Masanobu: Mungkinkah Ia Restoran Jepang Terbaik di Jakarta Tahun Ini?

Satu lagi kreasi pengusaha Reino Barack dan chef Takashi Tomie yang meramaikan Japanese food scene kota Jakarta.


Saya harus akui bahwa saya memiliki ketertarikan dengan arsitektur sebuah gedung. Oleh karena itu ketika pada akhir tahun 2018 gedung Menara Astra resmi berdiri dengan megahnya menghiasi langit Jakarta, saya selalu bertanya-tanya terhadap diri sendiri: tenant apa saja yang nanti akan mengisi tiap lantainya? Perusahaan multinasional dari daftar Fortune 500 manakah yang menempati? Dan tentunya, restoran macam apa yang akan buka di sana?


Wilayah sepanjang Jalan Sudirman memang dipenuhi banyak restoran dengan kualitas baik dan dari berbagai genre cuisine yang bisa sesekali Anda coba. Mereka umumnya tersembunyi dari masyarakat umum karena lokasinya yang terletak di dalam gedung perkantoran. Seperti Goemon Sakedokoro di Wisma Kyoei Prince dengan core izakaya khas Jepang; restoran yakiniku Sumibi dan steakhouse Angus House di gedung Chase Plaza; club kelas atas Mercantile di World Trade Center; hingga restoran India, Ganesha ek Sanskriti di Gedung BRI - banyak sekali.


Ketika Top Tables melihat bahwa Menara Astra sudah menjadi rumah bagi sebuah restoran Jepang bernama Masanobu, tentu saya memutuskan untuk datang ke restoran itu. Masanobu dapat diakses berjalan kaki dari lobi utama gedung. Bagian facade restoran sangat modern, berpadu dengan keseluruhan desain exterior Menara Astra. Ruang makan restoran juga terasa cukup maskulin dengan banyak memainkan warna hitam, abu-abu dan cokelat. Pencahayaan alami dari dinding kaca restoran membuat nuansanya lebih humble di siang hari dan elegan di saat malam.


Ruang makan utama di Masanobu | Top Tables


Restoran ini tentunya menambah jumlah restoran Jepang yang tidak lagi terhitung banyaknya di sederetan gedung sebelah kiri dan kanan Menara Astra. Seperti Wisma Kyoei Prince di sisi kiri yang penuh dengan restoran Jepang di dua lantai teratas, serta di sisi kanan ada MidPlaza, yang bagian lantai bawahnya sudah seperti surga makanan Jepang, salah satunya Sakana yang jadi favorit.


Menu di Masanobu sendiri terbilang berbeda dari restoran di gedung tetangganya. Ia menyajikan makanan Jepang dengan gaya tapas yang shareable. Modern, sleek serta cukup cerdas mengingat behaviour pekerja kantoran sekarang semua serba cepat namun tetap menginginkan makanan yang berkualitas.


Saya duduk di meja ujung, memperhatikan open kitchen di sisi kiri dengan kitchen team yang terlihat sigap. Restoran ini merupakan satu lagi portofolio dari pengusaha muda Indonesia Reino Barack, yang juga berdarah Jepang. Ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu kamon (simbol keluarga) yang terpatri di dinding restoran, pembatas kaca di luar, hingga cover menu.


Kamon sendiri adalah simbol yang dipakai dalam sebuah keluarga atau klan di Jepang untuk mengidentifikasi mereka. Simbol pun tidak dipilih sembarangan, harus mengandung filosofi yang kuat. Menurut manifesto di bagian depan menu restoran, inti utama nama keluarga Masanobu adalah trust and honesty. Namun yang membuat saya semakin tertarik adalah asal dari keluarga Masanobu yang datang dari Ishikawa, yang ibukotanya yaitu Kanazawa dikenal dengan genre masakan kaga kaiseki, yakni mengedepankan kesegaran bahan bahari. Kaga kaiseki yang diciptakan oleh Takeuchi Harujiro sekitar tahun 1930-an di restoran dan penginapan Kincha-ryo, Kanazawa, prefecture Ishikawa merupakan counterpart dari Kyoto kaiseki yang sudah lebih dikenal. Mungkinkah Masanobu membawa Kaga kaiseki ke Jakarta atau mereka hanya mengambil nilai dan prinsip yang dikandung dan men-translate dalam bentuk yang lain? Hanya ada satu cara: yaitu mencicipinya.


Tentu saja walaupun mereka memiliki menu sushi dan tempura, saya harus melewatinya. Saya lebih tertarik dengan Japanese tapas serta robata yang diunggulkan oleh salah seorang waiter (lagi pula jarang sekali konsep tapas dengan makanan Jepang ditemukan di Jakarta).

Sejak awal, saya sempat merasakan kemiripan Masanobu dengan restoran Enmaru yang terletak di gedung The Plaza. Menu mereka juga seakan mempunyai benang merah yang sama, terutama saat melihat menu grilled asparagus dengan onsen egg dan truffle, salah satu hidangan signature dari chef Takashi Tomie. Ada perbedaan dari versi Masanobu, yaitu penggunaan ikan chirimen (sejenis “teri” whitebait) yang mendampingi telur yang dimasak di air dengan suhu sekitar 70°C dan asparagus.


Grilled asparagus dengan onsen egg | Top Tables

Namun, rupanya ikan ini justru membuat tekstur yang aneh di dalam mulut. Ia tidak renyah, juga tidak lembut; ia tidak asin tidak pula hambar. Sehingga yang terjadi adalah gigitan-gigitan kurang berarti yang mengganggu duet nikmat antara telur, asparagus dan oil dressing aromatik itu. Apabila ikan tersebut mempunyai tekstur yang lebih crispy, mungkin akan terjadi kontras indah antara renyah asparagus, creamy dan velvety dari telur dan ikan-ikan kecil yang crispy.


Namun gigitan hidangan selanjutnya turut mengembalikan senyum. Menu tersebut merupakan jagung manis yang dilapisi adonan tempura dan digoreng sebentar hingga terbungkus dengan baik, halus dan tidak berlebihan, sehingga kombinasi renyah juicy jagung berdampingan dengan crispy-nya tepung yang tipis. Belum lagi dressing kental bertekstur seperti madu yaitu sweet shoyu. Menambah rasa gurih dan manis yang beriringan dengan umami dari parutan keju parmesan yang ditabur di atasnya.


Sweet corn tempura | Top Tables

Seiring meja dibereskan oleh salah satu waiter yang mempersiapkan menu berikutnya, saya menyadari bahwa rata-rata menu Masanobu tidaklah overpriced, bahkan dapat dibilang cukup affordable melihat lokasinya adalah mungkin gedung termegah di Jakarta. Ketika sebelumnya saya ditawarkan untuk memesan salah satu menu favorit dalam section robata yaitu lidah sapi wagyu yang diiris tipis, saya lebih memilih menu yang ada di sebelahnya dan cukup sederhana yaitu hati ayam yang dipanggang di atas bara (tori liver abura shio). Lidah, sudah banyak restoran Jepang yang menyajikannya. Kalau hati ayam? Justru pengolahan bahan yang sangat sederhana dan tricky seperti hati ayam - entah karena tekstur dan baunya - akan memperlihatkan kemampuan memasak dan mengkreasikan resep seorang chef. Hidangan ini termasuk dalam menu robata, yang artinya grilled over a charcoal dan tidak dibuat sate. Bila ditusuk seperti sate, namanya berubah menjadi kushiyaki.


Tori liver goma abura | Top Tables

Hati ayam ini datang dalam porsi dan eksekusi sederhana. Bagian luarnya sudah cokelat sedikit menghitam, tanda penggunaan bara api yang kuat dan stabil. Bagian dalamnya sangat lembut dan creamy dengan sedikit jejak rasa “besi” khas hati ayam namun langsung dinetralkan dengan aroma asap dari permukaan hati. Dalam beberapa detik, wangi minyak wijen yang sangat halus melipir masuk bersamaan dengan sentilan rasa asin dari garam laut, membuat hidangan yang terkesan sederhana menjadi lebih kompleks namun masih dalam koridor yang tidak berlebihan.


Kesederhanaan yang membawa senyum juga berlanjut saat hidangan terakhir datang, yaitu imo (ubi manis) yang juga dipanggang di atas bara api secara halus sehingga tidak terbakar berlebihan. Mungkin saja ada dua cara: satu, dipanggang di dalam alumunium foil sehingga tidak langsung terkena api; kedua, dikukus atau dipanggang di dalam oven dan barulah terakhir di atas bara api. Namun apapun itu tekniknya, hasilnya matang dengan baik. Belum lagi hanya disajikan dengan dua komponen tambahan yang sederhana: cream yang dikocok hingga menjadi butter serta sirup maple. Ubi manis dengan sedikit rasa asap dan masih terasa chunky, butter yang sangat lembut dan milky, serta sirup maple yang secara natural sedikit memiliki aroma kayu dan manis layaknya madu membuat dessert dingin tidak saya perlukan kali ini.


Satsumaimo (ubi manis dengan butter dan sirup maple) | Top Tables

Secara keseluruhan, Masanobu memberi excitement baru untuk food scene Jakarta, terutama bagi Japanese cuisine. Sebagai restaurateur, Reino Barack memang memiliki tingkat atensi terhadap detail sangat tinggi. Di bawah tangannya, ia secara tidak sadar telah memperkenalkan Jakarta terhadap experience kuliner Jepang yang lebih exquisite. Enmaru, Akira Back (berdampingan dengan influence Korea yang kuat), Chavaty dan sekarang Masanobu. Dapat dibilang, yang ia lakukan terhadap industri restoran Jepang di Jakarta sama dengan yang dilakukan Joe Bastianich untuk kuliner Italia di kota New York: yaitu memberikan pengalaman lebih modern dan fine dalam menikmati suatu cuisine yang punya akar budaya tinggi.


ALAMAT

Menara Astra, Jalan Jend. Sudirman No.Kav 5-6, Karet Tengsin, Jakarta Pusat

(021) 80600948


HARGA

Rp 180.000 - Rp 350.000/person. Tergantung banyak dan jenis menu yang dipesan.


DETAIL

Reservasi sangat dianjurkan. Memiliki private room untuk acara yang lebih privat atau intimate. Front of the house memiliki pengetahuan terhadap menu yang cukup baik.


MENU REKOMENDASI

Toumorokoshi tempura (sweet corn tempura), Tori liver goma abura shio. Pilihan menu robata dan Japanese tapas yang lain juga bisa dicoba.


Oleh Kevindra P. Soemantri, founder dan restaurant observer Top Tables.


Disclaimer: Top Tables datang tanpa diundang dan secara anonim serta kami membayar sendiri makanan yang kami pesan.

807 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png