Apa Itu Enak?

Kita sering berkata bahwa makanan ini enak atau enak banget. Namun, sebenarnya apakah makanan enak itu? Namun yang lebih penting, kapan kita bisa berkata enak?


Shutterstock.com

Saya percaya bahwa seperti napas, setiap lidah manusia punya hak untuk merasakan hidangan yang menggugah selera. Setiap kita punya hak untuk tersenyum ketika makanan menyentuh lidah dan bersemangat saat endorfin melejit membangkitkan emosi dan menjalar sampai ke sum-sum tulang. Pengalaman tersebut, yang pasti pernah dirasakan oleh semua orang, kita mengekspresikannya dengan satu kata yang familiar - enak.

Enak, satu kata yang saya sering katakan tapi sering pula jadi bahan kontemplasi. Apa itu enak? Kenapa satu makanan bisa terasa enak? Kenapa enak saya dan enak dia berbeda? Apakah enak mengandung emosi? Apakah enak mempunyai personality? Bagaimana sampai kata 'enak' terucap yang seringnya dibarengi dengan acungan jempol? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak saya seiring saya mengingat kembali sesering apa kata 'enak' terucap dari mulut ini.


Enak merupakan sebuah misteri tersendiri yang tidak tahu kapan dan bagaimana kita akan merasakannya. Enak terdiri dari banyak variabel dan elemen; enak tidak berdiri sendiri dan juga tidak bisa disamakan satu orang dengan orang lainnya. Enak adalah sebuah label yang fleksibel. Namun, ada beberapa elemen fundamental yang punya andil membentuk lidah kita agar bisa berkata 'enak'.


Seluruh manusia dibesarkan dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Kita, orang Indonesia, memiliki ragam suku, adat, budaya yang masing-masing membawa warisan rasa leluhur yang dipraktikkan dalam dapur rumah. Sedari kecil, orang tua telah memperkenalkan kita dengan cita rasa yang mereka dapatkan dari orang tuanya, begitu pula orang tuanya dan terus hingga leluhur tertua. Masyarakat Yogyakarta pastinya terbiasa dengan cita rasa manis-gurih yang menjadi karakter dominan dari hidangan rumah; masyarakat Manado akan terbiasa dengan paduan pedas dan aromatik dedaunan; keluarga berlatar belakang Tionghoa akan familiar dengan bumbu yang gurih. Lalu, bayangkan bagaimana peleburan budaya terjadi dalam sebuah pernikahan, membawa dua kultur yang berbeda dalam satu atap di mana makanan termasuk di dalamnya. Tentu hal ini akan memberikan dampak berbeda pula terhadap lidah keturunan mereka.


Warisan rasa itu pun diturunkan secara turun temurun, yang pada akhirnya membuat tiap individu memiliki fondasi dan pebanding bila berbicara tentang makanan. Lidah tanpa disadari akan membandingkan tiap suapan makanan yang masuk ke dalam mulut dengan eksiklopedia rasa masing-masing individu yang sudah terbentuk selama bertahun-tahu dari masakan rumah.


Selain warisan rasa keluarga, intensitas lidah kita merasakan cita rasa baru juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mendefinisikan sebuah makanan enak atau tidak enak. Mereka yang memiliki kesempatan untuk makan di banyak restoran, di banyak kota atau negara yang berbeda, membiarkan lidah mereka terekspos dengan racikan masakan yang di luar zona nyaman akan cendurung mempunyai lidah yang lebih tajam untuk mencerna rasa. Namun, tidak semua memiliki keberuntungan - dan tentunya waktu dan uang - untuk bisa melakukan eksplorasi makanan.


Enak juga tidak berdiri sendiri, ia memiliki oposisi. Tidak enak adalah dua kata yang sangat berbahaya. Pengaruhnya lebih besar dari sebuah kata 'enak'. Sekarang ini, di mana pendapat pribadi sudah seperti komoditas yang dapat diakses dan dinikmati melalui media sosial, pemberian label seseorang akan sangat berpengaruh terhadap eksistensi sebuah makanan ataupun restoran. Haruslah bijak sebelum berpendapat. Kembali lagi ke akar, kuliner adalah sebuah seni dan seni dapat hidup dari selera para penikmatnya. Ya, selera. Penyuka musik jazz tidak bisa bilang bahwa musik rock tidak enak; penyuka gaya lukisan surealis tidak bisa mengatakan bahwa lukisan kontemporer tidak menarik. Selera ibarat urat nadi yang menghubungkan seluruh perbedaan itu menjadi sebuah fungsi yang hidup.


Enak merupakan sebuah misteri tersendiri yang tidak tahu kapan dan bagaimana kita akan merasakannya. Enak terdiri dari banyak variabel dan elemen; enak tidak berdiri sendiri dan juga tidak bisa disamakan satu orang dengan orang lainnya.

Namun memang, di balik faktor yang tak terlihat seperti nostalgia, ensiklopedia cita rasa dan selera, ada faktor terukur yang dapat menjadi pertimbangan tentang makanan tersebut layak atau tidak: yaitu teknik pengeksekusian. Di sini, kita sudah berbicara mengenai ranah ilmu kuliner yang penuh dengan metode dan teknik yang berbeda-beda. Di sinilah pengetahuan akan makanan yang sesungguhnya akan diuji. Teknik pengeksekusian sebuah makanan punya banyak sekali elemen; mulai dari kualitas bahan yang dipilih, penyimpanan dan pengolahan bahan hingga kecerdasan untuk memadukan satu bahan dengan bahan lain agar menjadi sebuah harmoni rasa yang dapat dinikmati lidah.


Saya tidak bilang saya menikmati semua jenis makanan yang pernah masuk ke dalam mulut saya. Saya sendiri pernah mencicipi makanan yang saya bersumpah tidak akan pernah memakannya lagi karena bertentangan dengan seluruh faktor pengeksekusian makanan yang baik. Namun, ketika ditanya, dengan gamblang saya jelaskan dari awal hingga akhir; ayam yang kering ibarat mengigit karton, saus yang katanya barbecue namun saya yakin itu adalah saus tomat imitasi dan lain sebagainya. Apabila ingin menyarankan - ataupun tidak menyarankan - deskripsikan alasan Anda dengan jelas mengapa Anda sampai pada kesimpulan tersebut. Mulailah menjadi penikmat makanan yang cerdas di dunia yang semakin malas.


217 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png