Abraham Viktor: Misi Hangry untuk Menjadi Virtual Restaurant yang Terdepan

Updated: Aug 1

Hangry, multi-brand virtual restaurant karya Indonesia dengan misi pasar global.


Oleh Top Tables

Abraham Viktor, CEO Hangry

Sejak memasuki tahun 2019, istilah cloud kitchen mulai ramai jadi perbincangan dalam industri food and beverage di Indonesia, terutama Jakarta. Namun pamor lini bisnis ini semakin dikenal ketika banyaknya perusahaan-perusahaan modal ventura yang menggelontorkan dana untuk para startup yang bergerak dalam bidang cloud kitchen. Dengan semakin signifikannya pengaruh teknologi dalam decision making konsumen serta keterlibatan sistem digital di industri makanan, keduanya menjadi faktor yang mendorong populernya konsep ini, terlebih dengan kondisi sekarang di mana banyak konsumen yang harus bekerja dan beraktivitas dari rumah.

Top Tables berbincang dengan Abraham Viktor, CEO dari perusahaan bernama Hangry yang juga memberikan konsep similar dengan cloud kitchen untuk konsumen. Menariknya, Hangry mendesain tiap brand makanan di bawahnya dengan keunikan masing-masing sehingga pangsa pasar yang digarap juga semakin besar.

1. Apa yang menjadi trigger awal berdirinya Hangry?

Awalnya saya bersama dengan teman, Robin dan Resha, mendapatkan ide untuk membangun Hangry saat kami masih bekerja di OVO, salah satu perusahaan fintech ternama di Indonesia. Walaupun pekerjaan tersebut memiliki potensi untuk memberikan dampak besar pada masyarakat, kami merasa tergerak untuk membangun startup pada bidang yang berbeda. Saat itu, banyak ide yang kami kemukakan, sebelum akhirnya kami sadar bahwa passion kami ternyata ada di dunia food & beverage. Seketika itu juga, membangun brand makanan dan minuman ke pasar global menjadi suatu tantangan yang paling menggairahkan bagi kami.


Dua bulan setelah kami memutuskan untuk membangun usaha bersama, Hangry resmi kami dirikan dan mulai beroperasi pada tanggal 19 November 2019.


2. Sekarang konsep cloud kitchen sedang digandrungi, apakah Hangry melihat potensi itu di Jakarta dan indonesia dalam jangka panjang?

Dengan meningkatnya penggunaan jaringan Internet dan smartphone, perilaku konsumen saat membeli makanan pun ikut berkembang. Channel penjualan online seperti berbagai platform food delivery juga ikut berkontribusi dalam pertumbuhan industri F&B. Kami melihat perkembangan ini sebagai kesempatan untuk masuk ke industri F&B melalui channel penjualan online.

Sebelum pandemi terjadi, kami melihat bahwa preferensi konsumen mulai beralih dari dine-in / takeaway ke channel food delivery dan COVID-19 tampaknya mempercepat peralihan ini. Konsumen yang mencari pengalaman dine-in terkadang juga membeli makanan dari delivery, dan sebaliknya. Dalam jangka panjang, kami rasa industri restoran dine-in tidak akan menghilang begitu saja, namun industri food delivery akan terus berkembang.

3. Apa yang membedakan Hangry dengan cloud kitchen pada umumnya?

Kami terinspirasi dari model bisnis cloud kitchen, sehingga kami dapat memanfaatkan fleksibilitas dan efisiensi infrastruktur dapur, mengalihkan kepentingan berinvestasi pada desain fisik restoran, serta selalu hadir di mana pun konsumen kami berada. Beranjak dari konsep ini, kami berusaha untuk menyediakan pengalaman virtual dining.


Hangry hadir sebagai multi-brand virtual restaurant yang menyajikan berbagai makanan dan minuman lezat serta terjaga kualitasnya melalui channel delivery online. Sejujurnya, untuk menjalankan restoran virtual dan berusaha memberikan delightfulness yang sebanding dengan pengalaman dine-in memiliki tantangannya tersendiri. Tanpa bisa membangun ambience, menata interior yang menarik, dan berbagai aset dari desain lokasi fisik sebuah restoran, yang dapat kami lakukan untuk memikat hati konsumen adalah melalui kualitas produk yang terjaga. Konsumen dapat mengkonsumsi produk kami tanpa adanya bias dari ambience dan sebagainya. Oleh karena itu, kami selalu fokus pada kualitas produk dan kami cukup perfeksionis mengenai hal ini.


Aneka produk dari Hangry

4. Bagaimana proses kalian hingga menciptakan sebuah merek makanan dalam payung Hangry?

Strategi kami berfokus pada kapabilitas untuk menghasilkan makanan yang paling lezat di setiap kategori F&B yang kami jalani, dan membangun brand equity serta brand reputation dari kualitas dan kenikmatan tersebut. Contohnya, kami baru saja membangun brand baru untuk kategori fried chicken, dan strategi kami adalah menyediakan fried chicken yang jauh lebih lezat dari pemain utama. Konsumen kami biasanya mengingat kami sebagai opsi kedua atau ketiga dari kompetitor yang sekarang dipandang sebagai top of mind, namun rasa dan kualitas makanan kami tidak kalah bersaing.


Kami percaya bahwa setiap orang pastinya menginginkan produk yang memuaskan dan sesuai dengan ekspektasi mereka. Semua brand kami dari San Gyu, Nasi Ayam Bude Sari, Moon Chicken, Ayam Koplo, dan Kopi Dari Pada hadir untuk menjawab ekspektasi tersebut. Kami selalu memprioritaskan kualitas dan rasa yang terbaik untuk setiap menu dari tipe makanan populer dan fast-moving yang kami sediakan. Contohnya, fried chicken kami harus tetap menjadi fried chicken paling lezat dan memuaskan di antara produk fried chicken lain di kelasnya. Dengan konsistensi produk yang kami jaga, kami berharap konsumen akan terus mencintai dan tetap setia pada Hangry.

5. Secara garis besar, bagaimana Anda melihat pertumbuhan Hangry Ini dalam 3 tahun ke depan?

Target 2020: membuka 40 cabang dan menjalankan 7 brands

Target 2021: membuka total 150 cabang di semua kota-kota besar di Indonesia

Target 2022: memulai expansi ke pasar internasional

6. Bagaimana covid-19 mempengaruhi bisnis kalian secara keseluruhan dan apa rencana ke depannya?

Sebelum pandemi terjadi, kami melihat bahwa preferensi konsumen mulai beralih dari dine-in / takeaway ke channel food delivery, dan COVID-19 tampaknya mempercepat peralihan ini. Konsumen yang mencari pengalaman dine-in terkadang juga membeli makanan dari delivery, dan sebaliknya. Dalam jangka panjang, kami rasa industri restoran dine-in tidak akan menghilang begitu saja, namun industri food delivery akan terus berkembang. Kami percaya bahwa model bisnis kami akan terus berkembang baik pada masa pandemi maupun pada masa pasca pandemi.

65 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png