Ratna Kartadjoemena, Sosok di Balik Kultur Potato Head Family

Updated: Sep 14, 2019

Bagaimana Ratna Kartadjoemena, Director of Cultural Development Potato Head Family memiliki andil dalam evolusi perusahaan menjadi bisnis berkelanjutan.

Di hari Jumat sore yang teduh dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa tanaman-tanaman yang terletak di depan Kaum, Top Tables diarahkan untuk menuju ruang makan bagian depan yang bergaya khas kolonial, membuat seolah-olah kami sedang mengunjungi rumah kawan lama, bukan bertandang ke suatu restoran. Top Tables disambut hangat oleh Ratna Kartadjoemena yang berpenampilan kasual menggunakan kemeja dari lini busana Potato Head pula.

Potato Head Family sudah eksis sejak tahun 2009, dimulai dengan restoran yang didirikan di Pacific Place Jakarta. Kini, portfolio yang dimiliki oleh Potato Head Family telah tersebar tak hanya di Indonesia, bahkan sudah turut meramaikan hospitality industry di Singapura dan Hong Kong. Hal ini tentunya menjadi kebanggaan bagi Indonesia karena tak hanya sekadar menambah pilihan bagai kaum urban Singapura dan Hong Kong, melalui portfolionya, perusahaan ini mengenalkan budaya Indonesia di restoran-restoran yang dimiliki.

Ditemani dengan batagor sambal kacang beserta es kelapa muda, Top Tables duduk dengan sosok yang penuh semangat bercerita mulai dari latar belakangnya, keputusan untuk pulang ke Bumi Pertiwi untuk bergabung dengan Potato Head, hingga bagaimana perusahaan berevolusi menjadi hospitality brand with a purpose dengan komitmen grup ini untuk memiliki dampak terhadap lingkungan sekitar.

Top Tables: Boleh diceritakan background dari seorang Ratna Kartadjoemena sebelum berkecimpung di hospitality industry?

Ratna Kartadjoemena: Awalnya saya tinggal di Amerika, lama tinggal di Washington D.C bekerja sebagai management consultant. Bisa dibilang waktu itu saya jack of all trades, mengerjakan banyak hal dari berbagai departemen dan industrinya beragam pula. Kebetulan S1 saya juga bisnis, jadi memang generic, marketing, finance, operations semuanya dipelajari. Biasanya yang bekerja sebagai management consultant setelah beberapa tahun bekerja pada kembali ke business school, sehingga saya pun mengikuti arus dan mau masuk ke business school juga.

Akan tetapi, kok kurang bersemangat ya karena yang nampaknya dipelajari mirip dan bingung sehabis sekolah bakal ngapain. Klien-klien saya yang ngomongin bisnisnya dengan semangat juga memacu saya buat jadi seperti itu, benar-benar mengerti apa yang terjadi di industri mereka ketimbang saya yang sebagai konsultan yang tidak terjun langsung di industrinya. Akhirnya teman saya ada yang menyarankan saya buat ambil graduate school di Cornell karena dia tahu bahwa saya tertarik dengan hospitality industry.

Saat itu, saya juga mulai mempertanyakan diri sendiri, apakah ingin seterusnya jadi konsultan atau tidak, dan saya ingin berkecimpung di bisnis. Tunangan saya yang sudah menjadi suami saya sekarang juga challenge saya, kalau mau bisnis, saya harus memahami angka-angkanya, sehingga saya pun akhirnya mengambil spesialisasi di real estate investment. Lulus dari graduate school, saya pun kembali menjadi management consultant kali ini di Ernst & Young namun kali ini lebih terspesialisasi di bidang real estate transaction, specifically in hospitality. Hal ini cukup umum karena sebelum pindah ke sisi owner, hendaknya mempelajari dulu dari segi bisnis mereka bagaimana. Setelah itu, saya bekerja di Starwoods Hotel (saat ini Marriott) dimana saya mengurusi hotel yang mereka miliki di West Coast dan ada beberapa di Asia. Tak lama setelah suami saya kembali ke Indonesia akibat kolapsnya Lehman Brother, saya pun kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Ronald Akili (founder Potato Head Family).

Top Tables: Sejak kapan mulai ada ketertarikan di hospitality industry?

Ratna Kartadjoemena: Selain memang di waktu senggang memang suka makan, suka jalan-jalan, saya dari kecil memang sudah senang main restoran-restoranan dan mimpi saya dulu ingin punya toko es krim sendiri.

Top Tables: Bagaimana cerita awal mula didirikan Potato Head Family?

Ratna Kartadjoemena: Potato Head awalnya bermula dari restoran di Pacific Place di tahun 2009 dan disusul dengan Potato Head Beach Club di tahun 2010 di Bali. Sebelum didirikan Potato Head Beach Club, sebenarnya sudah ada niat untuk membangun beach club sekaligus hotel namun akhirnya, beach club terlebih dahulu diluncurkan biar ramai dulu.

Tadinya mau bersamaan namun kita tidak mau dikira ini just another hotel. Saat saya pertama kali bicara dengan Ronald di tahun 2011, awalnya Katamama Hotel masih berupa gambar. I’m not really an entrepreneur, I don’t really come up with ideas then decide that I wanna build something, tapi saya lebih ke kalau ada ide yang saya memang passion di situ, I can help operationalize it. I see that Ronald has an amazing vision and I would like to help him out to get that rolling. Terlebih lagi saya juga ada pengalaman kerja di bidang hospitality dari segi ownership, kurang lebih tahu sedikit lah, walaupun saya tidak ada pengalaman untuk mengoperasikan semua itu seperti bangun brand dari awal, jadi benar-benar rolling up our sleeves.

Waktu bergabung, title saya Director of Development, basically membantu Ronald untuk set up the team to make this happen. Setelah Katamama sudah jalan, dalam waktu yang singkat, kami pun mulai membangun restoran-restoran lain seperti Potato Head Garage, Three Buns Jakarta, Three Buns Singapura, Potato Head Singapura. Perkembangan yang pesat dari awalnya 2 unit pun membuat kami banyak belajar dari kesalahan-kesalahan yang kami buat. Pelan-pelan, kami pun merapihkan business process di back end. Sembari merapihkan, kami juga terus revisit, apa sih Potato Head? Potato Head di Pacific Place sendiri awal mulanya tidak sengaja. Istri dari Ronald waktu itu baru selesai culinary school dan Ronald punya ide untuk membuat suatu tempat hang out. Tahun 2009 bisa dibilang restoran di Jakarta masih didominasi dengan restoran yang memiliki interior cantik dan nama-namanya elegan. Namun Potato Head muncul dengan nama yang berbeda dan dengan artitektur yang industrial. Untuk interiornya pun didominasi dengan barang vintage yang awalnya hanya merupakan koleksi pribadi.

Banyak yang menanyakan, Potato Head apa Indonesianya sih? Sebenarnya pendiri Potato Head meskipun lama tinggal di luar negeri, tetapi memperhatikan dari segi art, arsitektur dan itu tercermin di unit-unit dari perusahaan sendiri dengan unsur Indonesia yang lebih kontemporer. We also keep on evolving. Misal untuk Potato Head Beach Club kami terus melakukan perombakan dan di dalam kompleks Potato Head di Bali, kami juga akan mendirikan hotel baru yang akan launch within this year.

Kami pun sekarang sedang mengembangkan konsep Desa Potato Head di kompleks Potato Head Bali. It’s basically our own version of village. A creative village. Selain itu, kami juga akan mendirikan restoran baru di Katamama Hotel namanya Tanaman yang mengedepankan plant based menu dari local ingredients.

Top Tables: Boleh diceritakan juga awal mula Kaum? Kami melihat ini transformasi yang menarik, mulai dari Potato Head, Potato Head Beach Club, Three Buns kemudian Kaum yang mengedepankan unsur Indonesia

Ratna Kartadjoemena: Kami sejak awal sangat bangga sebagai produk Indonesia dan kami mau mengekspresikan itu. Perumusan R&D untuk Kaum memang dapat dibilang sangat lama, ide ini bahkan sudah sejak pertama Potato Head berdiri, dari awal kami sudah berangan-angan ingin memiliki restoran Indonesia atau unit yang memiliki unsur Indonesia lebih kencang. Orang-orang kan lebih mengenal PotatoHead itu western food dan kami ingin sesuatu yang berbeda, something that can go global, tidak sekedar untuk di lokal saja. Maka dari itu, begitu kami mendapatkan kesempatan di Hong Kong, kami sengaja untuk bukanya di situ terlebih dahulu sebelum membawa konsep ini ke Indonesia.

Kaum untuk makanannya sendiri we want to be as authentic as we can. This is our biggest push karena mendirikan dengan di bawah naungan Potato Head. Dari dulu, kami ingin mengimplementasikan konsep farm to table. Dengan adanya Kaum di Indonesia, akhirnya kami mulai langsung bekerja sama dengan petani.-petani. Beras yang digunakan di Kaum berasal dari Jatiluwih, kami membeli langsung ke petani tanpa perantara. Kecap pun kami membeli dari produsen kecil. Mungkin belum 100% semua kami beli dari produsen kecil, maka dari itu kami juga sedang push lagi.

Top Tables: Apa yang membedakan Kaum dengan restoran-restoran Indonesia lain? Kami juga melihat bagaimana Kaum memadukan kultur lokal tapi juga new interest on art dan ini menarik sekali. Apa ide di balik ini?

Ratna Kartadjoemena: Kami senang eksplorasi. Kami banyak bekerja sama dengan berbagai kolaborator, seperti dengan social enterprise dari berbagai daerah dimana kami membeli ingredients langsung dari mereka. Selain makanan, ekspresinya juga bermacam-macam. Kami membuat acara musik, disko, nonton bareng, lalu manifestasinya juga terlihat dari bagaimana kami meramu minuman kami dari jamu hingga cocktail. Kami juga berusaha membangun cerita di balik kolaborasi kami dengan para kolaborator untuk menarik orang-orang agar membantu social enterprise yang bekerja sama dengan kami. Kami memang restoran, namun kami ingin menjadi restoran yang dapat memperkenalkan budaya Indonesia yang bermacam-macam. Hal ini pun juga bisa dilihat dari unsur-unsur yang terdapat di restoran kami seperti weaving, ikat, kain-kain, musik yang diputar juga. Kendati demikian, kami percaya untuk memperkenalkan budaya Indonesia tidak selamanya harus secara tradisional, dapat juga budaya kontemporer.

Top Tables: Mungkin boleh dijelaskan lebih lanjut terkait komitmen Potato Head terhadap sustainability dan bagaimana implementasinya?

Ratna Kartadjoemena: Selain yang tadi sudah diceritakan di Kaum, kami sebenarnya bahkan telah mencoba untuk mengimplementasikannya secara pelan-pelan sejak Potato Head di Pacific Place, baru kami terapkan di Bali. Kemarin kami membuka restoran kami, yaitu Ijen yang terletak di Potato Head Beach Club. Konsep dari restoran tersebut zero waste, memang sih kami mencoba untuk mengadopsi filosofi ini ke seluruh restoran, namun karena sejak masih berupa konsep untuk Ijen ini sudah direncanakan sedemikian rupa, maka bisa dibilang ekspresinya paling kencang. Mulai dari menu dan bahan makanannya kami memikirkan bagaimana cara mengolah limbahnya bahkan ubinnya berasal dari materi yang telah kami recycle sendiri atau dengan kolaborator.

Kami terus bereksperimen untuk mengolah limbah yang kami hasilkan. Misalnya, di restoran kan overnight rice sudah tidak mungkin untuk disajikan lagi ke pelanggan, sehingga kami mengolahnya menjadi kerupuk. All of the shells and clams, we pound it dan dijadikan pakan ternak. Kami juga memiliki sustainabilism lab, dimana kami dapat bereksperimen dari barang-barang yang kami kumpulkan untuk dijadikan barang yang dapat digunakan di hotel kami. Penampakannya nanti dapat terlihat di hotel terbaru kami yang akan launching di Bali.

Top Tables: Bagaimana evolusi brand Potato Head hingga menjadi seperti sekarang? Apa saja nilai-nilai yang dibangun sejak awal di PotatoHead?

Ratna Kartadjoemena: Our brand is evolving. Memang dari awal kami sudah mendeklarasikan kalau kami a lifestyle company. Dulu memang lebih terlihat kalau kami lebih ke F&B outlets, hotels, but now, it could be a whole lot of things. Contohnya, experience dari Potato Head banyak yang terkait dengan musik seperti sun down circles, concerts, itu semua produk kami juga. Sama seperti produk lain seperti our clothes, our fashion line.

Dahulu, kami memiliki impian untuk membuka restoran di seluruh dunia. Kenyataannya, kami sudah mencoba membuka di Hong Kong, Singapura dan itu sama sekali tidak mudah, terlebih lagi kami kalau membuka sesuatu sangat detil, sampai perintilan benar-benar dipikirin. It’s impossible to do that by ourselves, especially kalau di luar negeri. Kalau punya partner pun apakah partner tersebut dapat menyamakan keinginannya sama persis dengan kami, itu sangat sulit. Berhubung saat ini kami juga memiliki lahan di Bali yang harus kami develop, oleh karena ini saat ini kami sedang fokus develop lahan ini, dengan desa ini, suatu desa kreatif yang hendak kami dirikan, lain daripada yang lain.

Untuk go global, strategi kami sudah berbeda terlebih lagi sejak kami rebranding. Untuk rebranding sendiri mungkin awalnya terlihat hanya dengan kami mengganti logo – namun sebenarnya dari dulu, sudah banyak perubahan sedikit demi sedikit yang kami lakukan. Penampakannya bukan dengan restoran di luar negeri lagi, tetapi, dengan produk-produk kami, dikenal di luar negeri seperti clothing line, music, semua lebih mudah dibawa. Makanan pun mungkin tidak harus membuat suatu restoran yang jalan, mungkin bisa dengan cara lain.

Untuk values, sejak kami mulai sebenarnya kami tidak pernah menulis di atas kertas terkait value yang kami miliki. Tetapi, saat kami mengobrol, selalu ada unsur yang sama: We want to impact the community. Hal ini waktu itu belum kami komunikasikan ke internal dan kami declare ke eksternal. Partner saya, Ronald pun mendukung dan memberikan kebebasan untuk bereksperimen supaya saya dapat menggunakan platform ini untuk berdampak terhadap masyarakat. He actually gave me an interesting role: Director of Cultural Development untuk membuat kultur perusahaan secara internal agar meresap, berhubung unit kami semakin banyak dan karyawan kami pun semakin banyak.

Setelah berapa tahun, baru kami mulai menuliskannya dan mengimplementasikannya.

Akhirnya, setelah mengalami revisi berkali-kali, kami pun mendapatkan value kami yang juga merupakan motto kami: Good times, do good. Potato Head is good times, good times meaning it manifests itself in the food, it has to be comfort food. We’ve tried to do fine dining before, but it didn’t really suit us. Kami ingin makanan dimana orang dapat makan kapan saja, they feel comfortable, they don’t feel uptight, they don’t need to dress up. We want people to have fun, we have an environment that is exciting and enjoyable and the music that they like. For the do good part, how can we make things better.

Top Tables: Apabila dipersonifikasi, Potato Head dalam bentuk manusia, seperti apakah dia?

Ratna Kartadjoemena: I would say, rebellious, fun, free-spirited, and dreamer.

Top Tables: Apa yang membuat Anda dapat setiap hari bersemangat dengan company ini? Mengingat industry F&B di Jakarta, Bali, Singapura, dan Hong Kong sangatlah dinamis

Ratna Kartadjoemena: It’s exciting that there are a lot more options out there. Berbeda sekali dengan dulu yang belum banyak pilihan khususnya bagi konsumen. We always want to be at the forefront, we always want to do something different, that means, kalau di luar sudah banyak yang berubah cepat, kami harus bergerak lebih cepat. Kami juga harus lebih kreatif. Kami juga tak memikirkan apa yang sudah ada di Indonesia, kami harus membuatnya juga, kami berpikir secara global. What’s out there globally, how can we stand out globally? Apa yang belum ada di luar?

Top Tables: Industry F&B di Indonesia sangat thriving, sehingga banyak sekali yang ingin menjadi hospitality entrepreneur. Ada pesan untuk mereka yang memiliki mimpi untuk menjadi hospitality entrepreneur?

Ratna Kartadjoemena: I guess be really true to yourself. Really know what your core strengths are, from there you know how to organize your business. Sometimes, it’s sexy doing this or that, but it’s not really your core strength. F&B bukan bisnis yang main-main, it looks fun, hype, tapi di balik semua itu, there’s a lot of things going on. You really need to understand why they go through it. Jangan sampai hanya memikirkan di suatu ketika saja. How do you sustain your business? That is actually the question that we face all the time – we’re always learning this, we always have to review the business, bukan berarti kami sudah menemukan jawaban itu. That’s something that we have to ask ourselves every day.

Oleh Sharima Umaya, editor-at-large dari Top Tables dan Eksploura.

1,041 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png