Food Unites Us All

Updated: Jun 6

Inilah kekuatan terbesar sebuah makanan: Sebagai pemersatu manusia sejak dimulainya peradaban.


Oleh Top Tables

Hidangan hot pot yang populer di Asia Timur merupakan salah satu jenis hidangan yang hanya bisa dihabiskan bila dinikmati bersama | Unsplash

Manusia sejak awal ialah mahluk sosial. Manusia - sebagaimana mahluk hidup lainnya - berkembang dan bertahan hidup dengan cara bersama-sama dalam sebuah komunitas. Salah satu hal yang menyatukan satu manusia dengan yang lain adalah kegiatan makan.


Bukti kegiatan makan bersama yang dilakukan oleh manusia tertua adalah di Gua Qesem, Tel Aviv, Israel yang berusia 300,000 tahun. Di dalam gua ini ditemukan ratusan kerangka binatang buruan dan sisa perapian dari batu yang digunakan untuk membakar hewan untuk konsumsi. Hal ini menunjukkan, bahwa konsep melakukan kegiatan makan bersama sudah dilakukan oleh pendahulu manusia modern sedari awal.

Seiring berkembangnya kemampuan intelektual dan kebudayaan manusia, kegiatan makan bersama pun juga turun berkembang menjadi bagian dari peradaban masa lampau dan memiliki fungsi yang lain tidak hanya perkara mengisi perut belaka. Masyarakat Romawi dan Yunani Kuno mengenal banyak jenis kegiatan bersama yang dimediasi oleh makanan dan minuman. Seperti epulum (sebuah kegiatan makan bersama untuk publik), commisatio (kegiatan minum bersama) hingga symposium (sebuah kegiatan diskusi yang diiringin dengan pesta dan makan bersama). Pada masa-masa inilah kegiatan makan juga menjadi bagian dari diplomasi politik, di mana para petinggi kerajaan berkumpul membahas strategi atau pun menjamu tamu dari kerajaan lain. Makan bersama menjadi sebuah simbol keramahan, sambutan hangat dan perayaan.

Makan bersama pada akhirnya menjadi instrumen yang sangat penting bagi banyak budaya dunia. Sekitar Abad ke-17 di Cina, pada periode Dinasti Qing, terdapat sebuah karya yang menggambarkan salah satu perayaan makan kerajaan paling mewah dalam sejarah Cina, yang dinamakan Manchu Han Imperial Feast. Lebih dari 300 makanan disajikan pada perayaan ini, dengan aneka bahan baku yang bersumber dari seluruh Cina. Yang menarik dari pesta ini, bukan hanya kalangan petinggi dan keluarga kerajaan saja yang dipersilahkan hadir, namun juga para prajurit serta keluarga mereka dari berbagai daerah di Cina diperbolehkan masuk dan menikmati ragam sajian yang terhidang. Selain menjadi salah satu cara menunjukkan kemewahan dan kemegahan, makan bersama di sisi lain juga turut diadopsi menjadi bentuk kegiatan yang menunjukkan kesetaraan dan kerendahan hati.


Sejak sebelum masuknya Islam dan Kristen di wilayah Timur Tengah, budaya makan bersama dengan komunitas sudah terjalin di banyak wilayah terutama di tiga pesisir Jazirah Arab yang menghadap Teluk Persia, Teluk Aden dan Laut Merah, dimana ditemukan sisa-sisa tulang ikan yang dimasak dengan api oleh suku-suku kuno di Pesisir Jazirah Arab. Makan bersama menjadi semakin penting dalam budaya Timur Tengah terutama dalam hal budaya religi. Dalam beberapa kisah umat Kristiani, makan bersama menjadi kegiatan penting. Terlebih di pada malam terakhir Yesus (Isa Almasih) sebelum disalib di mana Ia mengadakan makan bersama dengan dua belas muridnya. Lalu ketika Islam hadir, kegiatan makan bersama semakin menjadi sebuah prosesi dan ritual penting yang menggambarkan keharmonisan antar umat Islam. Hal ini pun tertulis dalam Kitab Alquran dengan bunyi sebagai berikut, "Makan bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah." 


Beberapa budaya di Nusantara pun mempunyai kegiatan yang erat kaitannya dengan makan bersama sebagai bentuk kesetaraan dan persaudaraan. Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat mengenal prosesi bajamba. Bajamba sendiri umumnya dilakukan berbarengan dengan upacara-upacara adat, pesta pernikahan, dan merayakan hari-hari besar agama Islam. Sementara di Pulau Bali, makan bersama juga dikenal dengan istilah megibung yang awalnya merupakan bentuk gestur kesetaraan antara kerajaan dengan warganya. 


Di mana pun kita berada, pada era apa pun, makan bersama turut membentuk peradaban manusia hingga seperti sekarang ini yang kita kenal. Dalam masyarakat modern sendiri, kegiatan makan bersama juga menjadi cara untuk bersosialisi, mengesampingan perbedaan agama, rasa, latar belakang, bahkan menjadi salah satu mediasi untuk menyelesaikan masalah. Pentingnya makan bersama ini juga ditekankan oleh mantan presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, bahkan menjadi petikan paling terkenal dari dirinya, "And let me offer lesson number one about America: All great change in America begins at the dinner table." Dr. Alice Julier, sosiolog dari Catham University dan penulis buku kenamaan Eating Together: Food, Friendship and Inequality menjelaskan bahwa kegiatan makan bersama dapat secara radikal mengubah perspektif seseorang. Kegiatan ini dapat mengurangi secara drastis persepsi orang akan kesenjangan, bahkan makan bersama dibandingkan dengan kegiatan sosial lain mempunyai kelebihan dalam hal menempatkan tiap orang secara setara, tak peduli apa pun latar belakangnya.


Peleburan budaya yang terjadi di banyak wilayah selama peradaban manusia berkembang juga dapat dilihat dari ragam makanan yang ada di sana. Negara seperti Indonesia dengan sejarah peleburan budaya yang tinggi dapat dengan mudah menemukan bagaimana masakan-masakan di beberapa wilayah - terutama daerah pesisir - merupakan bentuk interaksi antar manusia yang terjadi selama ratusan tahun. Hidangan seperti Lontong Cap Gomeh, Sosis Solo, Sup Bruinebonnen, Nasi Goreng, Kue Spekkoek, seluruhnya adalah contoh-contoh dari hidangan yang lahir dari ragam budaya yang menyatu. Walau pun mungkin etnis yang berkontribusi terhadap lahirnya makanan ini sudah tak lagi tinggal atau tersisa di wilayah tersebut, makanan tetap tinggal. Interaksi antar manusia dari berbagai suku bangsa tersebut menjadi abadi dalam bentuk makanan yang disantap oleh generasi-generasi berikutnya.


Bukan hanya di lanskap sosial dan budaya, makan bersama dengan keluarga merupakan salah satu kegiatan yang paling penting untuk membangun kepercayaan hingga menjalin hubungan yang semakin erat. Beberapa studi mengatakan bahwa keluarga yang sering mengadakan kegiatan makan bersama cenderung memiliki anak-anak yang lebih sehat, kreatif serta aktif. Hal ini dikarenakan di meja makan anak merasa nyaman dan aman untuk bercerita apa adanya, menjadi diri mereka apa adanya, serta mengenal anggota keluarga yang lain secara lebih intim dan terbuka dengan bertatap muka.


Dengan segala kebaikan dari kegiatan makan bersama, kita tidak bisa memungkiri bahwa ke depan mungkin saja akan terbatasi oleh regulasi. Pertanyaan besarnya adalah, apakah dampak sosiologis yang akan ditimbulkan apabila kegiatan makan bersama secara luas berkurang dan terbatas? Mungkinkah manusia akan menjadi lebih individualistis dibandingkan sebelum-sebelumnya? 


80 views1 comment
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png