Berbincang Food Journalism dengan Tria Nuragustina

Diskusi mengenai food journalism di era yang semakin content-oriented bersama dengan Trifitria Nuragustina, managing food editor dari majalah Femina.


Sekarang ini konten tentang makanan memang sedang disenangi oleh generasi baru. Mengapa? Karena makanan itu universal. Berbeda dengan membuat konten travelling atau konten fashion yang di mana tidak bisa setiap saat - entah itu karena budget yang cukup besar atau karena planning yang harus jelas - konten makanan sangat mudah untuk dilakukan, a la minute.


Sebelumnya para pencipta konten makanan masih dipegang oleh mereka yang memiliki latar belakang jurnalistik ataupun boga, seperti Laksmi Pamuntjak yang menulis buku, almarhum Bondan Winarno yang menjadi host ternama dengan mengepalai komunitas Jalan Sutra, hingga Sisca Soewitomo yang ikonik dengan acara memasak di televisi nasional berjudul Aroma.


Namun sekarang ini justru banyak konten makanan diciptakan oleh para anak muda dengan latar belakang non-kuliner apalagi jurnalistik, sehingga terkadang faktor kualitas terpinggirkan. Hal ini tentunya mengubah lanskap industri makanan secara keseluruhan, termasuk bagaimana masyarakat modern (terutama anak-anak generasi millenial baru dan Gen Z) memiliki gambaran tentang bagaimana konten makanan seharusnya dilakukan.


Di era dimana konten makanan didominasi oleh food instagrammer dan yang disebut-sebut sebagai influencer, masih banyak individu yang mengedepankan prinsip jurnalistik dalam menciptakan konten makanan, entah itu dalam bentuk tulisan dan visual seperti video. Salah satunya adalah Trifitria Nuragustina, managing food editor untuk majalah Femina.


Top Tables pun berbincang dengan wanita yang akrab dipanggil Tria ini untuk menceritakan bagaimana awalnya ia terjun sebagai jurnalis makanan, hal-hal yang ia pelajari serta bagaimana mengembangan konten makanan yang baik di era digital.



Top Tables: Mengapa Tria memilih menjadi food journalist? Apa yang membuat Tria tertarik pada awalnya?


Sebenarnya latar belakang saya bukan keluarga yang suka masak. Namun ketika saya waktu itu sekolah di Amerika Serikat, saya dihadapkan dengan segala kemudahan yang membuat saya akhirnya bisa memasak walaupun secara sederhana. Dari situlah timbul keinginan saya untuk lebih dalam mengerti makanan.


Dari situ saya pun sekolah hospitality sekembalinya ke Indonesia. Pekerjaan pertama saya yang bersentuhan dengan dunia jurnalistik adalah saat saya memutuskan untuk mengambil lowongan di majalah Santap yang dipimpin oleh ibu Hiang Marahimin di awal tahun 2000-an, salah satu food journalist pertama di Indonesia dan juga mantan editor dari majalah Femina. Saat itu jurnalis gaya hidup seperti fashion saja baru mulai ternama, apalagi kuliner. Namun ibu Hiang sudah ahead of its time, mengedepankan prinsip jurnalistik dalam menulis tentang makanan.


Di situlah saya belajar banyak hal seperti food writing bukanlah hanya soal resep, namun bisa membaca tren juga. Saya belajar juga soal melakukan interview terhadap tokoh-tokoh kuliner seperti almarhum Bondan Winarno, William Wongso hingga Janet De Neefe. Cara majalah tersebut melakukan food styling juga sangat advance pada masanya dan modern, hal itulah yang membuat saya banyak belajar hingga akhirnya saya bergabung di Femina.


Di Femina yang merupakan majalah wanita terbesar di Indonesia lahkemampuan saya ditantang untuk bisa keluar dari zona nyaman dan menjadi semakin kreatif lagi.


Top Tables: Bagaimana pendapat Tria posisi seorang food journalist di era yang konten makanannya semakin beragam dan dinamis ini?


Menurut saya itu kembali kepada DNA dari media itu sendiri. Kami sebagai jurnalis harus tetap berpegang kepada prinsip untuk memproduksi konten yang menjawab pertanyaan banyak orang, informasi yang cukup menyeluruh. Itulah saya rasa posisi yang harus dipertahankan sebagai media.


Contoh, sekarang ini banyak sekali makanan dengan konten mukbang (makan banyak ala Korea) namun apakah sebagai media kita juga akan melakukan hal yang sama alih-alih mengedepankan konten bersubstansi? Hal ini yang selalu saya utarakan ke tim saya di Femina.


Tugas kitalah sebagai food journalist menulis atau membuat konten yang memberikan value ke masyarakat dan bukan hanya topik di permukaan saja.


Sekarang ini konten pun juga bisa dibagikan bukan hanya dengan menggunakan platform online ataupun cetak, namun juga bisa dengan event-event.


Top Tables: Apakah menurut Tria anak-anak sekarang ini mengerti atau bahkan mencari konten-konten makanan yang kaya dengan kualitas jurnalistik?


Sayangnya saya rasa dominan tidak ya. Kecuali mereka yang memiliki latar belakang kuliner, sekolah di luar negeri atau yang kuat dengan background kreatif dan sastra.


Top Tables: Kenapa lebih sulit memperkenalkan konten makanan yang bersubstansi di Indonesia? Sementara negara kita sangat kuat potensi makanannya.


Sebenarnya memang kalau di Indonesia dipengaruhi dengan masih mudanya industri makanan sebagai bagian dari lifestyle. Mungkin hanya di Jakarta atau Bali saja orang betul-betul melihat makanan dari segala sudut. Namun kalau di mayoritas kota lain, masyarakat kita masih melihat makanan sebagai konsumsi saja. Sementara kalau di Eropa atau Amerika Serikat, mereka sejak lama sudah mengagung-agungkan makanan. Mulai dari literatur, tulisan tentang makanan, lukisan makanan, semua bisa dengan mudah ditemukan.


Maka dari itu makanan sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka sejak masa lampau. Hal ini tentunya berpengaruh ke bagaimana masyarakatnya akhirnya lebih concern dengan topik makanan sehingga media-media kuliner bisa tumbuh subur di sana. Selain itu persebaran informasi, perbedaan pendidikan dan kehidupan sosial dan kultur antar kota sangat mempengaruhi juga.


Top Tables: Dari pengalaman Tria yang sudah panjang selamat di majalah Santap dan sekarang di Femina, hal-hal penting apa sajakah yang harus dimiliki secara basic untuk mereka yang ingin menjadi food journalist?


Kalau secara teknis saya sarankan untuk bisa mengambil ilmu yang mendukung informasi tentang makanan seperti hospitality, food science, dan lainnya. Namun yang paling penting secara personality adalah etos kerja. You need to live the life that you want to write about, itu penting sekali.


Rasa penasaran juga harus tinggi. Menjadi food journalist itu pekerjaan yang tidak bisa hanya buat hobi atau iseng saja. Ini adalah pekerjaan yang penuh dengan dedikasi, passion dan skill. Karena menulis tentang makanan adalah sebuah seni.


Kita harus crafting konten dari nol, merancang cerita dan menjadi storyteller juga. Sebagai pembuat konten makanan juga wajib dua hal: entah itu memasak atau suka dining out. Kita tidak bisa memisahkan diri kita dari makanan yang menjadi core pekerjaan.


Cross-check data juga sangat penting. Bergaul dengan mereka-mereka yang berada di industri food and beverage juga harus dilakukan. Penting bagi seorang food journalist untuk mendapatkan dan menggali informasi apapun dari dalam industri itu sendiri.


Latih terus skill kita, seperti mengikuti kursus wine, kursus kopi, kelas masak, apapun itu yang menambah pengetahuan akan makanan.

Oleh Kevindra P. Soemantri, co-founder dan restaurant observer Top Tables.

Foto oleh: Arsip Trifitria Nuragustina

253 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png