Banyuwangi Siap Menyambut Sekolah Khusus Cokelat & Kopi


Biji kakao yang dijadikan cokelat | Shutterstock

Selain dikenal dengan kualitas biji kopinya yang sudah mendunia, Indonesia juga menjadi salah satu penyuplai terbesar untuk salah satu bahan baku dessert favorit masyarakat dunia, yaitu cokelat. Pada tahun 2015, tercatat setelah Pantai Gading dan Ghana, Indonesia mencapai peringkat ke-3 dengan jumlah produksi lebih dari 600.000 ton bahkan di atas Brazil dan Meksiko sebagai negara asalnya. Di Indonesia sendiri, wilayah Sulawesi masih menjadi yang terbesar dengan jumlah 65% dari produksi kakao nasional, sisanya tersebar di Sumatera seperti Aceh, Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Jawa Timur.


Di Jawa Timur, wilayah Glenmore di Banyuwangi lah yang sedang gencar-gencarnya memantapkan. Bukan hanya dari sisi produksi namun juga menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas dan kompeten dengan membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khusus cokelat dan kopi. “Di sekitar sekolah di wilayah Glenmore Banyuwangi ini banyak sekali kebun kopi dan kakao, lalu mengapa tidak kita manfaatkan kelimpahan alam ini dengan mengajak anak-anak terlibat di dalamnya?” ujar Sulihtiyono Sujono, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi kepada tim Top Tables melalui e-mail.


Sekolah yang ditargetkan akan mulai beroperasi di pertengahan tahun 2019 ini diawali dari ide Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi saat ini. Ia juga adalah sosok yang sangat gencar menaikkan industri cokelat asal Banyuwangi dikarenakan fakta bahwa cokelat asal daerah tempatnya memimpin dianggap salah satu terbaik di dunia oleh chocolatier di Eropa.


Keseriusan beliau menaikkan industri cokelat Banyuwangi juga tampak ketika di bulan Februari 2019 yang lalu telah diadakannya tiga aktivitas yang menjadikan wisata cokelat sebagai core program: Chocolate Glenmore Run, Chocolate Happy Cycling dan Chocolate Jazz & Food Festival. Selain itu juga pada 16 Februari 2019 lalu, diresmikan pula Pabrik Cokelat Kendeng Lembu PTPN XII oleh Menteri BUMN Rini Soemarno yang juga terletak di kecamatan Glenmore, Banyuwangi.


Pekerja di pabrik cokelat di Glenmore sedang mengolah biji kakao untuk dijadikan cokelat | Shutterstock

Melihat keseriusan pemerintah daerah untuk memajukan industri cokelat, maka sudah seharusnya lembaga pelatihan dan pendidikan seperti SMK diresmikan. “Layaknya sekolah menengah kejuruan pada umumnya, murid-murid sekolah ini akan diajarkan materi Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) yang sesuai dengan komoditas kakao dan juga kopi. Materi pengajaran nantinya merupakan hasil dari kolaborasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi dan UKM serta Dinas Pendidikan,”jelas Sulihtiyono. Untuk mendukungnya, pemerintah kabupaten juga akan menyiapkan laboratorium serta alat-alat (seperti alat roasting) yang ideal.


Bukan hanya materi pengajaran saja, pelatihan kerjasama kolaborasi dengan dinas terkait tersebut juga akan merangkum dari hulu ke hilir, sehingga para murid nantinya dapat memahami mulai dari cara tanam hingga proses produksi. Menurut Tissa Aunila,chocolate artisan and juga founder dari Pipiltin Cocoa, industri cokelat memerlukan orang-orang yang sudah mempunyai ilmu dasar pengolahan coklat serta penyebarannya.


“Pengolahan cokelat membutuhkan proses yang cukup panjang dan merupakan proses yang sangat memperhatikan detail. Dengan adanya lulusan SMK yang khusus di industri cokelat, maka akan mempermudah produsen cokelat untuk mendapatkan tenaga yang sudah mempunyai keahlian serta pengetahuan dasar di bidang industri cokelat, dengan demikian dapat meningkatkan efisiensi kerja perusahaan,” ujar Tissa.


Salah satu varian cokelat dari Pipiltin Cocoa yang berasal dari Glenmore memiliki profil rasa yang mirip dengan kismis. | Tissa Aunila

Hal ini menjadi semakin penting karena wilayah Glenmore di Banyuwangi juga menjadi salah satu rumah bagi varietas kakao criollo. Criollo merupakan salah satu tipe kakao paling langka dan dianggap salah satu yang terbaik di dunia. Diperkirakan berusia 1,500 tahun dan berasal sejak peradaban Maya kuno, cokelat yang dihasilkan oleh biji criollo umumnya akan menjadi cokelat dengan tingkat kelembutan tinggi serta rasa yang sangat delicate. “Oleh karena itu sekolah ini diharapkan juga akan membangun awareness akan potensi cokelat Indonesia yang sudah dikenal lama oleh negara lain,” jelas Tissa.

Artikel Oleh: Kevindra Soemantri

105 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png