Dear Restaurant: Salahkah Saya Makan Sendirian?

Updated: Feb 15

Opini yang ditulis dari perspektif solo diner.


Makan seorang diri bisa menjadi cara untuk evaluasi diri | Mike Meyer for Unsplash

"Buat satu orang ya mbak," ujar saya suatu siang di salah satu Chinese restaurant di wilayah Jakarta Selatan. "Satu orang ya Pak?" Respon waiter itu dengan nada yang meyakinkan saya serta dirinya. "Iya mbak, satu orang saja." Masalah pun tidak selesai. Ia tampak kesulitan mencarikan saya tempat duduk di antara lautan kursi dan meja untuk 4, 6 hingga 8 orang. Saya seperti bebek yang mengikuti tuannya selagi ia melewati sela-sela antar kursi dan meja di dining room yang penuh bak labirin.


"Di sini saja mbak." Tunjuk saya ke meja untuk empat orang. Lalu tentu saja saya seorang diri, tidak mungkin juga saya pesan terlalu banyak variasi. "Ini saja Pak? Enggak mau coba lainnya?" Sementara ia baru saja menyebutkan tiga makanan yang saya pesan. "Enggak mbak, cukup. Kebanyakan." Akhirnya selesai sudah drama di awal. Adegan seperti ini apakah juga sering Anda rasakan ketika makan sendirian di sebuah restoran? Nampaknya selain cafe, datang ke sebuah restoran sendirian masih dianggap agak aneh bagi kebanyakan orang.


Restoran memang sejak awal memiliki konsep untuk menjamu orang banyak. Namun konsep makan beramai-ramai lebih kental ketika masuk ke wilayah Asia yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan, kekeluargaan dan komunitas. Tidak ada yang salah dari makan beramai-ramai. Ketika hal itu terjadi, makanan adalah media pemersatu banyak orang di meja makan. Fokusnya adalah cerita masing-masing manusia, bukan makanan. Hal yang indah dan juga mulia. Namun ketika kita makan sendiri, makanan tidak menjadi media namun jadi objek fokus kita. Hanya ada hubungan antar manusia dan makanan saat kita makan sendirian, keintiman yang berasalkan hasrat untuk mencicipi rasa.


Industri restoran sebenarnya tidak pernah melarang seseorang untuk makan sendirian di tempat mereka, namun terkadang hal ini masih dianggap kebiasaan yang tidak umum. Tentu sebagai entitas bisnis, lebih banyak tamu artinya lebih banyak juga pemasukan. Belum lagi turnover satu meja di sebuah restoran umumnya memakan waktu 45 - 60 menit dari satu tamu ke tamu lainnya, jadi tentu tiap kuota pergantian sangat bernilai. Namun sebenarnya bila dilihat lagi, mayoritas solo diner cenderung menghabiskan waktu lebih cepat untuk makan. Prinsip ini banyak diterapkan oleh restoran bertema ramen serta fast food.


Sebagai seorang food writer, terkadang ada saat dimana saya harus datang ke restoran untuk mengulasnya secara independen. Bagi saya pribadi, tidak ada cara yang lebih maksimal selain datang dan makan seorang diri. Mengapa? Ketika mengulas makanan, Anda hanya ingin fokus kepada keseluruhan experience. Mulai dari etika waiter, baju yang mereka pakai, kebersihan meja dan lantai, apakah ada yang kotor di langit-langit, temperature makanan yang datang ke meja Anda, aromanya, rasanya, semuanya. Akan maksimal untuk dapat menyerap semuanya kalau datang sendirian. Anda tidak perlu diganggu dengan obrolan basa basi yang itu-itu lagi dan seringnya tidak relevan.


Sedih? Ironis? Tidak juga. Danny Meyer, restaurateur pemilik Union Square Hospitality Group yang berbasis di New York City, solo diner diberlakukan spesial di restoran yang ia miliki. Menurutnya justru orang yang memilih untuk menghabiskan waktu untuk makan sendirian ke restorannya berarti sangat menghargai restoran tersebut, dikarenakan ia memilih datang sendirian alih-alih pesan melalui delivery atau take-away. Dengan kata lain, orang tersebut ingin menghabiskan me-time dengan melibatkan makanan di restoran miliknya.


Memang bagi sebagian orang (terutama di kota besar) makan sendirian pasti mengundang rasa insecurity. Stigma seperti sedang stress dan ingin sendiri; ditinggal kekasih pergi; menghibur diri dari urusan kantor yang memuakkan - banyak yang menempel bila melihat seseorang makan sendirian di sebuah restoran, seakan ini adalah hal tabu yang pantang dilakukan.


Namun coba lihat dari perspektif yang berbeda seperti ini: kegiatan makan sendiri sebagai retreat singkat di tengah padatnya rutinitas seharian. Makan sendirian memberikan momen zen; memberikan waktu untuk merefleksi yang sudah dan akan dikerjakan di hari itu. Momen makan sendirian juga bisa jadi saat yang tepat untuk mengurai ide-ide yang sempat muncul di kepala namun teralihkan dengan banyaknya pekerjaan. Inilah saat kita melihat ke dalam diri sambil dibuai dengan tekstur, aroma, rasa hidangan yang sedang berkasih di dalam mulut. Bahkan kalaupun tidak ada alasan khusus dan hanya ingin menikmati waktu sendiri juga tidak masalah. Hak asasi tiap manusia. Sah.


Ada sebuah pengalaman menarik yang saya alami ketika makan di Sundara di hotel Four Seasons di Jimbaran, Bali. Ketika menyebutkan nama reservasi saya, greeter tersebut langsung sigap menggiring saya menuju meja. Bukan hanya itu saja, di tengah jalan ia bergerak mengambil tiga tumpuk majalah lifestyle terbaru, dan didekapnya di bagian dada. Saya pun diberikan meja dengan kursi sofa yang menghadap pantai, dan majalah tersebut diletakkannya di atas meja. Sebelum selesai, ia pun tidak lupa memberi salam, "Semoga menikmati waktu makannya di Sundara." Untuk saya, ini adalah salah satu contoh pelayanan terbaik yang bisa didapat seseorang yang makan sendirian. Ia tak perlu bicara banyak, namun standar yang dipakai jelas: menyuguhkan majalah untuk menemani tamu yang duduk seorang diri, serta memberikan kursi dengan pemandangan yang solo diner mana pun akan bergembira.


Jadi untuk restoran, cobalah sesekali lebih memperhatikan para tamu yang duduk sendiri menikmati makanan di restoran Anda. Karena pada saat itu mereka memilih untuk berada di tempat Anda dibanding puluhan bahkan ratusan tempat lainnya.

Oleh Kevindra Soemantri, founder dan restaurant observer Top Tables.

  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png