Bali dan Pandemi: F&B Pulau Dewata kala Covid-19

Dulu ramai riuh, sekarang bak kota mati. Berikut adalah cerita tentang kuliner Pulau Dewata di kala pandemi.


Oleh Allysa Putrie

Jalan Petitenget yang biasanya ramai dengan pejalan kaki dan kendaraan di siang hari kini kosong | Top Tables

Sudah satu bulan sejak kasus pertama COVID-19 Indonesia diumumkan, dan saat tulisan ini dibuat, inang virus telah menghinggapi lebih dari 5000 orang di seluruh negeri. Setiap harinya kabar buruk dan baik seakan berlomba-lomba untuk mempengaruhi mental tiap insan. Membuat siapapun bertanya-tanya, kapan ini semua berakhir?


COVID-19 diyakini mulai merebak di kota Wuhan, Cina, pada November 2019 lalu. Penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini akhirnya membuat pemerintah Negeri Tirai Bambu sepakat untuk melakukan lockdown pada bulan Januari 2020 di seluruh kota, dan diawali dengan kota Wuhan sebagai pusat persebaran.


Desas-desus penyebaran COVID-19 sudah terdengar samar di kota Bali ketika sektor pariwisata mulai menurun karena minimnya turis dari negara-negara Asia. Keputusan lockdown di Cina dan melonjaknya kasus COVID-19 di Korea Selatan pada bulan Februari lalu pun semakin memperparah keadaan. Kian hari Bali kian sepi tetapi bukan karena Nyepi. Pulau Dewata hening, tak dapat membendung kesedihan ribuan pekerja yang telah dirumahkan tanpa tahu kapan kapal akan berlayar kembali.


Sebelum pandemi ini terjadi, Bali menjadi salah satu kota di Indonesia yang diminati para turis mancanegara. Bali disebut-sebut sebagai salah satu kota ramah vegetarian. Para vegan dan vegetarian pun berbondong-bondong datang tak hanya untuk menikmati pemandangan pantai Canggu, tetapi juga untuk menyantap seporsi black bean burger andalan resto Plant Cartel. Kehidupan malam Bali pun tak kalah riuh dengan macetnya jalanan Sunset Road. Tak satu pun beach club sepi oleh pengunjung walau hanya sekadar untuk menyesap sebotol bir.


“Tidak ada yang siap dengan hantaman ini,” ujar Anne Diana, general manager dari 8 Degrees Project ketika dihubungi oleh Top Tables. “Banyak yang kehilangan pekerjaan, Tapi dari gambaran di atas, momen ini adalah momen dimana semua orang harus menyadari bahwa ternyata mereka bisa memasak meskipun ala kadarnya.” Sambungnya.


Kini di seluruh penjuru Pulau Dewata, hanya ada penduduk lokal dan ekspatriat yang kebanyakan enggan bersantap di restoran. Akibatnya, hampir seluruh restoran, rumah makan, dan kafe terpaksa menutup gerainya dalam jangka waktu yang belum ditentukan. “Di 8 Degree Projects sendiri, kami semua (baik back office dan operations) diminta di rumah selama satu bulan dari tanggal 27 Maret sampai 27 April. Semua outlet kami tutup demi keamanan bersama.” Tambah Anne.


Hal ini juga disampaikan oleh Maxie Millian, group head chef restoran Merah Putih dan Sangsaka. Pada minggu ketiga bulan Maret, Chef Maxie terpaksa menutup seluruh grup restorannya dan merumahkan para karyawan. Ia menggambarkan keadaan Bali seperti ‘mati suri’ karena merosotnya pendapatan di hampir semua sektor perekonomian. “Terpukul melihat Bali yang sepi, jalan-jalan yang biasanya macet sekarang lengang. Orang-orang kesulitan untuk bertahan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dikarenakan tidak memiliki pekerjaan.” Ujarnya.

Kembali lagi berkreasi di dalam dapur adalah keinginan tiap chef, termasuk Maxie Millian | Maxie Millian

Pandemi COVID-19 memang telah meruntuhkan perekonomian di berbagai negara. Chinese Cuisine Association melaporkan pada tahun baru Imlek lalu bahwa sebanyak 93% usaha food and beverage (f&b) di Cina telah berhenti beroperasi. Dalam tujuh hari periode Imlek, industri f&b Cina diprediksi telah mengalami kerugian hingga 500 miliar Yuan, dilansir dari Xinhua News dan Global China Daily.


Dalam keadaan seperti sekarang, tak banyak yang bisa dilakukan oleh para pegiat industri f&b Bali untuk mempertahankan usahanya, karena tak ada organisasi yang memayungi mereka. Banyak yang berusaha untuk tetap bertahan dengan membuka take away food, membuat jasa pengantaran belanjaan dari pasar, serta saling memberi dukungan pada usaha satu sama lain. Dalam perbincangan dengan Top Tables, Chef Wayan Kresnayasa dari Potato Head Family juga mengatakan bahwa beberapa dari para pegiat f&b memutuskan untuk kembali ke daerah asal guna membantu keluarga masing-masing di sektor pertanian.


Industri makanan rumahan memang meningkat pesat di Bali. Menurut Anne, masyarakat lokal lebih senang menyantap home-cooked meal yang dibuat oleh rekan atau keluarga sebagai salah satu bentuk kepedulian sesama. Varian makanan rumahan pun beragam. Nasi bakar, kue-kue, lauk pauk khas Manado bahkan jamu yang kepopulerannya meningkat pesat karena diyakini dapat mencegah berbagai penyakit. Kreatifitas tumpah ruah, menjadi salah satu hal baik yang muncul di tengah-tengah pandemi. Room4Dessert juga contohnya. Restoran khusus dessert yang dimiliki oleh chef Will Goldfarb, pada tanggal 18 April meluncurkan pasar virtual di mana orang bisa membeli ragam bahan pangan mulai dari aneka sayur, produk artisan dari petani lokal, hingga minuman fermentasi dari tempat itu. Mereka juga meluncurkan menu kue hingga roti-rotian yang bisa dipesan sampai ke luar Bali.


Hal baik tak berhenti sampai di situ saja. Kepedulian pada sesama adalah yang terpenting agar beban terasa lebih ringan. Selain berusaha untuk memutus rantai penyebaran virus dengan mengurangi kegiatan, beberapa resto di berbagai area sepakat untuk menyediakan makanan gratis bagi mereka yang membutuhkan. The Lawn Canggu misalnya, mereka menyediakan 200 kotak nasi goreng gratis setiap hari Jumat untuk siapa pun yang kelaparan. Begitupun Will Goldfarb yang menyediakan staff meal bagi rekan-rekan dari industri restoran yang ingin bergabung untuk makan bersama.


Tidak ada yang berharap pandemi ini berlangsung lama. Makan-makan di luar tak hanya dirindukan oleh mereka yang sedang bekerja dari rumah, tetapi juga menjadi kerinduan bagi para pekerja di industri f&b. Memutus rantai penyebaran adalah yang utama saat ini agar nafas lega akhirnya dihembuskan. “Untuk rekan sesama industri dan pelanggan, we are in this together, stay strong, stay healthy, and be creative.” Ujar Chef Wayan, mengakhiri perbincangannya.

Allysa Putrie adalah contributing food writer untuk Top Tables

83 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png