Revisiting the Legends: Nippon-Kan


Kali ini, Kevindra Soemantri mengunjungi Nippon-Kan, salah satu restoran Jepang kelas atas di Jakarta.


Oleh Kevindra Soemantri

Saya sedih. Inilah perasaan saat memasukin pintu depan kompleks hotel yang menjadi rumah bagi Nippon-Kan, salah satu legenda restoran Jepang kelas atas di Indonesia. Rasa sedih yang saya rasakan bukan tanpa alasan, bukan karena rasa iba atau miris - lagi pula keluarga pemilik hotel ini juga tak perlu dengan rasa kasihan saya.


Saya sedih, karena ini adalah pertama kalinya lagi setelah belasan tahun saya tidak mampir ke kompleks Hotel Sultan (atau yang sebelumnya bernama Jakarta Hilton International). Setiap melewati hotel ini di Jalan Gatot Subroto atau Jenderal Sudirman, saya hanya bisa mengingat masa lalu keluarga saya. Bahkan foto-foto saat menikmati pizza sambil menggambar di akhir minggu di sisi kolam di area bernama Pizzaria juga masih tersimpan baik.



Namun kali ini saya datang untuk menyambangi Nippon-Kan, sang tetua restoran Jepang kelas atas Ibukota. Wajah Nippon-Kan tak berubah, dengan dinding tanggung berwarna putih, serta pagar cokelat gelap dan dua obor hitam di depan. Facadenya mengingatkan saya dengan rumah tinggal keluarga Kerajaan Jepang saat berkunjung ke kawasan Imperial Palace di Chiyoda, Tokyo. Dua tahun setelah Jakarta Hilton International berdiri di 1976, Nippon Kan lahir. Restoran ini, bersama dengan Shima di Hyatt Aryaduta serta Keio di Hotel Borobuddur Intercontinental menjadi tiga serangkai restoran Jepang ala hotel bintang lima yang menyasar para konglomerat dan gourmands masa itu.


Sekitar pukul 13:00,saya sampai di lobi restoran yang hening. Aroma kayu dan bambu langsung memenuhi udara, maklum, mulai dari lantai, kisi-kisi pintu, kursi dan meja semua terbuat dari kayu sejak restoran dibuka. Saya dibawa berjalan melalui lorong ruang-ruang tatami, cukup lama, cukup jauh.


Di ruang makan utama, hanya saya tamu seorang diri. Jam sudah menunjukkan pukul 14:00, tidak ada lagi tamu yang hadir. Saya hanya ditemani oleh seorang sushi chef berusia paruh baya, yang sejak tadi berada di belakang sushi bar, membersihkan apa pun yang bisa ia rapihkan; seorang waiter yang berdiri beberapa langkah dari saya, diam sambil melirik televisi yang sepertinya sedang memberitakan selebritas; dan satu set Nippon-Kan Bento yang memenuhi meja.



Nippon-Kan sendiri masih tetap menyajikan masakan Jepang klasik sedari pertama restoran ini berdiri. Menurut salah satu pegawai, pada masa jayanya, Nippon-Kan pernah menjadi kontributor revenue tertinggi dari 13 outlet food and beverages yang ada di dalam kompleks hotel, klub dan apartment seluas 13 hektar ini.


Karena alasan klasik inilah saya memesan hanya satu hidangan, ikon dari restoran: yaitu Nippon-Kan Bento. Bento ini datang dengan menghadirkan enam macam makanan, di antaranya chawan mushi, tempura udang dan sayur, salmon dan tuna sashimi, hingga sayuran rebus seperti lobak dan lotus. Tidak ada yang salah dengan semua komponen ini, seluruhnya pas. Renyahnya pas, gurihnya pas, temperaturnya juga pas. Walaupun memang tidak memberikan kesan yang kuat, Nippon-Kan Bento benar lah menjadi favorite karena kesan familiar yang muncul saat menyantapnya.


Untuk keluarga atau rekan bisnis, Anda juga bisa memilih untuk duduk di ruang tatami serta menyantap pilihan live Teppanyaki, tempura, serta yakiniku.



Saat mencoba berjalan menuju toilet, saya melalui lorong pendek. Ada sebuah kesan yang timbul dari hadir kemari, yaitu sebuah kesan saat Anda mengunjungi rumah sesorang yang sudah lama tidak menerima tamu. Bagus, mewah, namun tak mengundang -- walau pun sang tuan rumah dengan baik melayani.


Saat melanjutkan makan, saya tidak bisa melupakan hawa dingin dan temaram yang ada di sini, seakan tempat ini menyimpan penuh kenangan dan kemeriahan masa lampau, sehingga saat masa itu sudah lewat, kenangan tinggal tetap di tiap sudut ruangan. Hal ini membuat saya kembali lagi percaya bahwa salah satu kunci dari suasana restoran adalah jiwa manusia yang ada di sana. Apabila restoran itu ramai, akan terasa hidup. Namun bila sudah tak lama didatangi orang, maka akan terasa asing.



Besar harapan bahwa Nippon-Kan bisa kembali lagi dikunjungi oleh para penyuka masakan Jepang, terlebih sekarang ini kuliner Negeri Sakura sudah menjadi salah satu cuisine favorite warga Jakarta. Sambil menuju ke pintu keluar, dituntun oleh pramusaji di sini, saya tersenyum kecil karena senang bisa menginjakkan kaki kembali di tempat ini. Hanya saja bila dahulu bersama-sama keluarga, sekarang hanya seorang diri.

NIPPON-KAN

Kompleks The Sultan Hotel & Residence Jakarta, Jalan Gatot Subroto, Gelora, Jakarta.


Jam Buka:

Senin - Minggu

11:30 - 22:30


Detail Lainnya:

Restoran ini bisa diakses melalui pintu Gatot Subroto atau via berjalan kaki dari lobi utama The Sultan Hotel.

119 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png