Future Eaters: Mengenal Gen-Z Sebagai Foodies Masa Depan

Oleh Top Tables

Generation-Z | VOA

Mengenal bagaimana tiap generasi memiliki dampak dalam lanskap kuliner Jakarta serta hadirnya Generasi-Z sebagai konsumen masa depan.


Selama beberapa tahun terakhir, hampir setiap industri bicara soal kaum millennial. Televisi, media cetak, media digital, semuanya bicara soal potensi hingga permasalahan millennial. Pemerintah yang selama ini terkenal kaku juga sudah mulai memahami keberadaan kaum millennial sebagai generasi yang punya andil besar dalam segala hal - mulai dari membentuk opini hingga memilih pemimpin negara.  Namun, ketika semua masih sibuk bicara tentang millennial, sesungguhnya generasi berikutnya sudah hadir di depan mata. Generasi yang sepenuhnya lahir, besar, hidup di era digital. Generasi yang memiliki cara pandang yang akan jauh berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Mereka adalah Gen-Z. Kehadiran Gen-Z, yaitu manusia yang lahir dari tahun 1997-2012 (Pew Research Center), mungkin sekarang ini masih berada di bawah payung orang tua. Mayoritas dari mereka masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah atau universitas. Namun sebagaimana anak muda pada umumnya, mereka sudah mulai gemar melakukan kegiatan sosialisasi sana sini, sosialisasi yang tentunya sangat erat dengan makanan. Sebelum kita bicara mengenai kehadiran Gen-Z sebagai generasi yang akan memberi dampak ke bagaimana manusia Jakarta makan di masa depan, ada baiknya Kita melihat kembali peran generasi sebelumnya dalam membubuhkan 'signature' mereka di kancah kuliner ibukota.

Generasi terawal

Mungkin tidak Anda sadari, industri kuliner di Jakarta memiliki pola perkembangan tiap hadirnya generasi baru. Tiap generasi hadir dengan cara berpikir yang berbeda, lingkungan sosial yang berbeda, hingga keadaan dunia yang juga berbeda. Baby boomers (1946-1964) mewakili generasi terawal yang membangun fondasi gaya hidup kosmopolitan di Jakarta. Mereka tumbuh bersamaan dengan bergeraknya ekonomi dunia paska perang, mulai masuknya budaya asing, serta pemikiran bahwa mereka adalah "pemenang" yang lahir dari kelamnya sejarah perang.  Mereka memperkenalkan kepada kita budaya urban seperti disko, serta mulai membangun konsep restoran atau cafe sebagai tempat bersosialisasi. Dari segi selera dan cita rasa, umumnya para baby boomers lebih memilih makanan yang straightforward dan tidak bermacam-macam. Hal ini membuat mereka tidak terlalu senang eksplorasi lidah dan datang ke tempat makan yang sudah familiar. Jenis-jenis makanan yang popular di generasi ini sekarang sudah tergolong retro, seperti lobster thermidor, beef stroganoff, fruit pie, baked Alaska, seafood cocktail, club sandwich hingga banana split dan kue black forest. Generasi berikutnya, yaitu Generasi X yang lahir pada (1965 - 1980) juga turut hadir memberikan warna terhadap industri kuliner Jakarta. Mereka ini adalah generasi yang memantapkan apa yang sebelumnya sudah berlangsung di generasi baby boomer. Generasi ini besar di kala globalisasi sedang kencang-kencangnya, media seperti majalah, radio, film hingga televisi memperkenalkan dengan kultur pop yang penuh warna. Pilihan tempat makan yang hadir di generasi ini juga mulai beragam. Aneka konsep restoran dan cafe bermunculan pada masa ini. Ketika sebelumnya restoran hanyalah sebatas di hotel berbintang dan berpusat di Jakarta Pusat, tidak dengan generasi ini. Area tempat makan semakin menyebar hingga ke wilayah Jakarta Selatan, seperti Kebayoran Baru (khususnya Blok M) dan juga Kemang Raya. Menikmati soda, fried chicken, pasta, pizza, hingga restoran Meksiko dan makanan Jepang, all -you-can-eat,  sudah menjadi biasa. Generasi ini juga turut menjadi generasi yang memiliki andil untuk membangun industri kuliner baru yang lebih bersinggungan dengan unsur kreatif. Keinginan untuk mempunyai tempat makan yang sama dengan yang pernah dikunjungi keluar negeri atau yang dirasakan saat kuliah di Amerika Serikat atau Eropa membuat beberapa sosok dari generasi ini menciptakan restoran-restoran yang mengadopsi konsep tersebut, yang secara langsung memberi opsi baru kepada warga Jakarta untuk makan. Sebut saja lahirnya modern steak house, gastropub, bistro, Italian cafe, modern fast food, food court, club, banyak muncul ketika generasi ini sudah memasuki usia dewasa.

Dampak millennial untuk lanskap kuliner modern

Bagaimana dengan generasi millennial? Generasi ini memiliki kontribusi yang signifikan untuk perkembangan industri makanan di ibukota. Generasi millennial terawal - sama seperti Gen-X terawal ke baby boomers - menyempurnakan yang sebelumnya telah ada.  Ketika Gen-X menjadi penyedia, generasi milennial terawal umumnya adalah konsumennya.  Namun perubahan signifikan yang dilakukan oleh generasi millenial untuk kegiatan makan di Jakarta adalah pemantapan sebuah konsep yang dinamakan lifestyle dining. Konsep ini sudah memiliki embrio di pertengahan hingga akhir tahun 1990-an dengan munculnya shopping mall modern dan ramainya wilayah Kemang Raya, kemudian berkembang di tahun 2000-an dan mencapai puncaknya pada tahun 2008 hingga 2013 ketika grup besar seperti Ismaya, Union Group dan Potato Head Family bermunculan. Beriringan dengan kemajuan internet dan dunia yang dipenuhi dengan konten, hal ini secara langsung berpengaruh kepada cara manusia urban menikmati makanan. Restoran di dalam mall bukan lagi pilihan utama generasi ini untuk bersosialisasi, namun sebuah cafe yang terletak di daerah perumahan, atau restoran yang berada di pusat bisnis. Keinginan eksplorasi tempat baru kaum millennial pun melahirkan wilayah-wilayah destinasi kuliner yang sebelumnya tidak terpikirkan seperti Senopati, Gunawarman hingga Pantai Indah Kapuk. Keinginan untuk tampil juga menjadi salah satu pemicu utama generasi millenial melihat restoran baru dengan fungsi yang lain: yakni a place to see or be seen. Hal inilah yang juga menjadi pemicu bagaimana dekor restoran secara signifikan menjadi lebih vibrant dari tempat makan yang ada di generasi-generasi sebelumnya. Generasi ini juga menjadi penggerak yang memajukan produk lokal. Gerakan munculnya coffee shop baru, tempat makan yang menyajikan masakan Indonesia modern, hingga ramainya restoran berkonsep farm-to-table hingga vegan lahir di sini. Generasi ini juga mempopulerkan kembali budaya dinner party yang sempat tidak terdengar kabarnya. Mengadakan potluck dan makan bersama di rumah kawan hingga larut. Karaoke menjadi trendi; jamur dari Bangka dapat bersanding dengan jamur dari Perancis. Bubur ayam berhadapan dengan cafe Australia, dan makanan Hawaii sudah biasa seakan ia berasal dari sini. Tentunya, menikmati segala telur asin pun sudah senyaman menikmati segala dengan sambal matah. Ketika generasi millennial sedang penuh gairahnya membangun fondasi baru bagi kuliner ibukota, Generasi Z (Gen-Z) sudah mengintip dari balik pintu. Mayoritas anak-anak ini masih sekolah, tapi hanya menunggu lima tahun saja hingga banyak dari mereka sudah berada dalam posisi sebagai konsumen muda dan memiliki buying power dan memasuki dunia kerja. Intinya, merekalah masa depan - serta target berikutnya - dari industri kuliner. 

Memahami dunia tempat Gen-Z hadir Walaupun Gen-Z terawal yang lahir di akhir 1990-an sepertinya begitu dekat dengan millennial dan juga banyak terpapar dengan buah hasil budaya kuliner modern generasi ini, Gen-Z secara luas mengalami banyak hal yang berbeda dari bagaimana mereka mengkonsumsi makanan, salah satunya tentang budaya makan di rumah.  Selain karena semakin dimudahkan dengan hadirnya food delivery yang bisa menghantarkan sepotong iga konro Makassar sejauh 15 km langsung ke depan rumah, atau Japanese rice bowl dengan gyutan (lidah sapi) dalam sekejap - hal yang tidak mungkin terjadi 20 tahun yang lalu - berkurangnya jumlah orang tua yang pandai memasak menjadi faktor yang punya pengaruh besar. Dalam hal ini pengaruh terhadap penerimaan Gen-Z terhadap cita rasa. Menurut Oregon State University dalam jurnal mereka yang berjudul A Trained Palate, menyatakan bahwa manusia perlu waktu yang cukup lama agar dapat membentuk sebuah konsep rasa di lidah, di mana proses itu dimulai di saat kecil. Agar seseorang bisa mengenal rasa, sejak kecil mereka harus dibiasakan dengan makanan rumah, dan penting apabila sosok seperti ibu, ayah atau orang dewasa yang dekat dengan anak itu yang memasak. Karena makanan yang dimasak oleh ibu misalnya - yang bagi seorang anak sosok ibu sangat erat dengan simbol kasih sayang - secara langsung akan tertanam ke makanan tersebut. Hingga di kala mereka dewasa, saat manusia mencicipi makanan yang sama yang dahulu dimasak oleh ibu atau orang terdekat, akan membentuk sebuah konsep yang berhubungan erat dengan nostalgia, rasa nyaman, serta paling penting memberikan identitas dari mana mereka berasal.  Pertanyaannya, apabila sudah berkurang jumlah orang yang memasak bagi generasi baru di rumah, akan seperti apakah nanti konsep nostalgia dan comfort food bagi para Gen-Z? Bisakah rasa kehangatan tangan orang tua digantikan dengan ingatan tentang datangnya makanan cepat santap? Apakah kenangan seperti rasa kecap yang bermain di antara nasi putih dan ayam goreng tergantikan dengan semangkuk poke bowl? Menurut Nediva Mary (22) seorang mahasiswi, ia mengatakan bahwa makan di rumah sudah jarang ia lakukan. Hampir setiap hari ia dimudahkan dengan hadirnya food delivery. Namun ketika weekend, ia pun sering pergi keluar, mencicipi tempat baru di Ibukota. Ketika Gen-Z beranjak dewasa, maka segala makanan yang mereka nikmati sejak kecil (berarti terhitung 15 tahun lalu hingga sekarang) seperti pergi ke restoran dengan masakan Barat, masakan Jepang atau segala hal berbau telur asin, menjadi penentu akan seperti apa preferensi mereka nanti di kala dewasa dan mapan. Hal ini terjadi dengan Nediva, di mana baginya makanan yang membuatnya ingat dengan saat ia kecil adalah pasta. Tapi ada juga sebuah perspektif yang menarik. Tidak seperti generasi-generasi sebelumnya, pilihan makanan yang hadir di era sekarang tidak terhitung banyaknya. Mulai dari masakan Peru, hidangan kontemporer, burger house, restoran barbecue Brazil, restoran vegan, aneka dessert Jepang atau Korea, hingga kuliner dari Timur Indonesia seperti se'i (daging asap) ada di mana-mana di Jakarta. Apabila Gen-Z sejak kecil terpapar dengan ragam rasa tersebut, besar kemungkinan justru generasi ini akan menjadi generasi dengan preferensi lidah paling tajam, karena kita semua tau bahwa kunci untuk menjadi seorang gourmand atau gourmet adalah membiarkan lidah kita mencicipi segala rasa yang dibuat dengan benar. Apabila kue pada jaman baby boomers hingga Gen-X hanya terbatas pada black forest, tiramisu dan fruit pie, maka millennial dan Gen-Z beruntung bisa mencicipi silky pudding, pannacotta, red velvet, cronut, entremet patisserie, banoffie pie, Japanese cheese cake, roti nougat dan lain sebagainya. Pasta tak lagi hanya carbonara atau Bolognese. Aglio olio, gnocchi butter sauce, salmon spaghetti, cheese wheel, dengan jamur truffle, hingga menggunakan uni khas Jepang.  Mereka besar di era di mana makanan dielukan di mana-mana. Mereka hidup di masa saat es krim menjadi trendi kembali bersamaan dengan kepedulian akan alam dan sosial juga kencang-kencangnya. Walaupun mencicipi makanan rumahan sangatlah penting, tidak bisa dipungkiri orang tua sekarang berbeda dengan orang tua puluhan tahun lalu. Apabila memasak di rumah tidak sempat, maka memori bisa dibangun dengan pergi bersama ke restoran. Makan di restoran setidaknya memberikan nuansa kebersamaan dalam satu meja, serta memberikan kesempatan bagi seorang anak untuk mencoba berbagai hal baru. Dengan semakin banyaknya anak Gen-Z yang sejak kecil merasakan pengalaman makan di restoran, maka ketika mereka dewasa nanti diharapkan nilai-nilai yang mereka dapatkan di kala kecil datang ke restoran bersama keluarga akan tetap dicari.

Generasi kritis yang menaruh perhatian pada produk lokal Di Jakarta sebagai kota urban, Gen-Z tumbuh bersama dengan pertumbuhan kota yang sangat cepat dan dinamis. Mereka hidup di mana tata kota sudah semkain baik, di mana transportasi sudah dimudahkan dengan online hingga Mass Rapid Transit (MRT), serta kegiatan akhir minggu tidak lagi sekedar nongkrong di dalam mall namun olahraga bersama, mendatangi festival seni, hingga bermain di taman. Mereka juga menjadi besar di kala banyak topik sosial yang diangkat, sampai masalah pemanasan global. Hal di atas secara tidak langsung akan memberikan dampak ke individu masa depan, di mana mereka di satu sisi sangat bebas namun juga di satu sisi sangat kritis. Menurut firma McKinsey, Gen-Z yang hidup di kota besar akan sangat terpengaruh dengan keadaan sosial hingga isu yang ada di sekitarnya. Dan siap atau tidak, cara mereka melihat dan menikmati makanan akan berbeda. Tidak lagi menggunakan plastik serta mencoba makanan vegan menjadi dua hal yang sangat menonjol sekarang ini. Namun kecintaan akan produk lokal juga akan muncul didorong oleh digaung-gaungkannya gerakan local produce.  Menurut chef Ragil Imam Wibowo, pemilik dari restoran kontemporer yang menggunakan pangan lokal, NUSA Indonesian Gastronomy di wilayah Kemang, ia mengatakan saat forum IdeaFest pada awal Oktober kemarin, bahwa dirinya terkejut ketika ada sekumpulan anak-anak Gen-Z yang merayakan ulang tahun di restoran miliknya. Ketika ditanyakan, alasan mereka sederhana: makanan Indonesia itu keren, dan kami ingin merayakannya. Ketertarikan Gen-Z akan produk lokal juga disampaikan oleh Tissa Aunila, owner dari Pipiltin Cocoa kepada Top Tables, bahwa menurutnya Gen-Z adalah generasi paling kritis dan paling peduli dengan isu sosial, entah karena betul-betul dari hati atau pun sekedar untuk eksistensi. Tapi bagaimana pun, topik sosial sudah ada di benak mereka.


Dengan segala keunikannya, maka tinggal menunggu waktu saja perubahan dari segi lanskap kuliner digerakkan oleh Generasi-Z yang sudah semakin banyak ini. Adalah sebuah tantangan bagi setiap industri, termasuk makanan, untuk dapat mengerti pola pikir dan pola konsumsi mereka, terutama pola konsumsi yang di masa depan akan sangat erat kaitannya dengan perkembangan teknologi serta pengaruh budaya modern yang berubah dengan cepat.

Maka pertanyaan besarnya: apakah restoran dan pengusaha makanan siap untuk menerima kedatangan serbuan generasi ini ke depan?

Sumber data: Pew Research Center, McKinsey & Company, Oregon State University, TIME Magazine

562 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png