Egghotel is a Cool Restaurant yet Ambivalent Cooking

Ulasan terbaru dari Kevindra P. Soemantri tentang Egghotel, hidden restaurant di Jakarta yang sedang jadi primadona.


Salah satu hal yang menjadi penyemangat setiap penulis makanan adalah apabila kami mendengar bahwa terdapat restoran yang unik dan rumornya menyajikan makanan lezat namun terletak di daerah yang tidak umum.


Ada sensasi petualangan yang timbul bila mengunjungi tempat tersembunyi seperti itu, salah satunya restoran Egghotel yang berada di kawasan padat Karet Pendurenan yang diapit oleh tiga jalan utama Jenderal Sudirman, Jalan Prof.Dr. Satrio dan Jalan HR Rasuna Said. Ia terletak di lantai 3 apartment Suites at Seven Rooftop, di mana bagian bawahnya juga terdapat Fillmore Coffee yang dikenal oleh kaum kreatif urban sebagai salah satu spot sempurna untuk remote working, istilah yang jadi favorite pekerja modern Jakarta.


Di lantai tiga gedung, Egghotel tampil dengan penuh gaya. Desain restoran seamless dan berkarakter kuat, dimulai dari tangga menuju restoran yang dipasang poster triwarna merah, kuning, hijau kreasi firma Studio Spasi. Apabila menjadi seorang manusia, dining room mungkin akan mengambil wujud sebagai eksekutif muda dengan minat akan seni yang tinggi, memiliki mobil BMW alih-alih Mercedes Benz, serta bergaya yang modis dan chic. Penggunaan kaca sebagai dinding restoran memungkinkan cahaya natural masuk secara masif dan membuat hidup ruangan dikala pagi hingga sore, sementara nuansa urban akan muncul sesaat sang mentari terbenam dan digantikan dengan cahaya lampu yang gemerlapan dari gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi.


Poster di tangga menuju Egghotel | Top Tables

Dilihat dari menu, Egghotel dengan jelas sangat berpaku kepada konsep brunch Australia yang identik dengan egg benedict (di sini dinamakan Hey, Benny!) sampai penggunaan kembang kol (yang dalam menu dijadikan cauliflower rice menemani pulled pork.) Arancini yang dibentuk kotak dan dibuat dari nasi hitam alih-alih risotto yang dipadatkan menjadi pembuka yang baik. Adanya mayonaise dan goat cheese memberikan tekstur creamy yang menyeimbangkan renyahnya lapisan keemasan tipis dari breading arancini. Ia gurih tapi tak berlebih.


Chef Guswandi Taslim, adalah head chef di sini. Ia memiliki resume yang baik, seperti pernah bekerja di restoran Quay yang dikepalai oleh Peter Gilmore. Nuansa Australia memang terasa dalam desain menu yang ia lakukan, walaupun tanpa ia sadari terlihat beberapa effort yang sedikit berlebihan dalam pembuatan menu, sehingga menghasilkan beberapa (tidak semua) makanan yang menjurus kepada anomali di dalam mulut, seperti Ox Bowl yang kami pesan.


Ada kalanya makanan dapat dicintai setelah suapan ketiga atau keempat. Namun sudah suapan keenam, saya masih belum bisa menemukan benang merah yang ditawarkan oleh Ox Bowl ini. Kolaborasi ontama (onsen tamago) yaitu telur yang dimasak dengan suhu rendah sekitar 60 C - 70 C dengan salsa nanas serta cabbage slaw rupanya menghasilkan kubangan air tipis yang mengendap di bawah tumpukan nasi hitam dengan saus keju bechamel (saus Mornay kalau dalam repertoire Perancis) dan irisan lidah sapi. Lidah sapi memang dimasak dengan baik dan berbumbu pas, namun campuran keseluruhannya menjadi kesatuan yang tak elok saat bersama.


Cube Arancini | Top Tables

Ketika menu berharga tertinggi bernama Yuzu by The Sea kami pesan, tentu ekspektasi yang diharapkan juga seimbang. Terlebih deskripsi dalam menu yang cukup menggelitik lidah yaitu ikan barramundi dengan miso, black pumpkin gnocchi, saus krim dengan jeruk, yuzu chili jam serta “mie” yang terbuat dari untaian zukini. Tidak ada yang salah dengan zukini yang dimasak dengan sangat baik, bertekstur masih sedikit chunky dan sudah terlapisi oleh saus krim ringan dengan sentuhan wangi jeruk yang manis. Selai cabai yang sejatinya mirip dengan sambal ini juga cantik dengan sentilan-sentilan asam sitrus khas buah yuzu yang tipis.


Namun ikan barramundi kami datang dengan kondisi tak seperti rekan yang lain. Ia ibarat Cinderella, sang pemeran utama yang diperlakukan tidak adil. Ketika komponen yang lain bersinar, ikan tersebut malah menjadi nila setitik bagi hidangan ini dengan isu yang kami perkirakan merupakan masalah storaging, hal sepele yang sering sekali terlupakan oleh tim di dalam dapur.


Sembari meminum Tiki Jam dingin yang sangat terasa campuran jahe, lemon dan cengkeh bernama falernum dari Kepulauan Karibia, saya mulai menyadari bahwa Egghotel memiliki desain yang mengingatkan dengan restoran Copper di Ubud, Bali. Banyaknya penggunaan kaca memberikan kesan lapang bagi restoran dengan kapasitas yang tidak lebih dari 60 orang ini, sementara pemilihan kursi dan meja kayu dengan finishing halus memperlengkap kenyamanan pengunjung saat duduk.


Menu Egghotel ini ibarat sebuah album kompilasi. Ya, tentu tidak semua isi dari kompilasi tersebut merupakan best-seller dan bahkan ada yang memberikan kesan terburu-buru dibuat, namun ada pula yang asik untuk terus menerus dinikmati, seperti blackened corn. Blackened corn ini mungkin saja terinspirasi oleh blackened corn on the cob versi Meksiko atau mungkin blackened fish ala makanan Cajun di New Orleans. Ia merupakan jagung muda yang dibelah tipis lalu dilapisi dengan adonan hitam yang terbuat dari charcoal sehingga ketika matang menyerupai ranting-ranting pohon yang menghitam. Cita rasanya sederhana namun tepat. Rasa gurih dari adonan yang tidak terlalu tebal, rasa earthy yang tipis dari charcoal, serta manisnya jagung.


Forget Nandos | Top Tables

Untuk menu Forget Nandos sendiri masih terasa perlu disempurnakan. Lapisan bumbu peri-peri yang umumnya harum dan kaya akan perkawinan bumbu dari kuliner Portugal dan Africa seperti kulit jeruk, bayleaf, paprika, pimento pepper, oregano dan lainnya masih malu-malu. Sementara adonan corn dog yang manis gurih itu sangat mendominasi, walaupun penggunaan terung di dalamnya harus dipertanyakan lagi karena memiliki tekstur dan aroma yang tidak kooperatif.


Pada akhirnya saya merasakan bahwa Egghotel ini sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi salah satu restoran di Jakarta dengan memberikan excitement tersendiri. Mereka sudah memiliki resep-resep untuk restoran yang baik seperti cross ingredients, menu yang fokus dan tidak banyak serta dining room dengan ukuran yang pas serta pelayanan yang cukup baik dari front of the house. Namun walaupun saya tidak bisa memungkiri bagaimana menu Egghotel terlihat masih memerlukan penyempurnaan di kiri dan kanan, saya masih punya harapan akan tempat ini.


ALAMAT

Lantai 3, Suites at Seven Rooftop, Jalan H.Sidik No.7, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta.

(021) 57851751 ext. 191


HARGA

Rp150.000 - Rp 300.000/person. Tergantung banyak dan jenis menu yang dipesan.


DETAIL

Tempat ini sangat cocok untuk menjadi spot unwinding setelah jam kerja. Memiliki private room kapasitas 10 orang. Tidak ramah tunadaksa dan manula.


MENU REKOMENDASI

Cube arancini. Blackened corn. Hey, Benny! dan Kluwek stacks.

Oleh Kevindra P. Soemantri, founder dan restaurant observer dari Top Tables.


Disclaimer: Top Tables datang tanpa diundang, secara anonim dan kami membayar sendiri makanan yang kami pesan.

227 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png