Pentingnya Comfort Food di Riuhnya Metropolis

Updated: Feb 15

Kenapa di kota yang sangat modern seperti Jakarta justru masakan rumahan - atau comfort food - lebih diperlukan oleh masyarakatnya?


Seorang ibu menggendong anak dengan nyaman di sebuah pasar di Jakarta | Arif Riyanto on Unsplash

Jakarta itu ibarat pasar raksasa yang riuh: ramai, cepat, namun segalanya ada di sana. Jakarta itu adalah kota yang penuh dengan segala macam tuntutan yang harus dilakukan saat itu juga. Saya sendiri terkadang merasa lelah, entah itu saat transit dari satu halte bus ke yang lain, ataupun dengan wajah di depan laptop yang mengingatkan kerjaan yang tak henti-hentinya menunggu. Dengan kata lain, hidup di Jakarta dan kota besar lainnya di dunia -- mulai dari Berlin hingga Tokyo -- tidak pernah mudah.


Kita hidup di era yang segalanya serba instan: komunikasi, gaya hidup, cara kita menyerap informasi, bahkan sampai pernikahan yang instan. Seakan-akan di masa ini sebuah proses dianggap sebagai hal yang kuno, tak relevan dan bentuk dari ketertinggalan zaman. Padahal, proses adalah yang membuat kita menjadi manusia sesungguhnya. Proseslah yang membuat kita menjadi kreatif dan terus belajar. Hal ini pun tidak bisa dipungkiri berdampak ke bagaimana kita makan.


Gelombang makanan instan pertama di Indonesia, terutama Jakarta, mencapai puncaknya di tahun 1970-an dan 1980-an. Seiring dengan bertumbuhnya ekonomi kota dan negara, seiring dengan semakin cepat bergeraknya manusia dan bertambahnya jumlah penduduk, hal tersebut secara tidak sadar menumbuhkan demand baru terhadap mempercepat proses konsumsi. Mulai dari industri mie instan hingga air mineral dalam kemasan menjadi primadona. Semua mau cepat.


Hari ini kebutuhan tersebut muncul kembali, namun dalam sebuah skala yang bukan hanya makin besar namun juga terbeban dengan perubahan pola hidup. Dahulu semua hanya tentang cepat dan kenyang. Sekarang pun sama, namun jangan lupa buat menambahkan kesadaran masyarakat kita akan makanan rendah kalori, mengandung super food, hingga bercita rasa rumahan.


Nah, inilah masa ketika kecepatan ditantang oleh keinginan konsumsi masyarakat Jakarta yang semakin kritis. Namun di luar kebutuhan akan makanan yang cepat, manusia urban Jakarta juga ternyata butuh akan makanan yang mengingatkan mereka dengan nyamannya berada di rumah.


Tak ada yang bisa menggantikan nikmatnya mengunyah sesendok nasi dengan tumisan tauge atau ayam balado buatan ibu ataupun simbok setelah seharian penuh bekerja. Kehangatan dan sensasi nyaman, ah, nikmat bukan main. Untuk menghadirkan bentuk “kehangatan” di tengah padatnya jadwal, inilah fondasi dan ide sesungguhnya yang ingin ditawarkan fenomena rice bowl di Jakarta. Konsep fast-food memang bukan hal baru di Jakarta. Sejak tahun 1980-an, serbuan makanan cepat saji membanjiri Ibukota, terutama yang berbau Western.


Di pertengahan 2000-an juga muncul kembali dalam bentuk aneka kebab dan crepes. Namun itu semua tak sepadan dengan begitu cepatnya Jakarta terjangkit demam rice bowl dalam dua tahun terakhir ini. Kalau dilihat, hampir seluruh lauk yang ditawarkan oleh rice bowl tidak jauh-jauh dari selera lokal dan makanan rumahan. Beberapa bahan esensial seperti sambal, telur asin, hingga ayam yang digoreng tepung di atas bantalan nasi pulen menjadi perwujudan rasa rumah dalam sebuah mangkuk.


Pertanyaannya: mengapa comfort food sekarang seakan menjadi sangat penting dan sangat diganderungi mulai dari kaum pekerja di Jakarta hingga pelaku kreatif? Mengapa mulai dari restoran hingga hidangan cepat saji seperti rice bowl, semua seakan berlomba-lomba untuk memasak comfort food terbaik?


Comfort food ibarat merasakan pelukan ibu walau ia tidak ada, ibarat pulang ke rumah walau kita tinggal jauh.

Comfort food sejatinya bukan hanya bicara tentang makanan. Comfort food merangkum nilai kebaikan yang diinginkan oleh manusia: kejujuran, kenyamanan hingga kenangan manis. Comfort food punya ikatan khusus dengan sebuah ataupun banyak memori indah yang terjadi di masa lampau. Comfort food ibarat merasakan pelukan ibu walau ia tidak ada, ibarat pulang ke rumah walau kita tinggal jauh. Ia sendiri adalah universal. Bagi orang Indonesia, ialah nasi goreng; bagi masyarakat Perancis, semangkuk sup bawang bombay (soupe a l'oignon) ; bagi warga Hokkaido, ramen adalah terjemahan dari comfort food.


Ketika manusia Jakarta yang modern ini sudah semakin terpaku dengan riuhnya jadwal kerja, bergerak super cepatnya ekonomi di kota, hingga tuntutan-tuntutan serba cepat dan instan yang menguras emosi dan tenaga, kita semakin jauh dengan merasakan kenyamanan dan kehangatan rumah. Terkadang, pulang ke rumah pun tidak dipungkiri masih membawa beban dari bekerja. Hal ini yang membuat comfort food menjadi semakin dibutuhkan, ibarat air yang dirindukan tanah kering dan oasis yang diimpikan sang pengembara.


Ketika bagi sebagian konsep comfort food hanyalah akan menjadi tren belaka, bagi saya tidak. Kembalinya selera kita kepada makanan lokal dan para seniman dapur yang belajar proses memasak seperti para pendahulu, menyimpulkan bahwa cita rasa rumah adalah obat yang diperlukan oleh semua masyarakat Ibukota. Cita rasa rumah adalah yang menjadi bandul kewarasan yang menjaga kita agar tetap jadi manusia lokal (Indonesia) yang seutuhnya, seiring kita turut juga menjadi warga dunia.


“Adults, when under severe emotional stress, turn to what could be called ‘comfort food’—food associated with the security of childhood.”

- Cari Room, The Atlantic (3 April 2015).

Oleh Kevindra P. Soemantri

  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png