Planta, Tempat Lidah Berpelesir Rasa Mediterania & Indonesia

Sharima Umaya, editor-at-large dari Top Tables mengunjungi restoran terbaru dari portfolio Andrea Peresthu bernama Planta.

Hadirnya Menara Astra di daerah Sudirman yang merupakan pusat bisnis ibu kota tentunya bukan hal yang mengagetkan. Wilayah Sudirman sendiri selalu menarik untuk ditelusuri dengan berbagai jenis restoran yang tersembunyi di balik gedung-gedung megah perkantoran yang tersebar di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Setelah hadirnya Masanobu yang menjadi tonggak restoran berkelas yang ada di gedung ini, tak heran jika nama Andrea Peresthu muncul berikutnya, di mana ia turut meramaikan destinasi restoran di gedung ini dengan lahirnya Planta.

Top Tables mengunjungi Planta di Sabtu sore, waktu yang memang tidak populer untuk mengunjungi restoran khususnya yang berada di gedung perkantoran. Kendati demikian, saat saya memasuki Planta, dapat dilihat bahwa restoran ini cukup ramai dengan para pengunjung, ditambah lagi dengan beberapa meja yang sudah tertera label. Memasuki Planta, ada kesan bahwa saya dibawa ke sebuah restoran di destinasi tropis, kontras dengan Menara Astra yang memiliki interior dan eksterior modern avant garde urban.

Restoran yang terletak di lantai 2 memiliki interior yang didominasi oleh warna yang earthy dan memasukkan unsur-unsur tropikal dengan berbagai tanaman hijau yang terdapat di hampir seluruh sisi restoran. Satu hal yang menurut saya sangat konsisten di seluruh restoran yang dimiliki oleh Andrea Peresthu adalah bagaimana ia selalu konsisten dengan penggunaan furnitur kayu yang secara keseluruhan membuat interior dari restoran menjadi hangat.

Kehadiran saya di sore itu disambut oleh bartender yang menyapa dengan riang dan waiter yang langsung dengan sigap mempersilakan saya untuk duduk dan menyediakan tempat untuk menaruh tas saya. Saya duduk di meja yang terletak di tengah restoran, meja tersebut terletak di sebelah bar dan tak jauh dari pintu masuk dan juga kitchen. Sambil menunggu teman saya datang, saya kembali mengagumi interior restoran yang mengambil tema Tropical Nusantara and Mediterranean ini.

Saat teman saya sudah tiba, kami pun mulai memesan makanan yang akan kami santap. Satu hal kecil yang tim Top Tables sadari dari menu, di dalam menu, tercantum bahwa pengunjung dapat menginformasikan kepada staf di restoran apabila terdapat alergi pada bahan tertentu, sebuah detail ekstra yang menunjukan bahwa mereka peduli. Kami pun mulai menelusuri menu. Walau terlihat sigap, sepertinya waiter kami kurang mendapat edukasi yang lengkap mengenai menu, sehingga alih-alih puas dengan informasi, kami dibuat bertanya-tanya. Beberapa menu yang sepertinya cocok, seperti Galician octopus khas wilayah Galicia di utara Spanyol sayangnya tidak tersedia saat itu, sangat disayangkan.

Mediterania ala Planta tentu berakar dengan inspirasi kuliner wilayah pesisir Spanyol yang langsung menghadap Laut Tengah. Dari wilayah Catalonia hingga Andalusia, Costa Brava hingga kota Giblartar yang membentang sepanjang lebih dari 1,600 km. Apabila mendengar hidangan Spanyol, hal yang terbesit di imaji pertama-tama pastinya bagaimana hidangan Mediterania sangat mengagungkan kesegaran bahan baku, mulai dari bahan laut yang segar, sayur-sayuran, buah-buahan, serta beragam biji-bijian. Hal ini tercermin dalam kesegaran bahan makanan yang tersaji, khususnya di beberapa hidangan tapas yang kami pesan.

Kendati tapas sendiri pada umumnya disajikan dengan minuman beralkohol, dimana budaya ini dimulai dari abad ke-10 M saat raja dari Spanyol, Raja Alfonso mengidap penyakit berat sehingga ia hanya diperbolehkan untuk menyantap hidangan dalam porsi kecil dilengkapi dengan sedikit wine; kami tak memesan alkohol untuk menikmati tapas yang kami pesan.

Chipirones Negrito mengawali perjalanan indera perasa kami ke pesisir pantai negeri Matador. Tapas ini merupakan calamari yang dimasak dengan tinta cumi hitam, bawang putih, ditumis dengan menggunakan minyak zaitun. Tekstur dari calamarinya sendiri membuat saya tersenyum, meski perpaduan tinta cumi hitam, bawang putih, dan minyak zaitun terasa seperti sebuah pertempuran rasa di lidah yang dimenangkan oleh indera perasa asin – namun anehnya, meskipun demikian, saya tak dapat berhenti mengunyah dan menghabiskan tapas ini hingga tetesan terakhir minyak zaitun di piring.

Gigitan hidangan selanjutnya yakni Ceviche Chileno menerbangkan kami dari Spanyol ke Amerika Selatan. Ikan dori mentah yang terpapar dengan asam membuat protein ikan terdenaturasi dan membuat tektsur dari ikan dori lembut. Rasa asam bercampur segar khas ceviche dilengkapi pula dengan potongan tomat ceri yang sedikit manis, sebuah percampuran rasa yang menciptakan senyum di mulut saya.

Rasa penasaran kami terhadap kepiawaian dari Planta untuk mengolah tapas dengan bahan lain selain seafood terjawab di tapas terakhir yang kami pesan, yaitu Champignon Al Ajillo. Perpaduan jamur oyster yang dimasak dengan bawang putih dan parsley memang terkesan sederhana, namun lebih dari cukup untuk menjadikan jamur ini primadona di antara ketiga tapas yang kami pesan dengan cita rasa gurih yang tak berlebihan dan tanpa perlu banyak usaha, hidangan tersebut sungguh memanjakan indera perasa.

Belum selesai kami menyantap ketiga tapas tersebut, hidangan main course yang kami pesan langsung disajikan oleh waiter. Hal tersebut sepintas mungkin menciptakan kesan yang baik di mana waktu penyajian di Planta terbilang cukup cepat, akan tetapi lebih baik lagi bila main course disajikan setelah pengunjung telah selesai mencicipi tapas, mengingat ukuran meja juga tidaklah besar. Tak perlu waktu lama bagi kami untuk kembali ke tanah air setelah mencicipi ketiga tapas tadi karena menu yang tersaji adalah satu menu khas Indonesia rekomendasi Planta, Duck Dig Dug. Menu ini sendiri masuk dalam rangkaian menu Tropical Nusantara yang dimiliki oleh Planta. Nampaknya, definisi dari Tropical Nusantara sendiri merupakan wilayah-wilayah pesisir karena tak hanya Duck Digdug yang merupakan hidangan dengan sentuhan Bali, di deretan menu ini terdapat pula menu khas wilayah perairan Sumatera seperti Patin Batanghari misalnya.

Menu Duck Digdug sendiri tak berdiri sendiri, menu ini dilengkapi pula dengan lawar dan sambal tomat. Porsi dari menu ini cukup besar, mengingat setengah ekor bebek tersaji di depan mata. Hal yang membuat menu ini spesial adalah saus kedelai yang digunakan untuk memasak bebek ini selama 12 jam lamanya diracik secara khusus oleh Planta. Lamanya proses memasak terbukti dengan kelembutan bebek yang saya santap, mulai dari saat dipotong, hingga mudahnya lepas daging bebek saat gigitan pertama. Cita rasa gurih berpadu pedas yang segar dari sambal tomat menciptakan kombinasi rasa yang unik – meskipun saya merasa kegurihan dari bebek ini ibarat sebuah film yang tidak mencapai klimaks, perlu sedikit dorongan.

Petualangan rasa kami belum berakhir dengan mencicipi main course yang merupakan inspirasi Andrea Peresthu yang pernah bermukim di Peru. Nama hidangan ini adalah Pollo Asador Caribeno. Saat disajikan, wangi rempah cukup semerbak dan seolah memerintah kami untuk segera mencicipinya.

Menaklukkan ayam dengan teknik memanggang memang suatu skill yang tidaklah mudah. Banyak kesalahan yang dapat dilakukan, mulai dari daging ayam yang tidak terbumbui dengan baik, kulit ayam yang mudah terbakar, posisi ayam saat dipanggang, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, wangi yang mengundang kami untuk mencicipi hidangan ini disambut baik dengan lidah. Daging ayam termarinasi dengan sangat baik sehingga bumbu meresap hingga ke tulang. Saya dapat merasakan daging ayam yang juicy berpadu dengan saus adabo yang memberikan sensasi gurih, bercampur asam yang segar dari jeruk nipis dan sedikit tendangan pedas dari rempah, menciptakan harmoni yang sangat pas di lidah.

Tak terasa, tamu-tamu yang tadinya memadati restoran telah satu per satu meninggalkan restoran dan tidak bersisa seiring dengan kami yang hendak menutup kunjungan kami dengan dessert. Tidak seperti menu lain yang menginjeksi unsur Tropical Mediterranean, menu dessert di Planta dapat dibilang cenderung memiliki kesamaan dengan banyak restoran lain. Kami mencoba untuk mencari menu yang mungkin menjadikan bahan baku khas Spanyol seperti jeruk mungkin sebagai bahan baku dessert, namun karena tidak kami temukan, pilihan pada akhirnya jatuh pada Apricot Chocolate Whiskey Cake.

Penampilan dari cake ini sangat elok, di mana tiap lapis antara kue dan chocolate ganache dan selai aprikot saling berselang. Terbukti, cake ini memiliki tekstur yang sangat lembut, meskipun bagi saya pribadi rasa woody dari whiskey mendominasi, seolah mengalahkan cokelat dan aprikot.

Kehadiran Planta menambah ramainya peta kuliner ibu kota. Konsep yang dihadirkan merupakan angin segar bagi dunia restoran di ibu kota meskipun Mediterranean cuisine dari Planta, saya rasa lebih menonjol ketimbang menu Indonesia yang ditawarkan. Hal ini menunjukkan keahlian seorang Andrea Peresthu yang lebih banyak menghabiskan waktu, dengan memasak di luar negeri. Planta memiliki potensi yang besar untuk memenangkan hati bagi para kaum urban ibu kota, terlebih lagi dengan konsep unik yang diusung mengingat warga kota ini selalu ‘lapar’ untuk mengeksplorasi cita rasa baru.

ALAMAT

Menara Astra, 2nd Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav 5-6, Karet Tengsin, Jakarta Pusat

+62822-8888-2331

HARGA

Rp. 150.000-Rp. 300.000/person. Tergantung banyak dan jenis menu yang dipesan

DETAIL

Memiliki kapasitas hingga 50 orang. Reservasi sangat dianjurkan

MENU REKOMENDASI

Ceviche Chileno, Champignon Al Ajillo, Pollo Asado Caribeno,

Oleh Sharima Umaya, editor-at-large dari Top Tables

166 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png