Kami Tetap Setia: Cerita Para Pegawai Restoran yang Setia Mengabdi

Updated: Jun 9, 2019

Simak cerita empat pekerja restoran di Jakarta yang telah mengabdi selama puluhan tahun.

Salah satu hal yang menjadi perhatian banyak industri modern adalah semakin pendeknya angka tahun bekerja pegawai dalam sebuah perusahaan, termasuk restoran. Jakarta sebagai kota yang industri kulinernya dinamis tentu saja dapat memberikan ragam pengalaman baru bagi pekerja kuliner. Apabila pada akhir 1990-an jenis cuisine restoran di Jakarta masih terbatas oleh kuliner Jepang, Indonesia, Italia, Western (Continental) hingga Tionghoa, dewasa ini sudah semakin beragam. Tipe restoran juga semakin variatif. Kita tidak lagi bicara hanya sebatas fine dining, bakery, fast food, cafe atau all-you-can-eat spot, namun juga gastropub, izakaya, beer house, modern patisserie, noodle bar hingga brunch venue. Hal ini tentu membuat lapangan pekerjaan di dunia food and beverage ibukota layaknya buffet meriah bagi calon pegawai, semua serba ada.


Namun di balik ramainya jenis pekerjaan baru dan semakin mudanya angka pekerja food and beverage Jakarta, masih banyak sosok yang tetap setia bekerja di restoran atau rumah makan yang sudah mereka anggap sebagai rumah kedua. Mulai dari kondisi restoran yang sudah seperti keluarga, hingga perasaan bangga bekerja di sana merupakan dua dari sekian banyak alasan untuk kesetiaan mereka. Ada yang sudah menggapai posisi teratas; ada yang masih dengan pekerjaan lamanya; ada yang memasak serta ada pula yang berada di bagian melayani.


Top Tables berbincang dengan empat sosok dari empat restoran dan rumah makan di Jakarta mengenai alasan mereka tetap setia mengabdi selama puluhan tahun.


SURATIN, Staf (64 tahun) - 45 tahun bekerja di Restoran Trio sejak tahun 1974.


Suratin, staf di Restoran Trio yang sudah bekerja selama 45 tahun | Top Tables

Restoran ini bukan hanya sebagai tempat makan yang menyajikan kuliner Kanton, namun juga sebagai institusi serta tempat bernostalgia. Restoran yang sudah berdiri selama lebih dari 60 tahun ini memiliki beberapa menu familiar yang sudah jadi langganan seperti gohyong saus kacang dan kodok goreng mentega. Apabila Anda mampir ke Restoran Trio, waktu seakan tidak bergerak di dalamnya.


Taplak meja pola catur merah putih yang dilapisi plastik, foto makanan dan tokoh ternama yang sudah hampir buram terpapar cahaya dan udara selama bertahun-tahun, menu yang ditulis di atas papan dengan ejaan Soewandi - semuanya menjurus ke makna yang sama: yaitu Restoran Trio sebagai restoran klasik. Di antara para pekerja yang ada, hadir Bapak Suratin. Ia adalah satu dari sekian banyak pekerja berusia senior di Restoran Trio yang berlokasi di jalan yang dahulunya lebih dikenal sebagai Gondangdia Lama.


“Saya sudah bekerja selama 45 tahun di sini, semenjak usia saya 15 tahun dan masih bujangan dari tahun 1974. Saya bekerja sudah dari muda, sempat kerja di salah satu restoran di Jalan Sabang (sekarang Jalan KH Agus Salim), lalu juga di toko roti. Tapi akhirnya kakak saya yang juga bekerja di Restoran Paramount (hanya berjarak 5 menit dari Restoran Trio) mengajak saya bekerja di sini. Saya sadar saya tidak mempunyai kemampuan lain selain di bidang yang saya kerjakan ini, oleh karenanya saya berusaha untuk bertahan. Tapi bukan hanya itu saja, kami di Restoran Trio sudah seperti keluarga. Bapak Effendi dan ibu sudah seperti orang tua kami sendiri, memperlakukan kami bukan hanya sebagai pekerja namun seperti anak darah daging mereka.”


Restoran Trio | Top Tables


TUGINO, Staf (62 tahun) - 43 tahun bekerja di Soto Betawi H. Ma’ruf sejak tahun 1976.


Tugino, sudah bekerja selama 43 tahun di Soto Betawi H. Ma'ruf | Top Tables

Apabila berbicara tentang kuliner Jakarta dan Betawi, tentu soto Betawi tidak bisa dilewatkan. Salah satu legenda besar makanan ini adalah Soto Betawi H. Ma’ruf yang dulunya terletak di Taman Ismail Marzuki (TIM), sebelum akhirnya direlokasi ke Jalan Pramuka Raya pada awal 2019 dikarenakan renovasi TIM besar-besaran. Sebagai salah satu rumah makan yang menjadi pioneer kuliner tradisional ibukota, tentu jejak cerita yang ditinggalkan oleh Soto Betawi H. Ma’ruf sudah banyak. Salah satu figur yang menjadi saksi cerita rumah makan ini - serta turut ikut bekerja dari nol - adalah Bapak Tugino. Bapak Tugino sudah merasakan bekerja dengan tiga generasi legenda soto Betawi ini. Mulai dari lokasi rumah makan yang terletak di Jalan Cikini, lalu pindah ke Taman Ismail Marzuki dan sekarang terletak di Jalan Pramuka Raya.


“Soto Betawi H Ma’ruf adalah tempat pertama dan mungkin terakhir saya untuk bekerja. Saya mulai bekerja dari saat SMP dengan almarhum Haji Maruf sendiri dan dikenalkan oleh kerabat. Ayah saya dulu memiliki warung rokok yang terletak persis di samping rumah makan soto. Almarhum Haji Maruf benar-benar menganggap saya seperti keluarga. Walaupun saya sendiri mempunyai usaha di rumah, saya tetap tidak bisa melepaskan diri dari sini. Soto Betawi H. Ma’ruf sudah seperti rumah kedua saya. Bahkan ketika istri saya masih hidup, kami berdua membagi tugas agar ia mengurus usaha keluarga dan saya tetap bekerja di tempat soto. Sekarang saat istri sudah tidak ada dan anak-anak saya mengambil alih usaha toko kelontong, saya masih semangat bekerja karena di sini saya masih bisa aktif sekaligus bertemu dengan teman-teman.”


Soto Betawi H. Ma'ruf | Top Tables


LUKMAN, Head chef (57 tahun) - 28 tahun bekerja di Sumire Japanese Restaurant (Sumire), hotel Grand Hyatt Jakarta sejak tahun 1991.


Lukman, sudah 28 tahun bekerja di Sumire Japanese Restaurant di hotel Grand Hyatt Jakarta | Top Tables

Walaupun restoran Jepang di Jakarta ini sudah menjamur di mana-mana dan mungkin hampir menjadikan Japanese food sebagai cuisine number two ibukota, nama Sumire sebagai ikon restoran Jepang kelas atas di Jakarta tidak diragukan. Bukan hanya soal nama, bagaimana restoran dapat mempertahankan kualitas dan nama besar hingga sekarang tentu menandakan para pekerja restoran - entah di dalam dapur atau bagian service - bisa mengikuti standar yang diterapkan sejak tahun 1991 saat hotel Grand Hyatt Jakarta resmi dibuka. Chef Lukman bisa dibilang salah satu pegawai terawal di hotel ini. Kesetiaannya berbuah manis dikarenakan selama beberapa tahun terakhir ia dipercaya menjadi nahkoda utama Sumire Japanese Restaurant.


“Saya belajar banyak ketika bergabung di restoran Sumire, bahkan saya masih ingat betapa senangnya waktu itu bisa diterima bekerja di sini. Hal yang paling saya senang adalah bagaimana pemilik hotel ini, bapak Rosano Barack, betul-betul memperhatikan pegawai seperti bagian dari keluarganya sendiri sejak dari awal hotel ini dibuka. Saya betah bekerja di Sumire karena di sini saya merasa kemampuan saya betul-betul dihargai. Banyak orang yang terkejut ketika mengetahui bahwa head chef restoran Sumire bukanlah orang Jepang, tapi orang Indonesia. Hal ini yang membuat saya terus semangat bekerja dengan penuh rasa bangga. Saya merasa Sumire sudah menjadi rumah sendiri. Maka dari itu apabila sudah waktunya pensiun, saya takut rasa sedihnya nanti ibarat kesedihan saat seseorang bercerai."


Dining room di Sumire Japanese Restaurant | Top Tables


SUDARI, Assistant General Manager (53 tahun) - 33 tahun bekerja di Gandy Steak House sejak tahun 1986.


Sudari, sudah bekerja selama 33 tahun di Gandy Steak House | Top Tables

Sebelum berdirinya AB Steak, Bistecca, Ruth’s Chris Steak House Jakarta, Tony Roma’s Jakarta, Outback Steak House Jakarta, Holycow dan steak house modern lainnya, Gandy Steak House berani hadir sebagai pioneer restoran yang menyajikan steak sebagai menu utama. Sebelumnya steak di Jakarta hanya dapat dikonsumsi apabila Anda makan di hotel berbintang lima. Namun Gandy sukses memperkenalkannya ke masyarakat lebih luas, tanpa harus datang ke hotel. Ia bernama Sudari, pegawai terlama yang bekerja di sini. Karirnya berkembang seiring dengan berkembangnya restoran dan dining scene ibukota. Walau begitu, ia tetap memilih setia bekerja di Gandy Steak House.


“Saya bekerja di Gandy Steak House sejak tahun 1986 di restoran pertama yang ada di Jalan Gajah Mada. Di Gandy,saya memulainya dari balik bar sebagai bartender. Dari bagian minuman, saya pun mulai memberanikan diri untuk belajar pilar lain di dalam restoran seperti service juga salah satunya. Dulu setelah Gajah Mada, saya dipindahkan juga untuk membantu outlet baru yang dibuka seperti di Menteng dan Barito. Saya ingat ketika saya diterima pertama kali untuk bekerja di Gandy Steak House, rasa bangga sungguh terasa. Berkesan sekali waktu itu. Saya senang karena di restoran ini saya juga bisa tahu beberapa hal baru seperti contohnya memasak steak yang baik. Salah satu memori terbaik saya adalah bisa melayani tokoh-tokoh besar seperti bapak Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Walaupun Gandy Steak House ini sudah mengalami banyak regenerasi pegawai, saya selalu mengingatkan siapa pun yang bergabung untuk memiliki manner dan etika yang baik terhadap tamu. Hal ini sangat-sangat penting untuk ditanamkan, bahkan sejak awal saya bergabung di Gandy.”


Gandy Steak House, Hayam Wuruk | Top Tables


Dari keempat sosok di atas, ada satu benang merah yang dapat diambil mengenai pengabdian mereka: yaitu bagaimana ikatan emosional terhadap lingkungan kerja termasuk rekan kerja hingga pemilik sangat kental di sini. Cerita mereka dapat menjadi inspirasi atau masukan berharga bagi para restaurateur ataupun food entrepreneur muda yang menginginkan kesetiaan menjadi bagian dalam ekosistem yang dibangun. Bukan hanya mengenai gaji atau tunjangan semata, namun memanusiakan manusia serta menjalin hubungan baik menjadi fondasi yang krusial demi mendapatkan sebuah kesetiaan dalam industri hospitality.

Oleh Top Tables.

680 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png