dari pengaruh pemerintah atau kepentingan perusahaan. Saya belajar di sini karena sebelum di Amerika, saya adalah seorang jurnalis/koresponden di Beijing untuk KBR 68H. Pada saat itu, saya merasa banyak yang kita bisa pelajari dari media-media independen di Amerika. Saya semangat ingin bisa jadi jembatan budaya untuk Indonesia dan dunia sebagai seorang jurnalis.


Saya ke Amerika cuma punya modal dari tabungan gaji US$2000. Saya beli tiket sekali jalan ke San Francisco (saya masih simpan tiketnya sebagai memori). Karena biaya sehari-hari di sini sangat tinggi, saya mulai cari kerja di restoran-restoran di San Francisco sambil sekolah. Saya ada latar belakang tukang masak, karena dulu membantu Ibu saya yang pernah punya bisnis katering kecil-kecilan, dan juga punya warung makan di Tanjung Priok. Jadi, yah , tidak terlalu susah untuk dapet kerja koki di restoran-restoran ini. Saya "under the table" namanya, karena tidak punya izin kerja. Tapi nekat saja, karena kalau tidak kerja susah sekali bertahan di Amerika, dan saya tidak mau menyusahkan orang tua di Jakarta. Malu dong, sudah besar masih minta uang dari keluarga. Ha!


2. Anda membuka Chili Cali, mengapa? Dan apakah kesulitan yang dihadapi?


Saya drop-out sekolah saya karena dapat tawaran kerja dan disponsori visa kerja oleh Intel di Silicon Valley untuk bantu departemen media mereka. Saya sehari-hari membuat video dan materi training. Kemudian saya pindah kerja ke Verizon, juga di Silicon Valley. Di sana saya kerja sebagai manajer program beberapa aplikasi multimedia. Saat itu karir saya menanjak. Tapi tetap saja saya tidak puas, dan merasa kesepian. Karena rindu bicara bahasa Indonesia, rindu makanan Indonesia, terutama rindu keluarga. 


Di San Francisco dan Bay Area tidak terlalu banyak orang Indonesia (tidak seperti Philadelphia misalnya), dan juga penduduk Indonesia tidak konsentrasi di satu daerah. Restoran Indonesia yang saya tahu cuma dua, satu di San Francisco, satu di Berkeley. Saya mulai ada ide untuk membuat pop-up di rumah saya seminggu sekali, undang teman-teman dekat untuk mencoba masakan Indonesia. Tahun 2015 di pop-up saya yang pertama, yang datang cuma 10 orang. Menu pertama saya bikin sop buntut ala shabu-shabu. Harga tiket cuma cukup untuk balik modal beli bahan makanan. Yah pelan pelan makin sering buat pop-up ini di rumah, kadang sampai dua kali seminggu, sambil masih kerja di kantoran. Walaupun badan lelah, tapi hati senang dan puas karena saya mulai ada komunitas.


Kadang ada tamu orang Indonesia jadi bisa ngobrol bahasa Indonesia. Advertasi saya simpel, cuma pakai sosial media. Saya juga sering kolaborasi dengan teman-teman dari industri masakan di sini. Karena termasuk kecil komunitasnya kita saling kenal dan saling suport. Ada rasa persaudaraan. 


Karena susah cari bahan masakan Indonesia, saya mulai ada ide untuk buat bumbu-bumbu inti Indonesia dan dijual di pasar AS. Saya cari petani di California yang menumbuhkan kunyit, kemiri, jeruk purut, lengkuas, serai, bawang merah, cabe rawit. Karena menurut saya bahan masakan yang segar akan selalu lebih enak dari pada beli import dan beku. Saya menggalang dana lewat Kickstarter dan terciptalah bumbu-bumbu dasar ChiliCali di tahun 2017.


Saya tinggal di California yang sangat penuh dengan tanah pertanian. Saya merasa tidak perlu cari bumbu yang beku, dan import dari Indonesia. Sebagai seorang chef, kita harus bisa memakai bahan yang lokal supaya bisa suport ekonomi lokal, dan menjadi kontributor rantai makanan yang berkelanjutan (sustainable). Sekarang bumbu-bumbu ini sudah mulai dijual di toko-toko lokal di San Francisco dan sekitarnya. 


Nama ChiliCali ini menjadi brand saya. Setelah meninggalkan Silicon Valley dan fokus 100% di bisnis makanan, saya mulai resmi menamakan bisnis saya ChiliCali. Kita buat katering makan siang untuk perkantoran, dan juga even-even pribadi seperti pernikahan, ulang tahun, acara kantoran, dan lain sebagainya. Kemudian saya dapat kontrak untuk buat food truck (truk makanan) di satu kantor di Silicon Valley, yang setiap harinya memasak untuk 300 orang. 


Kesulitan yang saya rasakan adalah kota San Francisco semakin lama semakin tidak bersahabat dengan industri makanan. Karena banyaknya bisnis teknologi disini, dan banyak perusahaan yang besar seperti Facebook, Tesla, Google, semua harga-harga naik drastis. Seperti harga menyewa dapur komersial, atau harga izin izin untuk buka bisnis, harga menyewa restoran. Juga semakin susah mencari staff karena banyak yang tidak mau tinggal di San Francisco karena sewa rumah mahal. Restoran-restoran di sini terpaksa harus menaikkan harga makanan, supaya bisa membayar staf dan ongkos-ongkos bisnis yang lain.


Bumbu masakanan ChiliCali menjadi dijual dalam bentuk toples kaca | Siska Silitonga

3. Bagaimana tanggapan banyak warga di kota Anda tinggal tentang kuliner Indonesia? Boleh ceritakan juga bagaimana Anda bisa menulis untuk Bon Appetit?


Penduduk di San Francisco Bay Area sebenarnya sangat senang dengan makanan internasional. Buktinya banyak sekali restoran Thailand, Jepang, Korea, Cina, India, dan Mexico. Hampir setengah masyarakat San Francisco adalah orang Asia (34%). Tetapi, karena sedikit sekali orang Indonesia di sini, jadi kita kurang representasinya.

 

Kuliner Indonesia sangat enak. Rasa di lidah komplit, ada asam, manis, pahit, dan ditambah dengan rasa umami seperti belacan dan pedas. Semua yang datang ke pop-up saya senang sekali dengan sambal terong, sambal udang, rendang, nasi goreng, mi goreng, sate, soto. Makanan Indonesia ada miripnya dengan kuliner Thai, Cina, India, jadi sebenarnya masyarakat lokal sudah akrab dengan konsepnya tapi memang harus di edukasi mana yang membedakan masakan kita dan kuliner lain.


Edukasi ini yang sangat penting. Karena sekarang saya memiliki peran untuk memperkenalkan Indonesia melalui makanan. Terkadang menu pop-up saya fokus untuk makanan Batak, karena saya orang Batak. Saya pernah masak saksang, pohul pohul, ikan mas arsik, sampai juga masak dali (air susu kerbau yang dimasak seperti keju). Tamu-tamu saya, baik orang AS atau Indonesia sama sekali belum pernah makan masakan tersebut. Lalu soal tempe, sekarang laku sekali di pasar San Francisco karena banyak yang menjadi vegetarian. Saya selalu mengingatkan tamu saya kalau tempe itu aslinya dari Indonesia. Saya kaget juga ternyata tidak terlalu banyak yang tahu fakta tersebut. Saya juga 100% tidak memakai produk yang ada kelapa sawit. Karena saya sangat prihatin atas terancam kepunahan banyak fauna Indonesia. Dan saya jelaskan ini kepada tamu-tamu saya.


Untuk saya inilah aspek yang "fun" atau "challenging" yang membuat saya kreatif setiap hari. Menurut saya makanan lebih enak dinikmati dan juga dikenang kalau ada purpose-nya. Mungkin karena ini tamu-tamu saya bertambah dan bukan hanya masyarakat AS saja, tetapi juga semakin banyak masyarakat Indonesia di sini yang mulai suport dan datang ke pop-up saya. Mereka mungkin merasa kalau datang, mereka juga ikut suport visi dan misi ChiliCali. Kita sebagai orang imigran semua rindu punya komunitas, dan ingin ada representasi dan bangga oleh kuliner dan budaya negara kita walaupun Amerika sangat jauh dari Indonesia.


Untuk Bon Appetit sendiri, saya bisa menulis artikel untuk mereka dikarenakan mereka terima submisi essai (karangan), dan saya pitch tulisan saya mengenai kehidupan saya sebagai chef di San Francisco dan juga sebagai representasi budaya negara saya. Editornya sangat senang dengan pitch ini dan mereka setuju, Kuliner Indonesia harus lebih banyak representasinya di Amerika. Saya beruntung ada latar belakang jurnalis, sehingga walaupun saya tidak punya dana untuk memasarkan ChiliCali dengan membayar iklan, saya bisa menggunakan tulisan saya untuk memasarkan misi dan visi ChiliCali. 


4. Sebagai diaspora Indonesia, Anda sudah punya andil memperkenalkan cita rasa Nusantara ke kota Anda tinggal di Amerika, namun apa yang Anda masih rasa kurang dukungan dari Indonesia untuk yang Anda lakukan?


Ini rumit. Indonesia dan Amerika adalah negara kapitalis. Sukses dan kegagalan bisnis seharusnya tergantung bisnis tersebut. Tetapi, seperti pemerintah Thailand di tahun 1980 meminjamkan dana untuk masyarakat Thailand di Amerika untuk membuka restoran-restoran sebagai salah satu cara memasarkan budaya Thailand di sini, alangkah bagusnya kalau pemerintah Indonesia mungkin bisa membuat program seperti ini. 


Menurut saya kenapa penting sekali pemerintah kita fokus untuk membantu bisnis-bisnis Indonesia yang sudah ada di Amerika? Kami di sini adalah duta besar budaya Indonesia. Memperkenalkan betapa enaknya makanan kita, betapa kayanya sumber daya alam kita.


Nasi tumpeng ala ChiliCali | Siska Silitonga

5. Bagi Anda sendiri, apakah goal utama dari perjuangan Anda ini?


Goal utama saya, saya ingin membangun sebuah Balai Kota di San Francisco Bay Area. Tempat untuk komunitas Indonesia berkumpul dan juga masyarakat Amerika Serikat untuk mengenal budaya kita melalui makanan, musik, film, dan aktifitas. Ini berupa restoran yang punya ruang acara. Kita bisa bikin kursus masak, kursus tarian traditional, menayangkan film-film Indonesia, dan juga punya store front yang menjual produk Indonesia dan makanan Indonesia yang saya masak, dan juga mungkin ibu-ibu di komunitas Indonesia di sini. Kalau ada yang mau buka bisnis tapi tidak tahu caranya gimana bisa datang ke Balai Kota, kita bisa buat lokakarya -- inilah misinya. Saya masih sangat percaya dengan peribahasa Indonesia bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Doakan saya ya, karena sekarang ini sedang dalam tahap mencari investor untuk visi Balai Kota ini. Tapi saya yakin pasti akan menjadi kenyataan. 

171 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png