Para Pendiri 'Lazy Susan', Media Kuliner Baru di Jakarta

Siapa sangka kelima anak muda ini berhasil mendirikan media kuliner baru yang menargetkan anak-anak muda bernama Lazy Susan.


Ghina Hana (kiri bawah), Alyandra Katya, Andrea Christina (tengah), Dinda Pramesti, Valensia Edgina para pendiri Lazy Susan | Top Tables

Di sore hari, restoran Kaum di Menteng menjadi seperti oasis di tengah kota: sejuk, teduh dan penuh dengan makanan dan minuman untuk memuaskan lidah. Di ruang makan bagian depan yang merupakan rumah gaya kolonial khas Menteng, Top Tables duduk bersama dengan lima anak muda yang dengan penuh semangat bercerita mengenai passion mereka dalam hal kuliner Indonesia. Dinda Pramesti, Valensia Edgina, Alyandra Katya, Ghina Hana dan Andrea Christina, mereka adalah lima perempuan pendiri dari media kuliner baru bernama Lazy Susan.


Di tengah kondisi stagnan dari media kuliner Tanah Air, Lazy Susan hadir dengan membawakan angin segar bagi industri food and beverage di Jakarta dengan isi konten mereka yang cukup dalam namun dibalut dengan visual yang sangat modern yang biasanya hanya Anda dapatkan dalam media-media seni atau desain grafis. Belum genap satu tahun, nama Lazy Susan sudah mulai dikenal luas - terutama di Jakarta - karena seringnya melakukan event kolaborasi bersama dengan restoran-restoran yang juga dimiliki oleh chef muda.


Ditemani dengan sepiring gohu tuna khas Maluku yang segar, kacang mete dengan karamel yang manis gurih, serta kue bolu sorgum dengan lemon curd khas Kaum, Top Tables berbincang dengan para pendiri Lazy Susan mengenai media yang mereka kelola ini.




Top Tables: Boleh diceritakan bagaimana ide awal berdirinya Lazy Susan?

Valensia Edgina: Awalnya saya itu sedang berada di Sumba untuk membantu project teman. Ketika di Sumba, saya bertemu dengan seorang anak muda seumuran yang secara polos bertanya hal yang jujur membuat saya sedih. Pertanyaannya adalah, “Valen, rasanya chicken teriyaki itu seperti apa sih?” Walaupun tidak ada hubungannya sama kuliner Indonesia, saya cukup terpukul mendengarnya. Dari situ saya mulai berpikir, “Kok sepertinya belum ada ya media di Indonesia yang membahas secara komprehensif latar belakang makanan dan ceritanya yang ditujukan untuk generasi muda.” Mulailah saya mulai cerita sama teman-teman ini (pendiri Lazy Susan yang lain) tentang ide bikin media ini.


Waktu itu sekitar tahun 2017 awal mereka semua masih sekolah di luar negeri, jadi kami pun mulai untuk bertukar ide. Awalnya Lazy Susan itu bukan cetak, tapi video. Walaupun kami semua memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kami punya kesamaan yang sama yaitu kesenangan kami soal makanan. Kami bahkan sering tukeran foto-foto makanan.


Top Tables: Karena kalian berlima, boleh tahu tugas masing-masing di Lazy Susan itu seperti apa?

Alyandra Katya: Tugas saya lebih kepada seperti art director yang bertugas untuk menentukan konsep visual yang ada di setiap platform kami dari majalah hingga desain.

Ghina Hana: Kalau saya bersama dengan Dinda dan Andrea adalah bagian dari tim penulis yang bertanggung jawab untuk semua konten tulisan. Andrea juga bertugas dalam hal riset karena dia yang punya latar belakang gastronomic science.

Valensia Edgina: Kalau saya sama seperti Katya yang mengurus visual, tapi juga merangkap sebagai project manager yang saling mengingatkan tentang deadline dan tugas masing-masing.

Dinda Pramesti: Saya selain menulis juga bertugas untuk urusan public relation, misalnya ada yang mau kerjasama untuk event atau kolaborasi, ini masuknya ke saya dulu baru akhirnya dibicarakan secara group.


Top Tables: Kenapa namanya Lazy Susan?

Valensia Edgina: Waktu itu kita memang sedang mencari-cari nama yang cocok untuk media yang kami buat ini. Nah, akhirnya ada satu momen di mana saya teringat tentang meja bundar yang ada di tengah-tengah rumah makan Chinese atau di rumah-rumah mereka yang berlatar keluarga Tionghoa - seperti saya. Pertama begitu saya dengar namanya Lazy Susan itu lucu, akhirnya karena sangat catchy kami pakailah nama itu. Lagi pula fungsinya sebagai meja juga cocok dengan visi kami yaitu memberikan “makanan” berupa topik-topik tentang kuliner bagi siapa pun yang ingin menikmatinya.


Top Tables: Apa inti konten dari Lazy Susan?

Alyandra Katya: Lazy Susan yang kami jadikan intisari konten adalah kultur kuliner Indonesia. Bukan hanya makanan saja tapi juga peran makanan, sejarah makanan dan segala cerita yang berhubungan dengan makanan. Pendekatan yang kami inginkan juga lebih fun dengan menargetkan anak-anak seumuran kami dan tidak menutup kemungkinan orang luar negeri, maka dari itu Lazy Susan berbahasa Inggris.


Top Tables: Salah satu yang menjadi ciri khas Lazy Susan itu tidak lain adalah visualnya. Boleh ceritakan proses kreatifnya?

Alyandra Katya: Proses kreatif tentu saja dimulai dengan brainstorm topik, komponen, warna bersama seluruh tim Lazy Susan. Namun setelah itu karena visual memang di bawah tanggung jawab saya dan Valensia, maka dari itu kamilah yang memutuskan akhirnya harus dibuat seperti apa desainnya. Jujur kalau untuk maunya banyak banget bisa begini atau begitu, tapi tentu kami akhirnya memilih yang relevan dengan keseluruhan isi konten juga. Kita tau kalau tidak semua orang yang membeli majalah kami pasti membaca seluruhnya. Maka dari itu kami ingin setidaknya mereka bisa mendapatkan inspirasi atau bahkan terhibur dengan visual yang ada di dalam majalah Lazy Susan.


Top Tables: Bagaimana respon orang-orang terdekat terhadap Lazy Susan pertama kali?

Andrea Christina: Wah tentu saja bermacam-macam ya. Kami sudah cukup sering mendapatkan respon yang terkesan meragukan yang kami lakukan. Kami bahkan juga kerap mendengar bagaimana teman atau keluarga justru tidak terlalu antusias dengan Lazy Susan. Tapi kami senang dari sisi industri sendiri banyak yang mendukung ide yang kami lakukan. Kami tahu bahwa Lazy Susan itu masih baru, namun kami punya misi dan visi di depan yang kami harap bisa berdampak terhadap kuliner Indonesia.


Top Tables: Bicara soal visi dan misi, bagaimana Lazy Susan dalam satu, tiga hingga lima tahun ke depan?

Alyandra Katya: Mewakili teman-teman, satu tahun dari sekarang mudah-mudahan sudah terbit issue kelima. Lalu untuk tiga tahun dari sekarang kami harap bisa terbit juga di luar Indonesia serta memiliki kantor sendiri. Kalau untuk lima tahun dari sekarang, kami berharap kami sudah punya satu hub sendiri yang isinya adalah kegiatan kreatif antar pelaku kuliner muda dan tentunya punya tim yang semakin besar dan semakin seru.


Oleh Top Tables.

Lokasi: Kaum Jakarta

1,358 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png