Food Waste: Saat Mubazir Tak Lagi Bermakna

Krisis pangan global sedang mengintai dan diperparah dengan hadirnya pandemi Covid-19. Saatnya kita mengubah pola produksi dan konsumsi serta mulai peduli sesama.


Oleh Allysa Putrie

Kebiasaan membuang makanan telah berkontribusi dalam krisis kelaparan | Unsplash

Krisis global akibat pandemi telah memaksa manusia untuk berefleksi pada apa yang paling penting dalam berkehidupan. Mengamini pentingnya sadar lingkungan atau menjaga kesehatan dengan tidak makan berlebih yang sebetulnya tak hanya sebagai bentuk penghematan, tapi juga jadi cara untuk mereduksi kerusakan lingkungan. Isu-isu yang sebelumnya tak sampai di telinga, kini pun terjangkau karena pandemi telah mengubah cara pandang kita.


Isu pangan mendapat perhatian lebih di masa pandemi. Jutaan manusia kehilangan pekerjaan yang akhirnya memunculkan krisis ekonomi serta masalah kelaparan. Walau masalah kelaparan bukanlah hal baru, tetapi penyebaran wabah secara global malah semakin memperparah keadaan. Menurut The World Food Programme, tingkat kelaparan akan mencapai 270 juta orang hingga akhir tahun 2020 akibat pandemi.


Di saat yang bersamaan, problematika food waste atau sampah makanan turut membayangi. Ketika dunia sedang terancam kesenjangan pangan, tingkat pembuangan makanan tak mengalami pengurangan. Sumber sampah makanan tak hanya dihasilkan oleh satu rantai saja, seluruh rantai pasokan makanan ambil andil dalam penumpukan. Jika sebelumnya penyumbang sampah makanan terbesar berasal dari mata rantai konsumsi (rumah tangga dan bisnis kuliner), pada masa pandemi covid-19 ini sampah makanan justru lebih tinggi di mata rantai produksi seperti pertanian dan peternakan. Menurunnya daya beli masyarakat menempatkan produsen pada posisi yang kurang menguntungkan.


Seperti yang terjadi di Ohio, Amerika Serikat pada April lalu. The New York Times melaporkan, para petani telah membuang berton-ton telur, susu dan hasil tani lainnya karena kampus, sekolah dan restoran -yang biasanya membeli pasokan dalam skala besar- harus tutup akibat covid-19.


Mereduksi sampah makanan tentu akan semakin sulit dilakukan oleh negara-negara dengan pengelolaan food waste yang buruk. Mengkoordinasikan sistem pangan dengan baik, memaksimalkan pemanfaatan hasil produksi agar tidak mubazir sangatlah mungkin. Hanya saja membutuhkan waktu.


Dalam data yang dipublikasikan oleh Food Sustainability Index, negara dengan pengelolaan food loss and waste terbaik (skor 85.80) adalah Perancis. Tentu data ini sangat mengejutkan padahal Perancis merupakan pusat gastronomi se-dunia. Perjalanan Perancis dalam mengatasi sampah makanan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun dengan aturan-aturan dari pemerintah yang begitu serius terhadap isu ini, Perancis berhasil menjadi teladan di Uni Eropa.


Pada tahun 2016, Perancis adalah negara pertama yang melarang supermarket untuk membuang produk makanan tak terpakai. Selama produk tersebut masih bisa dikonsumsi dan tidak melampaui tanggal kadaluwarsa, supermarket berkewajiban untuk mendonasikannya baik langsung kepada yang membutuhkan maupun melalui badan amal.


Indonesia sendiri berada pada peringkat 53 dengan skor 61.40 pada daftar. Tentunya bukan merupakan kabar baik karena kasus kelaparan dan malnutrisi di Indonesia masih berada pada tahap serius. Sementara pemborosan makanan di Indonesia kian meningkat. Mungkin kata mubazir tak lagi bermakna.


Keresahan inilah yang kemudian menggerakkan Foodbank of Indonesia (FOI) untuk turut memerangi kesenjangan pangan, kelaparan, serta pengurangan sampah makanan di Indonesia melalui program-programnya.


“FOI bergerak untuk menjembatani antara masyarakat yang berlebihan makanan dengan masyarakat yang membutuhkan. Kami mendukung negara dalam mencapai target SDG’s (Sustainable Development Goals) nomor dua yaitu kedaulatan pangan.” Ujar representasi Foodbank of Indonesia ketika dihubungi oleh tim Top Tables. “Kami bekerjasama dengan institusi pemerintah dan badan usaha guna untuk ikut berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan pangan juga gizi.”


Pandemi Covid-19 tak menghentikan semangat FOI dalam menjalankan program yang berfokus pada perbaikan gizi anak dan lansia. Dengan komitmen untuk terus mendekatkan akses pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia walau di tengah pandemi, FOI kemudian meluncurkan program terbaru bernama “Mereka Butuh Kita”. Program ini telah membagikan lebih dari 129.000 paket sembako serta 41.000 porsi makanan siap saji bagi garda terdepan dan lansia.


Dalam sistem food bank sendiri, siapapun bisa mendonasikan sisa bahan makanan layak untuk didistribusikan kepada yang memerlukan. Organisasi nirlaba yang bergerak di bidang food bank tak hanya ada di Indonesia dengan tujuan yang sama walau caranya berbeda-beda. Di Binghamton, New York, Binghamton Food Rescue (BFR) mengumpulkan bahan makanan mudah layu (buah,sayur,daging segar) untuk dijadikan paket lalu dibagikan pada komunitas-komunitas yang membutuhkan makanan.


Di Amerika dan Eropa, distribusi makanan biasa dilakukan di satu tempat yang disebut Soup Kitchen. Para relawan berkumpul untuk memasak sumbangan bahan makanan dari para donatur lalu mereka yang membutuhkan bisa mengantri makanan hangat gratis atau berbayar namun dengan harga murah.


Ketika berbincang mengenai masalah sampah makanan di Indonesia, FOI menerangkan bahwa faktor pembuangan makanan secara sia-sia merupakan gabungan dari berbagai elemen. “Masalah teknis, kepraktisan, dan ketidaktahuan baik pada produsen, pengecer, pembuat regulasi maupun budaya. Juga kesadaran masyarakat tentang seberapa banyak makanan yang telah mereka buang.” Terang pihak FOI.


Pegiat bisnis pun harus berkaca dan mulai memikirkan upaya pengelolaan sampah makanan, mengingat industri f&b dan hospitality juga berperan besar dalam isu food waste. Walau tak bisa berubah dalam waktu singkat, optimisme serta perhatian dalam membangun kesadaran mengenai isu pangan sangatlah diperlukan agar kehidupan berkelanjutan dapat diraih.


“Untuk mencapai kemerdekaan sejati, kita harus merdeka dari rasa lapar.” Ujar pihak FOI, mengakhiri perbincangan dengan Top Tables.


Karena peduli sesama adalah kunci utama untuk melewati tahun 2020 bersama.

Foodbank of Indonesia adalah organisasi yang dibentuk untuk melawan kelaparan dan mengatasi kesenjangan pangan di masyarakat.


www.foodbankindonesia.org

Jl. Abdul Majid Dalam III No. 2B, Komplek Deplu,Cipete, Jakarta Selatan

Email: foodbankindo@gmail.com

Telp. : +62217581.0309 / +6281293663649


66 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png