Hari Raya yang Berbeda

Cerita enam individu tentang kerinduan mereka mudik ke kampung halaman, bertemu keluarga dan bersantap masakan khas.


Oleh Top Tables


Ramadan tahun ini sangatlah berbeda. Tidak ada laporan mudik jalanan yang biasanya meramaikan televisi. Tidak ada festival dan acara yang merayakan bulan yang paling dinanti oleh banyak umat Islam di Indonesia dan dunia ini. Dan yang paling berbeda, adalah larangan pulang bagi siapa pun untuk bertemu keluarga mereka. Pandemi memang mengubah segalanya.

Walaupun teknologi sudah dapat mengakomodir komunikasi antara manusia seberapa pun jauhnya, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan emosi yang muncul saat muka bertemu muka dengan yang terkasih di kampung halaman. Pelukan hangat, sambutan ramai, hingga aroma sedap yang seraya hadir menyemarakkan kepulangan yang terkasih ke rumah. Top Tables pun berbincang secara daring dengan beberapa individu di Jakarta yang tiap tahun pasti mudik kembali ke kampung halaman, serta hal-hal yang paling mereka rindukan tiap tahun bersama dengan keluarga, termasuk makanan.

Ines Pamungkas, Penulis dan Editor

Dua Ilir, Palembang, Sumatera Selatan

"Setiap pulang kampung ke Palembang, selalu rindu dengan masakan mama yaitu rendang, malbi, kue engkak dan kue maksubah. Selalu ada momen bantuin Mama ngaduk malbi di wajan. Bikin adonan kue maksubah dan engkak. 


Keluarga saya terbiasa dengan memasak sendiri makanan khas Palembang untuk disajikan di hari Lebaran. Selain itu, para tante sering pesan makanan khas Palembang lainnya seperti tekwan dan model untuk disantap bersama. Biasanya mereka pesan tekwan dan model dari para tetangga yang membuka usaha makanan rumahan. Pagi setelah sholat Ied, biasanya kami berkumpul di salah satu rumah saudara, bersalaman, menyantap semua makanan, membagikan THR untuk anak-anam, menyetel musik reliji dan Melayu sambil menikmati hari."

Muhammad Alif Hudanto, Jurnalis.

Bulakamba, Brebes, Jawa Timur

"Saat almarhum kakek nenek masih ada, kami rutin menyembelih ayam kampung. Kebetulan almarhum kakek memelihara ayam di pekarangan rumah. Ayam kampung ini hanya diolah menjadi satu hidangan, kari ayam. Keluarga di Brebes tidak pernah memasak ayam menjadi opor. Kari ayam selalu bersanding dengan sambal goreng ati yang dimasak oleh para wanita. Sambal goreng ati ini favorit saya. Kuahnya pekat membanjiri potongan-potongan kecil hati ayam, kentang, dan petai. Prinsipnya sama seperti di warteg, sambel goreng ati harus menginap paling tidak satu malam agar semua bumbu meresap. Semakin sering dipanaskan, rasanya semakin mantap. Oh iya, dua menu itu disajikan bersama lontong. Ketupat tidak pernah menjadi pilihan. 


Saat pulang kampung ke Brebes, saya selalu rindu dengan nasi ponggol untuk sarapan. Sajiannya sederhana. Nasi putih panas dan oseng tempe berbumbu kecap dipincuk dalam balutan daun pisang. Belakangan saya tahu bahwa tempe di Brebes punya karakter yang berbeda dengan tempe di Bandung. Karena ibu saya pernah mencoba memasak resep oseng tempe yang serupa menggunakan tempe Bandung dan hasilnya berbeda. 


Nasi Ponggol | Alif Hudanto

Ritual rutin saat mudik ke Brebes adalah makan sauto atau yang di Pekalongan disebut tauto. Pilihannya hanya dua. Pertama, warung Sauto Dahlan di sebelah barat alun-alun Brebes. Kedua, warung Soto Sedap Malam Pak Daan di kecamatan Talang, Tegal. Opsi kedua adalah favorit saya. Tauconya legit, potongan daun bawang segar berlimpah. Nikmat. Jangan lupa santap bersama kerupuk rambak. Oh iya warung ini menyajikan dalam porsi kecil, jadi saya selalu melahap dua mangkuk. Hehe."


Dita Anindya, Karyawan Swasta

Gresik, Jawa Timur


"Kalau mudik, kita ke keluarga mama di Gresik, Jawa Timur. Gresik adalah kota kecil yang jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan dari Surabaya. Makanan khas Lebaran di rumah adalah soto kikil. Open house di Gresik lokasinya di rumah bude saya (kakak kedua mama), karena eyang sudah meninggal. 


Biasanya bude pesan soto kikil di Pak Sokeh, pedagang soto kikil langganan pakde saya ketika masih bekerja. Soto kikil ini juga makanan yang selalu dinanti oleh keluarga, terutama kita yang dari Jakarta. Soto kikilnya beda dari yang pernah saya temui, kuahnya kental merah, kikilnya empuk dan dinikmati bersama perasan jeruk nipis, daun bawang, lontong dan bawang goreng. 


One day, entah bagaimana caranya, seorang bude saya yang juga tinggal di Jakarta (kakak pertama mama) berhasil mendapatkan resep soto kikil ini dari Pak Sokeh dan berhasil memasaknya dengan rasa yang persis sama. Beda dengan ibu saya yang coba memasak si soto kikil legend itu tapi entah kenapa gagal terus. Sejak itu, kalau kita tidak mudik ke Gresik, kita kumpul di rumah bude dan menikmati soto kikil bersama-sama."

Yongki Hermawan, Fotografer

Kediri, Jawa Timur


"Momen lebaran di keluarga saya di Kediri, sebenarnya tidak seheboh keluarga-keluarga lainnya. Hampir semua keluarga besar saya penganut Katholik dan Islam. Momen pulang kampung kami gunakan untuk berkumpul, ngobrol, masak bersama dan tentu saja makan bersama. 

Ketika makan bersama, ini menariknya, tidak pernah ada yang namanya opor ayam, sambel goreng ati, ketupat dan sayur lodeh labunya. Di rumah nenek atau ibu saya yang Katholik, setelah anggota keuarga yang Muslim pulang dari sholat Ied, biasanya di meja makan telah tersedia menu sarapan yang sangat sederhana: sambel bajak plus terong goreng, tempe goreng, ikan asin, dan telur dadar. Serta timun dan kemangi sebagai lalapan. Menu ini bisa kandas hanya dalam hitungan menit. Maklum, keluarga kami pecinta sambel. Jadi, untuk sarapan saja kami terbiasa makan sambal.

Pecel Pak Gendon di kala Ramadan | Yongki Hermawan

Warung selanjutnya yang biasa kami kunjungi adalah warung soto daging. Soto berkuah pekat dengan gajih yang mengambang benar-benar menguji iman. Tapi yang lebih menggoda adalah potongan jeroan yang digoreng dan ditaruh di tiap meja di warung itu. Serta perkedel goreng gimbal yang gurih sangat cocok ditambahkan di soto daging bernama milik Pak No. Aduh, kelosterol saya naik. 

Balik lagi ke rumah. Di hari berikutnya, untuk makan siang biasanya, ibu kami tidak memasak yang berat, cukup sayur asem tapi versi keluarga kami: sayur asem dengan isian kangkung, terong bulat, tauge besar, dan blimbing wuluh. Lauknya tempe dan tak ketinggalan sambel terasi. Entah kenapa tempe di desa selalu lebih enak dibanding tempe metropolitan."


Reyza Ramadan, National Programmee Manager FAO

Bandung, Jawa Barat


"Lahir dari rahim seorang perantau, sedari kecil saya sudah diperkenalkan dengan suasana mudik yang seru. Karena dua dekade lalu harga tiket pesawat harganya selangit. Kami sekeluarga kerap menempuh jalan darat tiga malam dari Bandung menuju Pekanbaru. Sarapan pertama yang selalu disediakan oleh bude saya adalah mie siam. Walaupun judulnya adalah mie, sajian ini merupakan bihun yang diguyur kuah asam manis, udang rebus, dan kerupuk bawang. Sajian khas Peranakan yang kerap disajikan di rumah orang Melayu ini memang selalu jadi andalan.


Selepas peninggalan Ibu, praktis tradisi mudik ke Pekanbaru berpindah haluan, menjadi mudik ke Bandung. Setelah berdomisili di Jakarta beberapa tahun ke Belakang, Bandung jadi kampung halaman satu-satunya. Walau Bandung seperti 'Silicon Valley'-nya kuliner, bagi saya hanya sedikit tempat makan yang memang bikin betah berlama-lama. Salah satunya adalah Toko You yang menjadi titik temu setiap kali dengan teman-teman yang mudik ke Bandung. Ditemani the poci hangat dan peyeum goreng, kami bisa mengobrol hingga berjam-jam."


Annisa Hanan, Marketer

Yogyakarta


"Tradisi tiap tahun di rumah sehari sebelum Lebaran bisanya selalu masak bersama mama, kakak dan adik. Makanan yang selalu dimasak pasti adalah opor, ketupat dan lodeh labu siam. Biasanya kami masaknya seharian di saat hari terakhir puasa, jadi pasti sudah nggak sabar mau cepat buka puasa biar bisa coba makanannya. 


Selain masak sendiri di rumah, setelah sholat Idul Fitri bisanya juga silaturahmi ke rumah saudara. Tiap tahun, yang paling ditunggu pasti berkunjung ke rumah adik eyang buat makan opor manggar (bunga kelapa) yang super enak dan bisanya cuma dimasak ketika Lebaran."

Gudeg Manggar khas keluarga Annisa Hanan | Annisa Hanan

56 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png