Revisiting The Legends: Kikugawa

Revisiting The Legends adalah seri Eating Out yang khusus mendatangi kembali tempat-tempat makan ikonik dan legendaris, mencari perspective baru atau pun sekedar mewartakan eksistensinya.

Oleh Kevindra Soemantri


Saya berdiri di pinggir jalan kecil Jalan Cikini IV, beratapkan Langit Jakarta yang mendung kelabu. Celingak celinguk, penasaran mengapa parkiran rumah dengan fasad Jepang ini tak ada mobil. Pak satpam memberikan senyum, "Silakan mas," pertanda restoran ini rupanya masih buka.

Di sinilah saya, melangkah di atas jembatan kayu pendek melengkung, sedikit menundukkan kepala, untuk memasuki pintu Kikugawa, restoran Jepang pertama di Ibukota. Wanginya khas, kayu dan bambu, sedikit mengingatkan dengan aroma rumah lama yang penuh nostalgia. Sebetulnya apa yang membuat saya kembali lagi ke sini? Kami dari Top Tables merasa bahwa terkadang diperlukan kunjungan kembali ke restoran atau rumah makan yang tergolong ikonik dan beberapa legendaris. Setidaknya kami ingin memberikan tanda kepada pembaca tentang keberadaan mereka sekarang, masih hadir di tengah-tengah dominasi restoran modern.



Di kursi kayu itu saya duduk, kembali mengingat-ingat kapan terakhir kali berkunjung kemari. Namun ada satu hal yang berubah: tidak ada lagi kimono. Dahulu apabila Anda datang ke Kikugawa, waiters berbalut kimono akan melayani Anda. Mereka masih cekatan, pembawaan masih positif, bukan seperti pegawai restoran yang beraura mati segan hidup tak mau. Saya cukup kagum dengan Kikugawa ini. Interior walaupun tidak diubah namun masih terawat. Lantai batu kali yang agak gelap mengkilap memberi kesan dingin tetap dipakai.


Satu persatu tamu berdatangan untuk makan siang, kebanyakan pekerja kantoran.Rasa penasaran pun timbul kembali, apa mungkin masakan di restoran yang sudah berdiri 50 tahun ini masih cukup prima sehingga masih banyak tamu yang berdatangan. Seakan bisa membaca pikiran saya, sekejap satu set chicken teriyaki dengan gindara teriyaki hadir bersama dengan yakitori ayam.


Gindara dan chicken teriyaki set

Saya tersenyum kecil ketika wangi teriyaki yang manis dan legit itu semilir di depan wajah, familiar. Gindara teriyaki dimasak cukup baik walau bisa sedikit dikurangi waktu memasaknya agar tetap lembut. Teriyaki ayam yang dibalur dengan tepung cukup tipis dan digoreng baik, tidak soggy. Namun penggunaan dada ayam alih-alih paha sepertinya kurang tepat dikarenakan paha ayam memiliki tekstur lebih membal yang pas bila dipadukan dengan renyahnya kulit. Tapi untuk saus teriyaki sendiri cukup baik dan berhasil memunculkan rasa nostalgia, entah itu yang digunakan oleh gindara atau pun yakitori ayam.


Sambil menggigiti daging paha ayam yang berselang seling dengan daun bawang yang telah terpanggang hingga manis, saya mencoba membayangkan di masa itu saat restoran ini baru buka. Bagaimana respon masyarakat Jakarta dengan restoran Jepang seperti ini? Pahamkah apa yang harus dipesan? Siapa saja yang datang saat itu? Dan lain sebagainya. Menarik ya, makan di sini justru bikin imajinasi bermain kencang menembus batas waktu. Karena yang saya lakukan di Kikugawa, yaitu makan, juga dilakukan oleh kakek nenek kita di masa itu. Pertanyaannya, apakah masih sempat generasi berikutnya merasakan duduk di sini, di bawah plafon pendek, melihat-lihat lukisan Jepang yang kecil-kecil digantungkan di sekitar ruangan, mencicipi rasa teriyaki klasik Kikugawa.


Chicken yakitori

Bagi saya, Kikugawa memang tidak dapat dibilang sebagai yang terbaik di Jakarta. Namun sebagai tempat makan, terbaik bukanlah keharusan untuk bisa menjadi favorit. Eksistensinya selama 50 tahun menunjukkan ada banyak faktor yang bisa membuatnya bertahan. Mungkin apabila Anda meninginginkan sushi moriawase atau nigiri yang cermat Kikugawa bukan tempatnya. Namun apabila yang Anda cari adalah masakan Jepang yang familiar, tidak neko-neko, Kikugawa bisa jadi tepat untuk Anda. Lagipula setelah akhirnya berkesempatan untuk makan di sini lagi, saya dapat melihat dalam waktu ke depan akan mampir lagi entah itu untuk gyoza salmon atau sepaket gindara teriyaki.


KIKUGAWA

Jalan Cikini IV No.13, Jakarta Pusat (021) 3150668


Menu Rekomendasi:

Yakitori ayam, teriyaki set dan salmon gyoza


Detial Lainnya:

Ramah keluarga, tidak memiliki private room namun bisa untuk acara tertutup

Kevindra Soemantri adalah chief editor dan restaurant observer dari Top Tables

151 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png