Jakarta:Ragam Makanan Sebagai Bentuk Pluralisme

Kami melakukan refleksi tentang apa arti makanan yang sesungguhnya bagi kota Jakarta, atau dengan kata lain, bagaimana makanan di kota ini menggambarkan Jakarta.


Oleh Kevindra P. Soemantri


Setiap menuju hari-hari spesial, adalah sebuah tantangan namun juga inspirasi bagi kami untuk membuat konten yang relevan dengan momen itu. Kali ini, kami ingin menulis sebuah konten yang menggambarkan hari jadi kota Jakarta yang ke-493, hampir lima abad lamanya. Namun apa daya, kami belum bisa mencari inspirasi keluar sebagaimana yang selalu kami lakukan, menyusuri tempat-tempat makan yang tersebar di kota raksasa ini bak pasir di lautan. Oleh karena itu pendekatan yang berbeda justru kami ambil: Kami melakukan refleksi tentang apa arti makanan yang sesungguhnya bagi kota Jakarta, atau dengan kata lain, bagaimana makanan di kota ini menggambarkan Jakarta.

Kota Tua Jakarta merupakan wilayah yang menjadi saksi sejak ratusan tahun lalu peleburan antar etnis dan budaya terjadi di kota Jakarta

Kami kangen dengan kegiatan berjalan kaki, keluar masuk Transjakarta dari berbagai koridor, menyusuri area pedestrian yang sudah lapang, bersinggungan bahu dengan manusia Jakarta lainnya, diterpa angin kencang yang bertiup di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi, bercakap sebisanya dengan petugas dari organisasi sosial yang tak pernah berhenti tersenyum dengan jaket merah atau birunya, hanya untuk kaki ini bisa masuk ke sebuah rumah makan atau restoran Ibukota. Sudah tidak terhitung banyaknya kami telusur rasa ke berbagai tempat makan di Jakarta dari semenjak saya sendiri memutuskan untuk menjadi penulis makanan. Namun ada satu hal yang selalu bisa membuat kagum hingga saat ini, yaitu begitu melimpahnya pilihan makanan di Ibukota.


Kita tahu bahwa lidah kita dimanjakan oleh aneka rasa yang tersaji di piring besar bernama Jakarta. Setiap saat, selalu saja ada kejutan-kejutan baru yang berhubungan dengan makanan untuk dicoba. Mulai dari masakan yang betul-betul baru dan umumnya untuk anak muda yang dibilang makanan masa kini, masakan twist dari hidangan daerah yang lebih familiar, hingga santapan dari negara asing yang menemukan fakta bahwa Jakarta dapat menjadi rumah baru bagi mereka. Ragam makanan di Jakarta bukanlah hal baru, bahkan banyak dari masakan Betawi sendiri yang merupakan campuran aneka budaya dalam satu piring. Jakarta adalah etalase Indonesia, bukan dari bentang alamnya. Jakarta tidak memiliki laut seperti di wilayah Indonesia Timur atau pun mulianya puncak gunung seperti Gunung Semeru. Hanya ada dua hal yang menjadikan Jakarta tepat disebut sebagai etalase Indonesia: Ragam suku bangsa yang ada, dan juga makanan.


Ada beberapa gelombang masuknya warga lain dari Jawa, Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan ke Jakarta. Yang pertama adalah masa colonial, yang kedua adalah setelah kemerdekaan dan pemindahan ibukota dari Yogyakarta ke Jakarta, hingga yang paling signifikan adalah Era Pembangunan di tahun 1970-1980 di mana lebih dari 2 juta warga daerah datang ke Jakarta dan membentuk lebih dari 40% penduduk DKI Jakarta saat itu (Badan Pusat Statistik Sensus Penduduk DKI Jakarta, 1971 – 1980; BKLH DKI Jakarta 1984). Banyak dari mereka yang menemukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan serta jasa, namun sebagian dari mereka memilih untuk mendirikan rumah makan atau warung makan, di mana inilah yang pada akhirnya menjadi cikal bakal Jakarta sebagai kota ragam makanan.


Di tengah-tengah banyaknya gerakan-gerakan ekstrimis anti keberagaman dan toleransi, makanan di Jakarta justru menjadi sebuah simbol yang menampar paham-paham tersebut. Makanan di Jakarta adalah bukti konkrit bahwa kota ini dan masyarakatnya adalah kota cosmopolitan yang menghargai serta merangkul segala bentuk perbedaan dan bersama-sama menikmatinya sebagaimana ragam hidangan yang tersaji di atas sebuah meja.

Keberagaman itu sedap dipandang dan sedap dirasa, layaknya sebuah rendang Padang, ayam woku Manado, sate kambing khas Tegal, asinan Betawi, pempek Palembang, daging asap dari Kupang, yang saling berbagi aroma di atas sebuah meja. Hanya mereka yang tidak bisa merasa yang tidak bisa menikmati keberagaman. Makanan di Jakarta memberikan sebuah statement, bahwa kota ini bukanlah milik satu atau dua kelompok saja, melainkan milik seluruh manusianya.



Hal ini yang pada dasarnya memberikan Jakarta sebuah pengalaman yang berbeda dari ragam kota kuliner lainnya di dunia. Apabila melting pot of food culture yang disematkan untuk beberapa destinasi kuliner internasional dengan ciri khas ragam makanan internasional yang ada di situ layaknya Singapura, kota New York, Hongkong dan Makau, melting pot of food culture punya arti yang berbeda untuk kota Jakarta. Kota ini bukan hanya memiliki ragam makanan dari negeri asing dari Timur hingga Barat, tapi juga ragam masakan daerah dari seluruh Nusantara sebagaimana kita ketahui. Sebuah resep yang sangat mumpuni untuk bisa menjadikan Jakarta sebagai destinasi kuliner global.


Inilah bagi kami arti yang sesungguhnya dari kota Jakarta dilihat dari ragam makanan yang tersaji di kota besar ini. Jakarta sejak dahulu bukanlah kota yang tertutup yang membatasi. Jakarta adalah kota yang merangkul dengan segala macam keruwetan dan keunikannya, layaknya sebuah gado-gado yang campur aduk namun justru di situlah kunci kelezatannya. Untuk seseorang bisa menemukan keindahan Jakarta memang tidak mudah, namun bila kamu punya kesabaran dan mau untuk terbuka, maka kamu bisa menemukan indahnya kota ini, dari manusianya, dari tata kotanya, dari energinya, atau seperti kami contohnya, dari menemukan banyaknya masakan lezat di tiap sudut kota.


Selamat ulang tahun DKI Jakarta yang ke-493.

57 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png