Archie Prameswara, Food Traveler dengan Passion Pangan Lokal

Oleh Top Tables

Archie Prameswara

Seberapa penting kegiatan traveling bagi seseorang yang akan berkarir di dunia kuliner? Entah itu sebagai chef, pemilik restoran, konsultan, hingga penulis makanan. Jawabannya tentu sangat penting. Berpetualang dan melakukan kegiatan traveling dapat membuka horizon pemahaman akan cita rasa. Hal inilah yang dilakukan oleh Archie Prameswara, anak muda dengan latar belakang pendidikan bisnis yang akhirnya terjun ke dunia masakan. Apabila banyak rekan seusianya sudah menjadi chef atau memiliki restoran sendiri, tidak dengan pria yang memiliki minat besar terhadap dunia sosial dan pangan lokal ini. Seorang Archie lebih menekankan dirinya sebagai food traveller: pribadi yang bepergian hanya untuk makanan dan mengenal lebih dalam lagi cerita dari makanan tersebut.


Pada tahun 2018, ia pun turut bergabung dengan Javara, sebuah social enterprise dengan misi memajukan industri rempah dan bahan baku lokal Indonesia ke pasar global. Ketika chef muda yang lain bepergian mengasah pisau di bawah chef berbintang Michelin, yang dilakukan dirinya berbeda. Fokusnya adalah memasak menjadi bagian dari identitas kultur yang kuat.


Top Tables berbincang dengan Archie Narenda untuk menggali lebih dalam bagaimana ia bisa terjun ke dalam dunia kuliner, hobinya melakukan traveling hanya demi makanan di luar dan di dalam Indonesia, serta kegiatannya melatih pengusaha kecil di berbagai daerah untuk memajukan bisnis pangan lokal.


Top Tables (TT): Jadi Archie, boleh ceritakan background Anda? Archie: Sejujurnya latar belakang saya adalah ekonomi dan bisnis - double degree - di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, di Jakarta dan akhirnya ke Belanda. Saya pertama kali mencoba memasak ketika waktu itu di Belanda sedang libur musim panas. Orang tua saya tidak memperbolehkan saya pulang biar memaksimalkan waktu yang ada di Belanda. Akhirnya saya coba summer school yaitu sekolah memasak. Sebenarnya sejak SMA saya sudah punya interest sama culinary school, tapi ya sebagaimana tipikal orang tua Asia, saya tidak diperbolehkan.


TT: Nah, kalau begitu kapan dan kenapa Archie banting setir untuk fokus di food and beverage?

Archie:Jadi habis sekolah memasak, saya memutuskan untuk melakukan part time di beberapa tempat makan. Sebenarnya ini ada cerita yang menarik. Sebetulnya setelah saya lulus kuliah, saya mencoba untuk melamar pekerjaan formal kantoran sesuai dengan gelar yang saya punya. Saya menyebarkan sekitar 100 resume selama setahun penuh di Belanda. Dapat,sih, satu perusahaan, tapi saya tidak lama di sana, hanya magang saja dua bulan. Berbeda dengan masakan.


Saya mengirimkan resume ke tiga restoran, dan ketiganya ingin menerima saya. Jadi karena Amsterdam itu kota turis, pekerjaan di dapur itu selalu dibutuhkan. Orang tua saya pun akhirnya harus menerima fakta ini, bahwa anaknya lebih cepat diterima bekerja di dapur restoran instead of kantoran, haha.


Tapi saya pernah tuh melakukan hal yang konyol untuk mencoba tetap membuat senang orang tua dengan bekerja di kantor pagi hingga sore, lalu lanjut lagi bekerja di dapur sore hingga tengah malam. Hal yang tidak akan pernah saya lupakan tapi enggak akan mau lagi melakukannya. Ini pun hanya bertahan selama satu bulan saja karena secara fisik dan mental rupanya tidak kuat.


TT: Saat Archie sudah terjun memasak, cuisine manakah yang menjadi kesukaan utama?

Archie: Sejak kecil, sebenarnya saya sudah sangat menyukai makanan yang berempah. Selain Indonesia, Saya agak aneh memang, karena ketika anak-anak sukanya makanan Barat atau Asia Oriental, saya sudah menyukai makanan Maroko, Timur Tengah dan segala hal yang kencang bumbunya. Sebetulnya ini karena memori masa kecil saya yang selalu diajak oleh orang tua makan di restoran Timur Tengah dekat rumah kami.


TT: Boleh ceritakan kenapa Archie memilih untuk sempat bergabung di Javara, sebuah perusahaan pangan lokal? Sementara anak muda lain lebih senang bila mengasah ilmu di bawah restoran berbintang Michelin atau setidaknya hotel.

Archie: Sebetulnya, ketertarikan saya dengan Javara itu sudah muncul sejak saya di bangku SMA. Lucunya, saat SMA, saya sudah punya ketertarikan untuk hal-hal yang berhubungan dengan sustainability serta produk lokal. Saat itu yang menangkap atensi saya adalah garam yang didapat dari desa Amed, Bali.


Lalu waktu saya kuliah dua tahun pertama di Jakarta, saya sempat terpikir untuk bergabung di Javara dan mempelajari lebih dalam tentang company itu. Saya sendiri bersyukur dibesarkan di keluarga yang cinta dengan lingkungan dan aktif dalam kegiatan sosial. Adik saya environmentalist, saya juga sempat bergabung dengan asosiasi human rights internasional. Saat di akhir masa kuliah pun saya juga mengeluarkan tesis yang memiliki topik coevolution between food processing industry and agriculture.


Lalu ketika saya melihat Javara, perusahaan itu memiliki kedua hal yang jadi perhatian saya, makanan dan sustainability, sebagaimana yang terpancar di tesis. Akhirnya itu yang membuat saya memutuskan untuk belajar dan bekerja di sana.


TT: Adakah cerita yang mengubah perspektif Archie sebagai seorang cook ketika berpergian ke daerah?

Archie: Oh ada sekali. Ketika saya mulai mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan banyak food heroes lokal seperti dari Maluku dan Papua, hal tersebut seperti menyentil saya untuk mendalami kuliner lokal dan juga turut serta mengembangkannya.


TT: Sepenting apakah traveling untuk Anda?

Archie: Penting sekali, apalagi untuk yang bekerja di dunia hospitality dan kuliner. Untuk saya, kalau kita tidak traveling dan mencoba makanan, lidah kita hanya akan itu-itu saja dan tidak berkembang. Seperti contohnya bila saya bilang saya fokusnya makanan Italia tapi belum pernah kesana, akan sangat sulit sekali untuk bisa mendapatkan bentuk rasa yang sama. Untuk broaden up flavour itu penting. Lalu yang juga sebenarnya sangat penting adalah bagaimana dengan traveling itu kita bisa tahu banyak proses memasak secara lokal yang kita belum pernah lihat atau dapatkan di sekolah masak profesional atau pun dapur restoran kelas atas.


TT: Lebih sering di dapur atau traveling?

Archie: Haha, jujur saya sering lebih berada di luar untuk melakukan food traveling dari pada di dapur profesional. Saya lebih senang mengekspos diri sekarang ini dengan mencicipi makanan yang berbeda-beda, belajar cara memasak yang berbeda, dan bertemu dengan sosok-sosok di baliknya. Mungkin sekarang ini saya bisa dibilang lebih senang menjadi food adventurer ya, eksplor makanan di sana sini.


TT: Bagaimana biasanya Archie melakukan traveling dan sudah berapa banyak tempat yang dikunjungi?

Archie: Saya lebih senang backpacking sejujurnya. Paling sebentar saat traveling saya menghabiskan waktu dua minggu. Namun umumnya saya lakukan selama sebulan. Saya ingin bisa betul-betul berbaur dengan penduduk lokal, mengikuti kegiatan mereka sehari-hari, serta menelusuri daerah-daerah dengan kisah dan makanan yang unik. Kalau untuk banyaknya sekitar satu negara pertahun dengan menelusuri banyak kota. Sejauh ini saya sudah mendatangi lebih dari 25 kota di dunia.


TT: Dari banyaknya negara yang sudah Archie kunjungi, tempat manakah yang paling berkesan?

Archie: Maroko. Negara itu memiliki pesona yang mengesankan. Makanan dirayakan di mana-mana dan kayaknya semua orang di Maroko itu bisa masak, haha.


TT: Untuk berikutnya, kegiatan apa yang Anda akan lakukan?

Archie: Dalam waktu dekat ini saya akan ke Wakatobi untuk memberikan pelatihan kepada banyak ukm lokal untuk mengembangkan usaha pariwisata dan makanan mereka. Pelatihan ini juga tidak terpaku dengan anak muda saja tapi juga ibu-ibu, dan mengajar mereka mulai dari membuat costing hingga eksekusi makanan yang layak.


Masih banyak di wilayah Indonesia warga lokal yang belum menangkap potensi yang bisa dilakukan dari usaha makanan. Seperti contohnya saya pernah ke Jailolo saat festival kuliner, lalu ada warung kecil yang menjual kopi instan dan mie instan, padahal di depannya banyak sekali pohon buah seperti mangga dan lainnya, mengapa tidak dijadikan usaha?


Maka dari itu lah untuk saya penting untuk bisa membagi ilmu yang sudah saya dapati ini, mau bisnis dan kuliner, ke orang-orang yang memang membutuhkan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik serta mengembangkan potensi kuliner wilayah mereka.


312 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png