Opini: Sudahkah Restoran Jakarta Ramah Pekerja Difabel?


Oleh Kevindra Soemantri


Sebagai penulis makanan, tentu mencari makanan yang baru dan unik menjadi salah satu key performance index (KPI) tak tertulis yang selalu dibawa oleh kami. Apalagi di kota sebesar Jakarta, makanan selalu ada saja yang baru. Namun, bagi kami, kadang-kadang kejutan justru hadir ketika kita tidak memintanya. Seperti yang baru-baru ini terjadi dengan saya.


Saya sedang mengunjungi sebuah restoran baru yang berada di kawasan Jalan Agus Salim dan Kebin Sirih di Jakarta Pusat, Mbok Doro namanya. Restoran dengan spesialisasi masakan rumahan Jawa – terutama Jawa Tengah ini – sebelumnya memang sudah hadir di kawasan hits Mbloc di Kebayoran Baru. Saya mampir ke sini dikarenakan adanya hidangan sate-satean yang banyak ditemukan di kota-kota di Jawa Tengah seperti Solo, Semarang atau provinsi Yogyakarta, seperti sate buntel sampai sate kere.


Sambil mencicipi sate buntel yang pekat dengan bumbu itu, di mana rasa harum ketumbar saling beriringan dengan lembutnya daging cincang, aroma asap yang tipis, serta kecap manis yang legit, saya juga memesan kunyit asam dingin untuk menemani. Inilah ketika saya berinteraksi secara tidak sengaja dengan salah satu staf bartender tuna rungu yang saya lupa bertanya namanya. Ia dengan sigapnya memberikan saya gelas minuman, membersihkan meja, lalu membawa gelas yang sebelumnya kosong. Saya perhatikan, ia juga tidak kalah gesit dengan staf lain yang tidak sepertinya.


Inilah ketika saya terdiam. Rasa nikmat sate bertemu jamu itu seakan memudar seiring pikiran saya masuk ke dalam. Sudahkah restoran di Jakarta ramah difabel? Itulah kalimat yang langsung muncul di benak saya. Sebagai sebuah kota, adalah tugas Jakarta untuk menjadi rumah bagi setiap warganya – tak terkecuali. Begitu pun lingkungan kerja dan dalam hal ini restoran.


Kita selama ini melihat industry restoran sebagai area yang glamor, penuh keriaan dan merupakan lingkungan kerja yang sepertinya disukai oleh para pekerjanya karena identic dengan gaya hidup. Namun seberapa banyak dari kita yang sadar bahwa sudahkah kita adil terhadap semua kelas pekerja? Sudahkah kita memberikan kesempatan bagi para teman-teman dengan disabilitas untuk bisa berpartisipasi dalam industry yang penuh keriaan ini?

Di Jakarta sendiri sudah ada beberapa tempat yang mempekerjakan rekan dengan disabilitas, kebanyakan dari mereka adalah coffee shop. Namun untuk restoran, baru Mbok Doro inilah yang saya temui. Hal ini membuat saya berpikir, dari belasan ribu restoran kelas menengah di Ibukota, sudah berapa persenkah jumlah rekan dengan disabilitas yang bekerja di restoran? Apakah 5%? 3%? Atau bahkan belumkah mencapai 1% dari seluruh jumlah pekerja restoran dan industri hospitality di Jakarta?


Memang saya sendiri menyadari bahwa industri restoran dan hospitality bukanlah industry yang mudah, bahkan bagi orang biasa sekali pun. Namun bila saja satu restoran memberikan kesempatan bagi satu teman dengan disabilitas untuk bekerja, maka bila jumlah restoran kelas menengah di Jakarta mencapai 12.000, berarti kota ini sudah bisa memberikan pekerjaan bagi 12.000 rekan dengan disabilitas. Saat itulah kita baru bisa berkata kalau industri kuliner di Jakarta sudah sangat maju karena membuka kesempatan bagi siapa pun, tidak membedakan antar manusia, bahkan saling menopang untuk melihat semuanya bertumbuh.


Bila dari segi ramah tamu dengan disabilitas, saya akui sudah banyak restoran yang memikirkannya terutama dalam hal akses kursi roda bagi tunadaksa. Memang tidak bisa dalam waktu cepat mengubah ini semua, namun kesadaran ini harus dimulai dari kita sendiri para penikmat makanan serta pengusaha makanan. Mungkin para pengusaha restoran bisa memulainya dengan membuka kesempatan untuk jenis pekerjaan yang tidak memerlukan risiko tinggi bagi rekan dengan disabilitas. Dari situ dapat dilihat apakah skala tanggung jawab bisa ditingkatkan atau justru restoran sudah percaya diri untuk merekrut lagi.


Beberapa negara seperti Kanada, Amerika Serikat hingga Thailand juga sedang menggarap dengan lebih serius lagi aturan yang dapat memberikan kesempatan bagi rekan dengan disabilitas untuk dapat bekerja di industry yang memang dinilai aman untuk mereka. Yang dilakukan oleh Mbok Doro ini membuktikan bahwa stigma dapat didobrak hanya dengan memberikan satu kali saja kesempatan. Lagi pula siapa pun pegawai baru

yang bekerja dengan kita – tanpa melihat kondisi fisiknya – bukan kah sudah tugas kita untuk mengajar dan menuntun sampai mereka bisa mengikuti standar yang kita terapkan?


Ah, alangkah indahnya bila kota ini bisa menjadi kota yang dapat dinikmati oleh tiap warganya, dan dapat menjadi kota di mana impian bisa menjadi kenyataan bagi semua orang, tidak terkecuali.

32 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png