Lunch for My Husband: Saat Sandwich Dibuat dengan Cerdas

Tiada yang lebih membahagiakan untuk seorang penulis makanan dari mencicipi hidangan sederhana yang dibuat dengan cerdas. Lunch for My Husband adalah salah satunya.


Oleh Kevindra Soemantri


Ketika Jakarta memasuki masa PSBB sejak beberapa bulan lalu, saya sudah mulai melirik banyak teman-teman di luar sana yang menjual makanan secara online. Banyak sekali yang sebelumnya enggak pernah terjun ke dunia food and beverages jadi tertarik buat ikut mencicip dunia cita rasa. Sejak saat itu pula, kami di Top Tables sering bertukar pendapat mengenai kapan lagi rubrik Eating Out ini bisa kami tulis. Restoran, café dan coffee shop tidak ada kepastian. Di mana tidak ada kepastian, maka konsistensi bakal menjadi isu besar. Dari sini saya rasa kalau mengulas restoran di masa sekarang tidaklah tepat. Lagi pula, tidak bisa datang ke restoran juga, khan?


Namun di sisi lain, dunia food delivery semakin menarik. Mulai banyak bermunculan makanan-makanan yang saya tidak pernah lihat ada sebelumnya dijual secara online. Resep keluarga, masakan nenek, masakan masa kecil, semua muncul ke permukaan – sungguh asyik. Tapi saya menunggu waktu yang tepat pula untuk mencari siapa yang bisa menggelitik rasa penasaran saya untuk dapat kembali lagi mengisi kolom Eating Out ini.


Beberapa minggu lalu, saya melihat akun teman di mana ia mem-posting sandwich yang baru saja ia beli. Di gambarnya tertulis bahwa nama sandwich tersebut Hiroshi, lengkap dengan detail komponen bagaimana sandwich itu dibentuk dan disusun dari ragam bahan baku. Nama brand makanan ini adalah Lunch for My Husband. Pertanyaan pertama saya, di era modern dengan pasutri yang sama-sama sibuk sendiri masih adakah yang punya waktu membuatkan bekal? Hal ini seperti sebuah dongeng di siang hari, sesuatu yang too good to be true. Namun, that’s the truth. Dan kebenaran itu pula yang akhirnya menggelitik rasa penasaran saya.


Lalu pertanyaan kedua – yang ditujukan untuk diri saya sendiri – adalah kapan terakhir kali saya makan sandwich? Bila mendengar sandwich, saya tak bisa menghiraukan imaji sarapan di hotel berbintang atau pun sensasi keringnya dada ayam di dalamnya. Sandwich adalah hidangan yang bukan hanya tidak biasa untuk masyarakat Indonesia, namun juga sulit membuatnya sempurna. Terakhir kali sandwich menjadi sesuatu yang keren di Jakarta adalah 50 tahun lalu, ketika hotel berbintang lima bermunculan di kawasan Sudirman-Thamrin dan sandwich jadi menu wajib di coffee shop mereka.


Setelah menggali informasi lebih jauh, Lunch for My Husband ini rupanya didirikan oleh dua pasangan muda Abang Mawarid Rolansyah, seorang desainer grafis dan juga Yori Atira, seorang desainer fashion. Keduanya memang tidak pernah berjualan makanan sebelumnya, tapi mereka tidak buta dengan dunia food and beverages. Keduanya pernah bekerja di PTT Family, salah satu grup hospitality masa kini yang disegani di Indonesia, di mana portfolio mereka membentang dari Jakarta, Bali hingga Hong Kong.


Setelah gagal di pemesanan yang pertama, saya beruntung bisa mendapat slot di menu kedua mereka yang bernama Adrian. Ekspektasi semakin membendung seiring mendekati hari pengiriman. Adrian sampai ke tangan saya di hari Sabtu pagi. Seruan bubur ayam langganan hingga soto mie pun terpaksa saya tolak pagi itu, di mana lidah sudah mengantisipasi datangnya Adrian.


Adrian mengusung cita rasa Greco-Mediterannean, sebagaimana Hiroshi sebelumnya mengusung rasa Jepang. Mereka yang mengerti cita rasa Yunani pasti tahu betul bahwa untuk lidah Indonesia, cuisine yang satu ini berada dalam posisi ekstrem antara suka atau tidak. Tidak ada wilayah abu-abu. Wujud Adrian adalah beef patty berempah dengan di atasnya saling menumpung kol ungu, selada romaine, acar bawang Bombay merah yang semuanya diikat dengan hadirnya saus tzatziki dan diapit oleh roti whole wheat. Dari segi visual, Adrian adalah sandwich yang kelihatan generous dengan penggunaan daging yang banyak, lalu masih ada semburat merah muda tipis, tanda tidak kering dan masih juicy.


Daging patty Adrian sebetulnya membuat saya teringat dengan sebuah koftedes atau Greek meatball, di mana isiannya cukup sederhana yaitu daun parsley, lemon, bawang putih, dan mungkin bila ingin menambahkan rempah bisa pakai jinten atau adas manis. Jenis daging ini memang pas bila dikawinkan dengan saus tzatziki yang kecut dan segar. Daging cincang berbumbu sebetulnya bisa kamu temukan hampir di seluruh wilayah Mediterania. Kalau di Turki dan Siprus dikenal dengan kofte, bahkan menyebar hingga ke wilayah Jazirah Arab seperti Lebanon dengan kofta dan Israel dengan k’tzitzat.


Ada dua hal yang menurut saya jadi kunci untuk sandwich yang lezat: Kontras tekstur dan juga permainan rasa yang seimbang. Tidak ada yang lebih membosankan dari sebuah sandwich yang seluruhnya dingin, dengan protein mengering, dedaunan yang hampir layu, seperti makanan dari dunia orang mati. Kabar baiknya, Adrian jauh dari itu semua. Daging yang juicy, sayuran yang masih segar dan berkontribusi pada tekstur di tiap gigitan, saus tzatziki yang mungkin agak encer tapi penuh dengan tendangan rasa kecut, creamy dan herbal, sampai acar bawang Bombay merah yang cenderung lebih manis dari bawang bombay biasa.


Sebuah makanan yang baik bisa menghasilkan respon berbeda-beda tiap orang. Ada makanan yang dapat membuat kamu tertawa karena serunya sensasi ketika menyantapnya; menangis haru karena mengingatkan dengan momen khusus di dalam hidup; atau juga membuatmu terkagum karena memberi koleksi baru di ensiklopedia lidahmu. Namun, walau pun kasusnya langka, ada juga makanan yang dapat mengubah cara pandang sesorang tentang sebuah hidangan. Untuk contoh yang terakhir, lezat saja tidak cukup.


Lezat hanya jadi satu dari beberapa faktor. Kecerdasan dalam menyusun komponen bahan baku, cara penyajian, momentum yang tepat saat menyajikan, semua menjadi penting. Namun yang terutama, makanan yang bisa mengubah cara pandang seseorang akan sebuah hidangan harus dilahirkan dari sebuah tujuan yang murni. Tujuan dibuatnya makanan tersebut tidak hanya demi mengenyangkan perut semata, tapi juga harus bisa memuaskan jiwa. Makanan seperti apa sajakah itu?


Masakan yang dibuat seorang ibu untuk anaknya? Ya, betul. Hidangan kreasi anak untuk penghormatan kepada orang tua? Ya, betul. Atau, bukankah bekal yang dibuat seorang istri untuk suaminya dapat dibilang juga sebagai makanan yang memuaskan jiwa dan raga? Hal ini yang membuat saya melihat makanan mereka berbeda, karena ini adalah makanan yang idenya lahir dari sebuah gesture dukungan bagi belahan jiwa dalam kesehariannya. Alangkah beruntungnya kita, Lunch for My Husband mau untuk berbagi masakan yang didasari kasih itu dalam bentuk sandwich yang dimasak dengan komponen tepat serta pengolahan yang cerdas.


LUNCH FOR MY HUSBAND

Pesan melalui akun Instagram @lunchformyhusband


Detail:

Mereka mengganti menu setiap dua minggu sekali, pastikan untuk selalu melihat ketersediaan mereka.

Kevindra P. Soemantri adalah co-founder dan restaurant observer dari Top Tables.


Disclaimer: Dalam rubrik Eating Out kami membayar setiap makanan yang kami pesan untuk mempertahankan independensi.

90 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png