Cloud Kitchen: Menggebrak Industri Kuliner dengan Efisiensi

Updated: May 10

Dunia siap menyambut inovasi baru dalam industri kuliner, yaitu konsep cloud kitchen yang tumbuh seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi masyakarat.


Oleh Allysa Putrie

India menjadi salah satu negara yang gencar dalam mempopulerkan konsep cloud kitchen | Tech Crunch

Jasa antar makanan daring atau online food delivery service menjadi salah satu alasan mengapa rantai restoran Jamie Oliver yang Ia bangun selama belasan tahun itu akhirnya dinyatakan bangkrut pada 2019 lalu. Sebetulnya jasa antar makanan bukanlah hal baru, namun inovasi yang kian tahun kian meraksasa ini tak berhenti menawarkan aneka kemungkinan terbarukan di ranah industri pangan. Sebelumnya jasa antar makanan hanya terbatas pada telepon, namun kini dengan mengunduh aplikasi daring yang tersedia di ponsel pintar, para introvert pun tak perlu lagi malu-malu menelepon atau datang ke restoran untuk menikmati seloyang pizza pepperoni dengan pinggiran keju.


Dalam laporan oleh Google dan Temasek, pasar jasa antar makanan daring di Asia Tenggara telah mencapai US$ 2 miliar pada tahun 2018 dan diperkirakan akan terus berkembang hingga mencapai US$ 8 miliar di tahun 2025. Di masa pandemi covid-19 seperti saat ini kemungkinan angka tersebut naik lebih cepat tentu bisa saja terjadi. Malaysia misalnya, seperti dilansir dari The Asean Post, telah tercatat kenaikan sebesar 30% dalam jasa antar makanan daring sejak 18 Maret ketika pembatasan skala besar mulai dicanangkan di Negeri Jiran.


Di Indonesia sendiri pemain besar dalam jasa antar makanan adalah GrabFood dan GoFood. Dua aplikasi ini memanjakan konsumennya dengan adu tarif termurah, variasi penawaran menarik, serta kerjasama klien yang luas jangkauannya. Sistem kedua aplikasi ini masih lebih sering bekerja sama dengan restoran atau gerai makanan. Ojek menerima pesanan sesuai aplikasi, membelikannya di resto lalu mengantarnya ke tujuan. Walau besar pengaruhnya pada bisnis kuliner, tetap saja ada "lubang" yang tak dapat menutupi kelemahan sistemnya. Jarak resto terlalu jauh, waktu menunggu hidangan yang tidak sebentar, belum lagi antrian yang acap kali panjang pada jam-jam tertentu. Juga tidak dapat menutupi fakta bahwa sebuah restoran pasti mengeluarkan dana besar untuk hal-hal operasional seperti menyewa tempat, putaran modal atau menutupi ragam kerugian. Akibatnya banyak pemain yang meski sudah menggunakan platform jasa daring, tetap harus menyerah dan tutup.


Kegelisahan perestoran mulai sirna ketika sistem bisnis Cloud kitchen muncul. Sistem bisnis restoran yang hanya fokus pada online delivery tanpa adanya sistem makan di tempat ini menyediakan dapur besar yang dapat disewa oleh para pengusaha restoran untuk membuat masakannya. Dengan cara ini, setiap restoran dapat fokus dengan kualitas hidangannya dan mereduksi pengeluaran berskala besar.


Baik konsumen maupun foodpreneur tentu menyambut baik konsep bisnis ini. Di London, perusahaan food delivery, Deliveroo meluncurkan Deliveroo’s Editions Kitchens pada 2017 lalu yang hanya fokus pada cloud kitchen. Deliveroo telah mendata wilayah-wilayah di kota London dengan permintaan hidangan yang spesifik. Data ini kemudian digunakan untuk membantu para klien menentukan menu.


Sama halnya dengan perusahaan CloudKitchens yang diprakarsai oleh Travis Kalanick, co founder Uber. San Fransisco, Amerika menjadi lokasi utama yang dipilih oleh Travis untuk mengembangkan bisnis barunya itu. Ia bekerja sama dengan jasa antar pihak ketiga seperti DoorDash dan UberEats agar pengiriman lebih efisien dan tepat waktu. Dalam waktu kurang dari satu tahun, CloudKitchens oleh Kalanick telah berhasil mengambil hati konsumen dan menarik investor untuk berinvestasi sebesar US$ 400 Juta pada Januari lalu. Ini membuat popularitas cloud kitchen semakin melejit dan para investor tak ragu mengalirkan dana untuk perusahaan muda yang bergerak di bidang ini.


Perkembangan cloud kitchen atau juga disebut ghost kitchen juga pesat di negara-negara Asia. Grab misalnya, meluncurkan cloud kitchen pertama di Singapura dengan nama Grab Kitchen. Pada 2019, bisnis jasa antar makanan Grab meningkat hingga 3 kali lipat. Kesempatan emas ini pun menjadi modal utama Grab untuk akhirnya melebarkan sayap bisnis cloud kitchen di negara Asia Tenggara lainnya.


Di Indonesia sendiri jasa cloud kitchen sudah mulai diperkenalkan sejak tahun 2018. Grab dengan Grab Kitchen-nya telah tersedia di Jakarta dan baru-baru ini membuka cabang di Bandung. Gojek pun tak kalah. Perusahaan ojek daring ini baru saja menggandeng Rebel Foods (perusahaan baru asal India) untuk berkolaborasi membuka gerai-gerai cloud kitchen di seluruh Indonesia.


Pemain lainnya adalah Everplate Kitchens yang mulai berkecimpung dalam dunia cloud kitchen pada 2019 lalu.


“Hebatnya konsep cloud kitchen ini, kita menawarkan properti yang harganya lebih rendah dibandingkan conventional dining, dan berdasarkan pematangan data hingga jadi sangat efisien dari berbagai sisi. Semisal ada pemilik resto yang hendak membuka cabang baru, mereka tidak perlu lagi mengeluarkan banyak biaya.” Ujar perwakilan Everplate Kitchens saat dihubungi oleh Top Tables.


Cloud kitchen dirasa cocok berkembang di Indonesia, terutama kota-kota besar. Industri makanan rumahan yang dipasarkan di media sosial menjadi bukti betapa banyaknya masyarakat yang hendak menjadi foodpreneur. Tetapi sering kali hanya berhenti di situ saja, tidak berkembang sama sekali. Hal ini terjadi karena para pebisnis kecil selalu dihantui resiko kegagalan.


“Banyak resiko yang dapat dialami terutama bagi para pemula dalam bisnis restoran. Apalagi di masa sulit karena covid-19 seperti sekarang. Cloud Kitchen bisa menjadi ajang bagi mereka untuk belajar fokus pada menu dan efisiensi. Yang membuat Everplate Kitchens berbeda adalah kita membantu mereka dengan menyediakan ruang produksi (dapur) serta memberikan konsultasi untuk permasalahan paling kecil sekalipun, seperti operasional, wilayah, estimasi pengiriman makanan hingga urusan menu. ” Tambahnya.


Cloud kitchen memang dirasa dapat mengubah pola bisnis restoran di masa mendatang. Pandemi yang telah melumpuhkan sebagian besar sektor perekonomian terutama industri pangan tak hanya menjadi pelajaran berharga bagi foodpreneurs dalam hal efisiensi, tetapi juga dapat mengubah kebiasaan makan konsumen, sehingga kemungkinan untuk beralih ke sistem cloud kitchen paska pandemi sangatlah besar. Ini menjadi kesempatan yang bagus untuk merehabilitasi perekonomian. Akankah cloud kitchen menjadi revolusi dalam industri pangan?


139 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png