Ray Janson Radio: Stories from Hospitality Underbelly

Cerita chef Ray Janson yang sekarang lebih fokus memantapkan podcast miliknya bernama Ray Janson Radio. Dari chef muda sampai food writer bisa kamu dengarkan kisahnya.


Oleh Top Tables


Ketika kamu menghabiskan masa muda berada di kota Paris, menimba ilmu di sekolah kuliner ternama, mengasah kemampuan memasak di bawah nama-nama besar Dewa Kuliner Eropa seperti Joel Robuchon dan Rene Redzepi, pastinya memiliki restoran yang mengangkat gastronomi kelas atas menjadi misi utama bukan? Tidak ada yang salah dengan itu. Namun seorang chef muda bernama Ray Janson yang pernah mengalami itu semua – bekerja di Paris dan Copenhagen – memutuskan untuk mendirikan sebuah media podcast setelah cukup lama berkecimpung di balik dapur.


Ray Janson Radio Podcast yang lahir dari mengisi kebosanan rupanya berhasil untuk menjadi salah satu sumber informasi pelaku food and beverage muda di Indonesia, dari Jakarta hingga pulau Bali; dari pemilik restoran, chef, hingga maitre’d. Yang dilakukan oleh Ray Janson mengingatkan kami dengan sosok David Chang, chef pemilik restoran Momofuku di Amerika Serikat yang justru lebih intens di dunia media dengan mendirikan Lucky Peach tahun 2011 (namun ditutup pada 2017) hingga menjadi host untuk beberapa acara kuliner yang ditayangkan kanal Netflix.


Top Tables berkesempatan untuk berbincang secara daring dengan Ray Janson tentang bagaimana ia memutuskan untuk mendirikan Ray Janson Radio Podcast serta cerita-cerita menarik yang ia alami selama pengambilan konten.

1. Boleh ceritakan secara singkat latar belakang food and beverage Ray Janson seperti apa?

Kisah kuliner saya dimulai dengan kedua oma saya. Oma yang satu punya usaha catering rumahan. Setiap pagi, pasti saya bangun jam lima pagi dan ikut ke pasar sama dia sebelum sekolah. Di sana saya selalu tanya, “Ini sayur apa? Ini ikan apa? Buat dimasak apa?’’ Karena saya anaknya penasaran. Setelah pulang sekolah, saya seringnya di-drop di toko bakmie oma yang satu lagi. Di situ juga mainnya di dapur. Long story short, saya memang mau jadi chef dari kecil. Setelah lulus SMA, saya akhirnya berangkat ke Paris untuk sekolah masak. Di sana mata saya kebuka tentang the world of Gastronomy, and fell in love with it.

Saya pun bekerja di beberapa restoran yang punya kualitas tinggi, L‘Atelier de Joel Robuchon di Paris, Noma dan Kadeau di Kopenhagen, dan juga Quay di Sydney. Akhirnya saya balik ke Indonesia beberapa tahun yang lalu dan mendirikan restoran pertama saya, Feast. Sedihnya, restoran kami tidak bisa bertahan di pandemi ini. Tapi mau bagaimana lagi, onwards and upwards!

2. Apa yang akhirnya membuat Ray Janson memutuskan untuk bikin podcast khusus food?

Ray Janson Radio sebetulnya bukan podcast khusus makanan dalam konteks hidangan. Kita bahkan sangat jarang ngomong soal hidangan. Kita lebih ngobrol tentang orang-orang di industri ini yang justru sering kurang diperhatikan. Bukan cuma chef, tapi juga pemilik restoran, server, bartender, barista, dan sosok-sosok lainnya yang bekerja di industri food and beverages.

Sebetulnya proyek ini kami mulai dari iseng-iseng. Saya dan rekan waktu itu lagi duduk santai ngobrol waktu sudah jam larut di restoran. Pada saat itu Feast sudah berjalan satu tahun dan bisa dibilang sudah bisa bergerak sendiri lah, dan saya juga tidak harus ada di sana setiap hari. Saya bisa dibilang selalu dengerin podcast, lalu terpikir deh ide ini buat seru-seruan.

Awalnya kita sama sekali enggak punya rencana kalau podcast ini semuanya orang-orang di food and beverages. Tapi masalahnya hampir semua teman saya itu pelaku industri food and beverages, haha. Akhirnya kita mulai dengan topik itu, ternyata komentar dan respon bagus. Jadilah Ray Janson Radio Podcast ini topiknya food and beverages sekarang.

3. For a chef and culinary person, menurut Ray seberapa penting peran adanya konten di industri kuliner dan kenapa?

Untuk saya, tergantung kontennya apa. MasterChef Indonesia contohnya berhasil menginspirasi banyak orang untuk menjadi chef dan bikin profesi ini terlihat “cool”, jadi mereka sangat berhasil. Celebrity chef menginspirasi orang untuk memasak di rumah dan itu sangat penting. Jadi kembali lagi, konten seperti apa dulu.


Mulai dari chef sampai penulis makanan pernah jadi tamu di Ray Janson Radio| Ray Janson Radio Podcast

4. Sejauh ini, interview mana yang paling berkesan?

Baru-baru ini kita ngobrol sama Ray Adriansyah dari restoran Locavore. Itu sangat berkesan buat kita karena for a long time, we are a big fan of the restaurant and his team. Sekarang dia adalah satu-satunya restaurant di Indonesia yang masuk ke dalam daftar Asia’s 50 Best Restaurants.


5. Siapa wishlist yang ingin sekali diajak ngobrol di Ray Janson podcast?

Kalau chef internasional, saya berharap suatu hari nanti bisa ajak ngobrol mantan bos saya Rene Redzepi dari restoran Noma di Denmark. Tapi kalau di Indonesia sendiri, saya ingin sekali bisa mengajak om William Wongso. Jadwal beliau sibuk sekali sepertinya, haha.

6. You’ve interviewed many food and beverage personalities, apa pembelajaran terbesar yang bisa Ray ambil dari mereka?

Setiap pribadi punya cerita personal mereka. Pilihan yang telah kita ambil, kesalahan yang kita buat, seluruhnya punya andil dalam membentuk kita sekarang. Jangan sombong dan arogan, kalau kita sudah merasa jago, masih ada yang lebih jago. Begitu pun kalau ada yang merasa susah, masih ada yang lebih susah. Salah satu contoh adalah saya dulu sering cerita kalau perjalanan saya menjadi seorang chef penuh dengan tantangan dan kesulitan. Namun setelah saya ngobrol sama chef Indra Adi Saputra (bisa lihat episode 28 dan 29 di Ray Janson RadioPodcast), akhirnya saya melihat bahwa saya masih lebih beruntung dan tidak seharusnya untuk komplein.


7. Dari perspektif Ray Janson, bagaimana perkembangan food and beverages di Jakarta dan kota-kota lain selama 10 tahun ke depan, dilihat dari bermunculannya bakat-bakat muda?

Melalui podcast ini, saya sangat beruntung bisa bertemu banyak chef muda yang sangat passionate dengan seni memasak. Banyak juga chef Indonesia yang sudah kembali dari mengasah kemampuan mereka di luar negeri karena melihat kesempatan yang besar di sini. Jujur saya sangat bersemangat! Saya pun merasa bahwa industri ini di Indonesia sedang mengalami revolusi dan enggak sabra buat lihat apa yang bakal terjadi ke depan.

Kalau buat 10 tahun lagi, harapan saya pastinya standar dari industri food and beverages di Indonesia sudah mapan ya dari semua aspek.


8. Apa goal Ray Janson Radio Podcast ke depannya

Bisa didengar lebih banyak orang, atau mungkin punya studio sendiri. Kita aja masih rekaman di rumah saya, haha. Oh, dan juga pastinya bisa ngobrol sama lebih banyak orang yang menarik dan mungkin juga di luar food and beverages.

33 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png