Jangan Asal Bilang 'Sustainable', Tanggung Jawabnya Besar

Updated: Feb 15

Oleh Tissa Aunila, food sociopreneur.

Tissa Aunila dan petani cokelat

Sekarang ini, dunia kuliner memang sedang menaruh perhatian kepada topik ramah lingkungan dalam segala hal, namun tidak semuanya murni datang dari tergeraknya akan kelangsungan hidup umat manusia yang lebih baik lagi. Banyak juga dewasa ini yang menggunakan topik keberlanjutan (sustainability) hanya untuk mendapatkan keuntungan dari segi image yang dibangun, padahal tidak seluruhnya dari hulu ke hilir menerapkan konsep keberlanjutan.


Saya sendiri menerapkan kepada perusahaan yang kami buat untuk mengambil source langsung dari petani, mengajar mereka dan memastikan langsung setiap langkah dan prosesnya hingga bertransformasi menjadi produk jadi. Saya sendiri merasa ironis terkadang, bahwa sebagai sesama pebisnis bahkan sesama konsumen, saya melihat bagaimana topik yang seharusnya menjadi issue yang penting bagi generasi ini justru dipergunakan demi marketing gimmick yang berujung kepada profitabilitas usaha.


Tapi di luar itu semua, sebagai pengusaha yang bergerak erat dengan pertanian serta akan menjadi yang pertama merasakan langsung dampak dari ada dan tidak adanya keberlanjutan, sebetulnya ada satu topik lagi yang saya rasa perlu jadi perhatian: bagaimana menyuarakan tentang keberlanjutan kepada masyarakat lebih luas. Saya tahu kalau mendengar istilah ‘keberlanjutan’ atau ‘sustainability’ saja terkadang orang sudah bisa off atau malas, karena terkesan berat dan dalam.


Akan sangat menarik bila kita semua bisa memberikan pengertian tentang topik ini dengan cara yang fun dan tidak intimidatif. Karena saya sendiri sering mendapatkan kesan kalau seseorang yang betul-betul punya kepedulian terhadap keberlanjutan, menyuarakan kepada khalayak ramai, tersirat kesan bahwa kami itu “sok suci”, padahal kami sangat peduli terhadap apa yang terjadi di lapangan.


Saya dan beberapa rekan pengusaha yang sangat bergantung dengan alam, kami sangat merasakan dampak dari rusaknya lingkungan atau berubahnya fungsi wilayah semakin tidak menentu. Tapi selain kami, masyarakat umum saya yakin sekarang juga sudah mulai bisa merasakan banyak hal, mulai dari kesulitan mencari air bersih atau mencari makanan dengan bahan baku yang dibuat secara baik seperti organik. Cokelat sendiri juga sudah mulai terasa sulit untuk mencari sumber lokal, apalagi kami yang sangat bergantung dengan pohon yang tumbuh secara lokal, di tanah mereka, bukannya yang dipaksa tumbuh hanya demi memenuhi tingginya permintaan.


Nah, sebenarnya menarik melihat banyaknya anak muda - mulai dari yang umum hingga chef muda - memiliki ketertarikan lebih tentang topik ini. Para chef muda misalnya, mereka baru “mekar” di era di mana banyak chef dunia sendiri juga sudah mulai bicara - dan mempraktikkan - keberlanjutan di restoran mereka, seperti chef Dan Barber dari Blue Hill di Amerika Serikat hingga beberapa restoran kelas atas di dunia yang betul-betul datang sendiri ke nelayan hingga petani untuk memastikan bahan baku yang mereka pakai diambil dengan cara yang ramah, beretika dan tidak mengganggu ekosistem yang lain.


Jadi karena berbicara tentang sustainability, menurut riset memang anak-anak generasi millenial dan Gen-Z yang rupanya serius menangkap hal ini. Generasi yang lebih senior memang lebih sulit karena banyaknya hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Menurut saya kunci sebenarnya ada di mindset. Ada satu contoh yang sangat membuka mata saya mengenai bagaimana isu keberlanjutan dalam hal makanan sangat krusial untuk diperhatikan.


Ketika saya berada di New Zealand, saya terkejut dengan pola pikir masyarakat lokal yang membeli produk organik di negara itu. Apabila bicara produk organik untuk makanan, pasti alasan utama kita adalah untuk kesehatan diri bukan? Tidak salah memang. Namun masyarakat usia menengah hingga manula di New Zealand berbeda. Pola pikir mereka adalah membeli produk organik justru bukan untuk kesehatan mereka semata, namun mereka sadar betul pentingnya memakmurkan pertanian, peternakan dan perkebunan organik demi anak cucu ke depan. Bila mulai banyak yang membeli produk organik dari berbagai petani lokal, maka suplai akan semakin berkembang, banyak orang akan beralih menjadi petani organik, dan akhirnya berujung kepada konsumsi masa depan yang terukur, lebih sehat dan terus tersedia secara natural. Memang tidak akan terjadi dalam sekejap, namun kalau bukan sekarang kapan lagi?


Di kasus saya sebagai pengusaha cokelat, ada satu contoh unik yang terjadi pada petani lokal di Bali. Namanya Pak Adi. Kalau bertemu dengannya, stigma gambaran petani yang biasanya tertanam di kepala kita akan pudar. Cara bicaranya sudah seperti pengusaha dalam arti baik, penuh percaya diri dan kebanggaan. Beliau sadar kalau ia sebagai petani berusaha lebih untuk memberikan biji cokelat yang berkualitas, maka akan ada pembeli yang mencari dan pada akhirnya ia sebagai petani akan makmur. Dari menghasilkan biji cokelat yang baik itu ia bisa menyekolahkan anaknya ke universitas terbaik di Bali dan anaknya pun akhirnya memutuskan juga untuk menjadi petani karena melihat dampak baik yang didapat oleh ayahnya dan juga ia rasakan. Direct effect positif ini sangat penting.


Tapi bukan hanya direct effect positif saja yang bisa mengubah mindset. Terkadang prinsip harus kepentok dulu baru kapok juga ampuh. Pada akhirnya pun, perusahaan-perusahaan besar yang punya core usaha bergantung dengan kondisi alam yang baik (seperti cokelat) akan bergandengan tangan untuk mewujudkan agar suplai di masa depan tetap terjaga. Maka dari itu, suka atau tidak, memastikan agar setiap prinsip keberlanjutan diterapkan dalam produksi mereka adalah sebuah keharusan, walaupun tujuannya adalah demi bertahannya perusahaan.


Kita di kota besar banyak bicara soal sustainability dan ketahanan pangan. Tempat makan banyak yang sekarang menggunakan produk pangan yang disuplai dengan cara yang berkelanjutan. Semoga banyak yang sadar bahwa hal ini bukanlah tren semata apalagi cara menaikkan promosi tempat makan, namun isu serius yang harus diperhatikan demi masa depan manusia yang lebih baik. Karena hanya demi memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu makan, dampak yang terjadi secara global sangat luas mulai dari pertanian hingga ke meja makan. Ingatlah bahwa tanggung jawab yang datang dari industri kita ini sungguhlah besar.

  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png