Gaijin: Fusion untuk Foreigner

Menu Jepang eklektik yang terinspirasi dari ragam kultur pendatang dan ekspatriat


Oleh Allysa Putri


Semangkuk Agedashi Tofu tersaji di atas meja dengan asap mengepul dari tahu sutra yang baru saja digoreng. Tampilannya sedikit mengingatkan kita dengan tahu gejrot. Mengapa tahu gejrot dijual di restoran Jepang? Namun yakinlah setelah menyesap sesendok kuah kaldu kaya umami pada dasar mangkuk, pertanyaan tadi akan terjawab oleh rasa istimewa yang menggelitik lidah. Aroma kuat wakame merebak dalam ruangan resto Jepang bernama Gaijin ini, seakan menyemangati kami untuk terus menyendokkan kuah dan tahu ke dalam mulut.


Restoran Jepang bukanlah hal baru di Jakarta. Puluhan tahun hubungan diplomasi antara Indonesia dan negeri matahari terbit telah melahirkan peleburan budaya di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tak heran kalau sebagian besar penduduk urban di Jakarta tak asing dengan hidangan khas Jepang. Anime dan manga juga berperan besar dalam menciptakan imajinasi liar kita tentang kenikmatan ragam kuliner Jepang melalui kecakapan gambarnya.


Ruang dengan lampu temaram dan bangku-bangku yang ditata sedemikian rupa guna memenuhi protokol pasca PSBB sedikit membuat gelisah. Terbayang di benak bagaimana ramainya resto sebelum pandemi memaksa semua orang menahan napas dengan gusar. Kerinduan akan ritual makan di tengah keramaian bisa sebegitu menggelisahkan.


Hal serupa juga diakui oleh Brian Hardjono, pemilik resto Gaijin. Selama PSBB di DKI Jakarta kemarin yang mengharuskan pusat keramaian untuk tutup, Ia dan timnya mencari cara guna menjaga Gaijin tetap stabil. Tantangan ini cukup membuatnya gelisah, pasalnya Gaijin baru saja buka dua bulan sebelum pandemi. Brian dan tim memutuskan untuk menjual konsep menu gyudon siap masak secara daring melalui akun Instagram mereka. Ini disambut baik oleh para pelanggan. Setelah PSBB transisi mulai dicanangkan, Gaijin menjadi salah satu resto yang tentu saja mendambakan kepulihan.


Pilihan menu Gaijin yang tak banyak tampaknya memang disengaja guna menjaga fokus untuk menampilkan hidangan fusion Jepang yang seakan-akan keluar dari anime. Sederhana tetapi menggiurkan. Sebagian menu utama yang ditawarkan berbahan dasar daging dengan porsi cukup jadi hidangan tambahan dalam satu piring dapat mengimbangi rasa satu sama lain. Seperti pada sajian gyudon khas Gaijin, Gaijin Don.


Berawal dari revolusi Meiji pada 1868 yang menjadi tonggak sejarah penyebaran budaya barat di seluruh Jepang, tren mengonsumsi daging sapi pun melonjak karena sebelumnya masyarakat dilarang menikmati daging. Kala itu gyunabe (nama lain gyudon) yang secara harfiah berarti daging (dalam) mangkuk mampu mendongkrak popularitas. Sajiannya yang berupa lembaran tipis daging sapi di atas nasi ternyata mudah diterima oleh masyarakat Jepang.


Dalam Gaijin Don, irisan daging short plate ditumis dengan saus spesial yang tak terperinci di menu dan disajikan bersama telur dadar omega-3, nasi yang menggunakan beras Jepang, beserta taburan daun bawang di atasnya. Beras Jepang memang lebih pulen hingga mengunyahnya bersamaan dengan sang bintang utama tak memerlukan banyak usaha. Telur omega-3 sebetulnya tak berbeda dengan telur biasa dari segi rasa, namun yang menjadikan telur dadar dalam Gaijin Don ini terasa legit adalah fakta bahwa Gaijin membeli langsung telurnya dari peternakan. Telur segar adalah bahan terbaik yang perlu dimiliki oleh setiap restoran.


Satu lagi sajian dengan daging sapi sebagai bintangnya adalah Gaijin Platter. Satu hidangan besar yang bisa dinikmati oleh tiga orang sekaligus ini terdiri dari Gaijin marbling steak dan saikoro seberat 250 gram, tiga jenis saus celup, semangkuk kecil salad lobak dengan mayo, dan sayuran panggang. Tentu jadi pilihan menu menggiurkan bagi penikmat daging.


Sembari menelisik rasa Gaijin Don dan Gaijin Platter lebih dalam, sesekali jemari mengunjungi sepiring Salt & Spicy Edamame. Hidangan pembuka andalan Gaijin yang berhasil membuat kami ketagihan sampai-sampai tak sadar kulit edamame yang telah hilang rasa gurihnya masih tertinggal di lidah. Sederhana saja. Garam dan bumbu pedas membalut edamame. Edamame diblansir dengan baik agar tekstur renyah khas polong-polongannya tetap terjaga.

Jika tak berselera menyantap daging, pilihan menu boga bahari/ayam bisa menjadi ‘teman tambahan’ minum bir. Misalnya seperti Momoiro Prawn Pasta yang menggunakan udon sebagai pengganti pasta. Dimasak dengan saus Hokkaido mentaiko orisinil yang menciptakan semburat warna jambon pada udon. Atau pilih yang lebih ringan seperti Yakitori Platter. Udang dan daging ayam ditusuk layaknya sate kemudian dipanggang dengan baluran saus ala Gaijin.


Harmonisasi rasa adalah kata yang tepat untuk menggambarkan resto yang memulai debutnya sejak Januari lalu ini. Setiap santapan yang kami telusuri memiliki paling tidak tiga macam bahan tambahan yang menopang satu sama lain untuk menciptakan cita rasa kompleks. Mengemban sajian fusion tidak selalu mudah bagi sebuah restoran, tetapi Gaijin boleh berbangga dengan arti foreigners dalam namanya.


Saat masa PSBB transisi, jam buka Gaijin pun berubah menjadi 11.00 - 21.00 WIB.


GAIJIN

Jl. Wijaya II No.123, Jakarta Selatan



129 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png