Kami Rindu Chef Mampir ke Meja

Updated: Feb 15

Oleh Top Tables

Baru beberapa hari kemarin kami mendatangi sebuah restoran di kawasan Senopati Raya. Restoran ini terlihat ramai, meriah dengan dekor penuh warna. Makanan, ya, makanan juga tidak mengecewakan. Dari segi rasa dan harga sebanding. Namun, ada satu hal yang menjadikan makan kami lebih spesial siang itu, yaitu saat sang chef datang mampir ke meja. Ia melihat kami seperti teman yang mampir ke rumahnya. Seperti kerabat jauh yang datang. Kami bercanda, tertawa, walau hanya tiga menit saja. Namun, kesan itu akan tetap tinggal selamanya.

Memang kami melihat pertumbuhan restoran dan tempat makan di Ibukota semakin jadi, semakin ramai dan penuh talenta baru. Aneka genre muncul tanpa henti, bagunan beralih fungsi demi para pecinta kari hingga sushi. Tapi kejadian minggu lalu membuka mata kami. Memberikan jawaban kepada hal kecil yang sebetulnya kami rindukan selama ini: yaitu kehadiran sang chef yang menyapa, yang sudah tidak terlihat lagi di banyak restoran baru Ibukota.

Konsep sang kepala dapur yang datang dan hadir menyapa meja tamu mungkin umum di restoran klasik terutama Perancis. Namun konsep itu pun melebur dan banyak diaplikasikan oleh restoran non formal selanjutnya - setidaknya selama sepuluh tahun lalu.

Ketika seorang chef datang, keluar dari dapur sebagai kuil dan atelier-nya, menuju ke ruang makan, mendatangi para tamu, gesture itu menjadi penyatu antar ruang makan serta dapur. Tak usahlah berlama-lama. Sekedar bertegur sapa, bertanya kepada kami para tamu bagaimana makanannya? Senangkah dengan menu barunya? Atau hanya sekedar bertanya apakah hari Anda baik-baik saja? Kami, tamu, akan sangat menghargai itu.

Kami perhatian, dewasa ini chef umumnya akan hadir ke ruang makan, menyapa tamu, apabila yang hadir adalah kerabat dekat, teman, atau sosok spesial. Di luar itu, sangat jarang terjadi. Entah karena terlalu sibuk di dapur atau merasa tidak diperlukan karena sudah ada tim service yang menangani, tidak tahu. Namun sejatinya, siapa pun yang duduk di ruang makan sebuah restoran haruslah dianggap spesial.

Apabila kami datang ke restoran Anda, menjadi tamu dan dengan semangat menantikan makanan yang dibuat, ingatlah bahwa kami sudah mengeliminasi ratusan tempat makan lain dan memilih tempat Anda di saat itu, di momen itu.

Mungkin salah satu dari kami baru saja mendapatkan promosi pekerjaan dan ingin merayakan. Mungkin bapak yang duduk di ujung ruang makan dengan anaknya ingin menghabiskan quality time berdua setelah ditinggal dinas sekian lama. Mungkin ibu-ibu muda yang hadir dengan temannya baru saja bercerai dengan suami dan ingin menghibur diri dengan makan di tempat Anda. Mungkin keluarga besar di ujung sana ingin merayakan hari ulang tahun kakek yang sudah tiada. Mungkin keluarga kecil yang datang berempat itu ingin merayakan makan siang bersama terakhir sebelum anak tertuanya berangkat sekolah di benua jauh esok hari. Kita tidak akan pernah tahu berbagai macam alasan orang memilih untuk makan di sebuah restoran saat itu.

Oleh karenanya, menunjukkan bahwa chef peduli dengan tamu, datang sebentar, memastikan apakah semuanya baik, akan sangat kami hargai sebagai tamu. Kami tamu juga ingin di tengah-tengah kultur makan yang juga semakin distant, untuk tetap ada budaya ini. Interaksi antara chef dengan para tamu akan menjadi nilai tambah yang dimiliki restoran.

Selain tamu merasa diperhatikan dan dihargai, sejatinya kehadiran chef di ruang makan akan menunjukkan bahwa ialah nahkoda di dalam kapal ini dan kami adalah para penumpang yang harus kembali menghargai dan menaruh respek terhadapnya.

Pada dasarnya, industri restoran adalah bagian dari dunia hospitality, yang secara harafiah berarti keramah-tamahan. Tunjukanlah itu, jadikanlah ruang makan restoran sebagai tempat di mana tamu merasa nyaman, aman dan diperhatikan - a safehouse.

Kembali lagi ke pengalaman makan kami minggu lalu, pada akhirnya, setelah makanan kami habis, setelah bon terbayar, setelah mobil yang menjemput datang sembari hujan yang telah dinantikan selama berbulan-bulan menerpa dengan deras, ingatan akan chef yang hadir ke mejalah yang menjadikan semuanya sempurna. Dan apakah kami akan kembali ke tempat itu? Tentu, kalau bukan karena makanannya, maka karena keramahan chef-nya.

  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png