Dear People, Mari Hormati Titel 'Chef'

Updated: Feb 15

Jangan asal sebut dan mengaku chef, pahami dulu maknanya.


Chef on duty | Unsplash

Seorang chef memiliki tanggung jawab yang besar. Namun, sekarang ini titel chef seakan sudah hilang maknanya dengan banyaknya orang yang berani menyematkan kepada diri mereka asalkan bisa memasak. Sebenarnya apa sih chef itu dan tanggung jawab mereka? siapakah yang layak disebut sebagai chef?


Hingga tahun 2010 siapa yang sudah mendengar bahwa teman atau keluarganya ingin menjadi seorang chef ketika besar? Sangat jarang atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun hanya berselang satu tahun, yaitu di tahun 2011, hal yang menakjubkan terjadi secara masif: setiap orang seakan ingin menjadi seorang chef atau pun tertarik mengenal lebih jauh profesi itu.


Kami pun sering sekali ditanyakan oleh banyak orang dewasa yang menanyakan tempat terbaik untuk sekolah kuliner bagi anaknya. Bagus sekali bila mereka masih muda ingin belajar basic skill dalam culinary art, dimana hal itu sangat diperlukan apabila ingin bekerja di dalam dapur. Namun, ada satu fenomena yang terjadi seiring semakin digemarinya profesi ini secara nasional, yakni munculnya individu-individu yang tidak dibekali oleh pengalaman memasak tapi dengan bangga membawa titel chef ke mana pun mereka mencari rezeki.


Baiklah, sebelum kami mulai lebih jauh, izinkan kami untuk memperjelas bahwa di era modern ini ada dua jenis chef: professional chef yang bekerja di dalam dapur dan chef selebritas (celebrity chef). Tapi sayangnya hingga sekarang masih banyak kerancuan tentang kedua posisi itu. Masyarakat awam masih belum tahu bagaimana perbedaan ataupun persamaan mereka.


Untuk chef sendiri, sesungguhnya posisinya sudah lama ada, bila ingin dirunut maka sejarahnya akan sama panjang dengan cerita para kaisar dan raja-raja masa lampau yang memang memiliki juru masak khusus untuk mereka. Namun apabila berbicara tentang chef secara profesional, maka hal ini tidak bisa lepas dari sosok Auguste Escoffier yang melahirkan sebuah sistem kitchen brigade yang sekarang ini dipakai di hampir seluruh restoran di dunia, mulai dari gaya kasual hingga fine dining. Escoffier menciptakan sistem hirarki di dalam dapur di akhir abad ke-19, meniru dari bagaimana militer memiliki sistem kerja yang sangat efisien dan terorganisir.


Para chef yang bekerja secara profesional di dalam dapur ini umumnya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengasah ilmu dan menyempurnakan teknik memasak mulai dari membuat aneka saus dasar hingga cara mengolah aneka macam hidangan. Mereka bekerja dari satu institusi ke institusi lainnya, umumnya hotel bintang lima dan restoran, dan belajar dari banyak chef ternama hingga menemukan mentor yang tepat. Mulai dari titel chef de partie yang memimpin satu kelompok, saucier chef yang khusus bertugas membuat saus, patissier chef yang khusus bertugas untuk dessert, hingga sous chef dan head chef - semuanya memiliki tanggung jawab dan tugas masing-masing di dalam dapur yang sangat penting.


Menjadi seorang chef profesional memang tidak mudah. Perlu waktu yang lama, jam kerja yang panjang serta pemahaman tentang makanan yang sangat luas hingga dapat berada di posisi teratas. Kedisiplinan tingkat tinggi seperti tentara, memiliki tingkat fokus yang tinggi dan tajam seperti dokter bedah, serta kreatifitas tak terbatas layaknya seniman adalah tiga hal yang harus dimiliki bila ingin menjadi seorang chef profesional.

Lalu bagaimana untuk celebrity chef atau chef selebritas?

Kedisiplinan tingkat tinggi seperti tentara, memiliki tingkat fokus yang tinggi dan tajam seperti dokter bedah, serta kreatifitas tak terbatas layaknya seniman adalah tiga hal yang harus dimiliki bila ingin menjadi seorang chef profesional.

Ini yang menarik. Bila di Indonesia posisi celebrity chef sangat digandrungi karena dianggap dapat menjadi salah satu cara terkenal di televisi apabila tidak punya suara yang bagus atau ilmu seni peran yang payah - hanya modal masak sederhana atau fresh graduate dari sekolah kuliner - pemahaman ini adalah kesalahan besar.


Sesungguhnya, posisi celebrity chef justru lebih krusial dari chef profesional dalam konteks publik secara umum. Mengapa? Karena celebrity chef-lah yang memiliki power untuk dapat mempengaruhi masyarakat secara masif. Mereka punya kuasa untuk mengajar cara memasak yang tepat dan memperkenalkan masyarakat kepada kayanya dunia kuliner serta punya pengaruh untuk bisa memberikan impresi yang baik - dan tepat - terhadap industri food and beverage melalui kuasa media massa. Pertanyaannya, bagaimana kalau sang celebrity chef tidak punya kapasitas tersebut dan hanya memanfaatkan pamornya hanya demi memperbesar pundi-pundi dan tidak melihat tanggung jawab yang ia pikul?


Baiklah, lebih baik apabila kami memberikan contoh-contoh celebrity chef yang ada di dunia. Sesungguhnya bila melihat sosok celebrity chef di Amerika Serikat, Inggris dan Australia, justru mereka bukanlah tokoh-tokoh karbitan yang baru tunas. Para celebrity chef secara mayoritas adalah tokoh senior yang memiliki pengetahuan serta pengalaman panjang dalam dunia food and beverage. Mereka bisa saja chef profesional yang kualitas restoran dan masakan sudah diakui secara global bahkan sebelum terkenal di televisi (Gordon Ramsay, Heston Blumenthal, Jamie Oliver, Bobby Flay, Shannon Bennet); penulis buku masakan yang sudah menjadi best-seller selama bertahun-tahun dan dianggap sangat membantu masyarakat umum untuk menyajikan makanan yang berkualitas di dapur rumah (Nigella Lawson, Julia Child, Mary Berry, Maggie Beer); atau sosok profesional yang bertahun-tahun entah itu mengelola restoran dan hotel, menjadi penulis atau editor majalah kuliner serta mengenal betul industrinya dari hulu ke hilir (Rachael Ray, Donna Hay, Anthony Bourdain)


Oleh karena kurasi yang sangat detail dan ketat untuk siapakah yang patut muncul di televisi dan memperkenalkan penonton akan dunia kuliner serta masakan, tidak heran pemahaman kuliner masyarakat di tiga negara tersebut terbilang sangat mature. Lalu bagaimana di Indonesia?


Masyarakat kita dapat dibilang masih perlu dididik lebih lagi agar memahami keunikan dari masifnya industri kuliner. Hal ini sebenarnya berada di tangan media massa yang punya kuasa untuk menampilkan konten-konten tentang makanan. Apabila dahulu menjadi celebrity chef tetap memerlukan proses, sekarang berbeda. Terlebih lagi dengan adanya media sosial sekarang yang semua serba cepat. Tidak perlu menunggu panggilan dari televisi untuk iklan atau acara memasak, kita sudah bisa membuat acara sendiri dengan media YouTube atau kalau mau lebih mengganggu ya dilakukan di Instagram. Hal ini akhirnya menjadikan siapa pun bisa untuk memiliki “acara” masak sendiri yang tentunya ditonton masyarakat secara masif.


Hal ini menurut kami patut jadi perhatian karena akan berdampak kepada image dari chef sendiri untuk generasi baru. Apabila sebelumnya sosok seorang chef sangat dipandang dengan penuh hormat dan respek, hal ini bisa berubah bila tidak adanya rasa tanggung jawab dari para “celebrity chef” dadakan yang tanpa mereka sadari mempengaruhi bagaimana masyarakat melihat sosok chef di mata mereka.


Sementara menurut Massimo Bottura, chef profesional berbintang tiga Michelin yang sekarang sudah menjadi sosok yang sama populernya dengan selebritas di Italia dan dunia, sosok chef (entah itu profesional dan selebritas) memiliki tanggung jawab secara sosial yang sangat besar dikarenakan chef bekerja dengan makanan, yang makanan itu sendiri merupakan produk budaya yang lahir dari paduan kultur manusia serta kekayaan alam sebuah daerah.


Jadi untuk masyarakat umum, hargailah titel chef. Ia celebrity chef bukan berarti adalah chef profesional. Jangan asal sebut orang yang bisa memasak sebagai chef, karena pekerjaan di dunia kuliner ini sangat luas dan beragam, dimana hampir semuanya mengharuskan untuk mengerti proses memasak. Lalu untuk orang-orang yang bisa memasak dan ingin menjadi selebritas, tolong ketahui tanggung jawab yang kalian pikul terhadap industri itu sendiri serta terhadap audiens. Janganlah melupakan kesakralan dari titel chef yang sudah dibangun selama ribuan tahun dengan keringat dan loyalitas tanpa batas hanya demi lampu sorot semata.


Untuk para pelaku industri media televisi ingatlah bahwa sosok yang Anda pilih untuk menjadi tokoh utama acara akan berdampak ke bagaimana masyarakat awam menangkap gambaran industri kuliner secara keseluruhan.


Bijak untuk diingat bahwa sesungguhnya celebrity chef bukan hanya soal memberi pemahaman tentang ilmu memasak semata, tapi yang lebih penting lagi adalah menjadi penjembatan atau pintu untuk menarik minat masyarakat agar dapat mengenal industri kuliner yang sesungguhnya: industri yang penuh dengan kreatifitas dan dedikasi, industri dengan rasa saling menghargai antar pelaku, serta industri yang sesungguhnya memiliki core sebagai seni yang memainkan panca indera.


Oleh karena itu menurut kami, mau seseorang menjadi chef profesional ataupun nantinya ketika sudah cukup kredibilitas dan pengalaman akhirnya terjun ke dunia selebritas, pada dasarnya harus mengingat arti dan makna titel chef itu serta tanggung jawab yang ia bawa.

Oleh Top Tables

  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png