Tukucur: Inovasi Toko Kopi TUKU di Tengah Pandemi

Updated: Apr 15

Oleh Sharima Umaya


Pembelian kopi di Toko Kopi TUKU diwajibkan lewat jendela | Toko Kopi TUKU

Tak bisa dipungkiri, salah satu industri yang terkena dampak akibat pandemi COVID-19 adalah industri kuliner. Himbauan social distancing dan pelaksanaan PSBB di DKI Jakarta bukti bahwa pandemi ini bukanlah sesuatu yang main-main, terlebih lagi saat artikel ini ditulis, angka kasus corona di Indonesia sudah mencapai angka 3.293. Meskipun di tengah pandemi, hal yang menarik dan patut disimak adalah berbagai inovasi yang muncul untuk meningkatkan penjualan serta bagaimana sesama pelaku indusri kuliner memberikan dukungan satu sama lain agar bisnis dapat tetap berjalan.

Top Tables mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Andanu Prasetyo (Danu),pemilik Toko Kopi TUKU bagaimana ia beserta tim beradaptasi di tengah pandemi serta pesan bagi sesama pelaku industri kuliner untuk tetap semangat dalam menghadapi pandemi.

Top Tables (TT): Di masa pandemi ini, apa saja inovasi yang dilakukan oleh Tuku dan bagaimana Tuku merubah strategi untuk menyesuaikan dengan masa pandemi?

Danu: Untuk penyesuaian lebih banyak di internal TUKU sendiri, bagaimana TUKU dapat mengikuti arahan pemerintah untuk mengurangi pertemuan orang, menjaga higinitas, dan lain berbagai prosedur lainnya. Di awal kami telah melakukan penyuluhan serta memberikan gambaran kondisi perusahaan seperti apa.


Namun, sebagaimana yang diketahui, TUKU hidup dari hubungan customer yang datang (Tetangga TUKU) sehingga untuk mengantisipasi terjadinya lockdown, kami pun berpikir bagaimana orang tetap dapat menikmati TUKU kendati kami mengurangi aksesnya. Maka dari itu, saya terpikir salah satunya untuk mengeluarkan Tukucur, sehingga orang-orang bisa datang satu kali ke toko atau memesan di online marketplace, agar mereka dapat tetap terpenuhi untuk kebutuhan kopi hariannya.

Top Tables (TT): Apakah Tukucur juga merupakan permintaan dari para Tetangga TUKU? Mengingat TUKU dikenal dengan interaksinya dengan para Tetangga TUKU?

Danu: Di tengah pandemi ini, kami cukup sulit untuk menjalin interaksi dengan Tetangga TUKU. Kami terbiasa untuk berinteraksi dengan Tetangga TUKU yang datang langsung ke toko. Tukucur memang merupakan ide dari saya sendiri, saya berpikir bagaimana agar orang dapat minum langsung dalam bentuk batch untuk mengurangi sampah. Kebetulan, ide batch ini sudah agak lama dan di rencana awal, kami akan mengeluarkan di bulan April ini.

Dikarenakan pandemi yang terjadi, Tukucur pun launching-nya dipercepat agar para Tetangga TUKU langsung dapat mengucur sendiri di rumah. Tukucur sendiri artinya TUKU yang dikucur dan TUKU dalam bentuk curah.

Top Tables (TT): Tukucur menjadi sesuatu yang dinanti-nanti netizen sampai stoknya habis dengan sangat cepat, tak sampai 5 menit setelah dirilis di salah satu online marketplace.Dalam hal stok, apakah akan ada penyesuaian mengingat demand terhadap produk ini tinggi? Danu: Hal ini di luar ekspektasi saya dan tim. Awal mulanya, kami masih memproduksi dalam jumlah sedikit per harinya. Kami pun seiring berjalannya waktu terus menambah produksi sembari tetap mengutamakan customer satisfaction. Kami tidak ingin mengecewakan para Tetangga TUKU karena kesulitan dalam membeli TUKU. Hal ini juga mengingatkan saya ketika dulu TUKU dianggap sulit untuk dibeli karena antrian ojek online yang membeli panjang, sehingga dari situ, kami mulai membuat toko sendiri khusus untuk pembelian melalui aplikasi ojek online.


Salah satu staf yang sedang menyiapkan Tukucur | Toko Kopi TUKU

Top Tables (TT): Sudah memiliki rencana lain dalam jangka waktu dekat serta saat social distancing telah berakhir? Selain inovasi Tukucur akan tetap berlanjut tentunya mengingat hal tersebut memang telah menjadi rencana bahkan sebelum pandemi

Danu: Pastinya ada. Semangat bahwa saat ini kita sedang mencari "the new normal"ini menjadi penting sekarang. Sejak awal, kami paham bahwa di TUKU kami tak sekadar membuat kopi susu, namun kami bertujuan untuk menjadi mood booster bagi para Tetangga TUKU untuk bersosialisasi. Kami berusaha para Tetangga TUKU walau secara fisik mereka tidak hadir di TUKU, mereka tetap dapat berbagi TUKU bersama anggota keluarga di rumah.


Menuangkan ke gelas satu sama lain, kebersamaan di rumah, hal tersebut yang kami cari. Setelah ini, kami pun akan terus berinovasi dan tetap berpegangan prinsip kami tersebut. Di masa pandemi ini, pasti banyak yang kangen untuk berinteraksi dengan satu manusia dengan manusia lain. Hal ini menjadi momentum yang baik untuk mengembalikan konsep silahturahmi dan gotong royong, mengingat TUKU dibangun dengan konsep tetangga.

Top Tables (TT): Seperti yang sudah kita ketahui Bersama, TUKU sangat kuat dalam hal interaksi dengan Tetangga TUKU secara offline di setiap outlet dan hal ini terefleksikan di media sosial TUKU. Di masa social distancing, bagaimana TUKU beradaptasi dalam hal konten di media sosial atau dengan platform lain untuk tetap menjalin interaksi dengan Tetangga TUKU?

Danu: Komunikasi secara informal dengan Tetangga TUKU pastinya ada. Platform yang banyak kami manfaatkan adalah Instagram dan Zoom khususnya untuk ngumpul bareng. Selain itu, kami juga memanfaatkan fitur Instagram Live, dimana barista kami akan berkeliling ke outlet-outlet TUKU untuk menyapa para Tetangga TUKU yang kangen dengan suasana di TUKU mulai dari melihat barista membuat kopi, mendengarkan musik, serta mengobrol dengan barista.

Top Tables (TT): Cipete dikenal sebagai coffee district dan Top Tables menghitung ada lebih dari 15 coffee shops di jalan sepanjang 1 km ini. Di masa seperti sekarang ini sudah adakah inisiatif bersama para pelaku coffee shops di sepanjang Cipete Raya?

Danu: Untuk inisiatif riilnya belum ada. Namun, kami memiliki grup untuk berdiskusi dan saling update satu sama lain. Misalnya ada yang mengabarkan kalau ada satu coffee shop yang akan tutup, kami memberikan semangat satu sama lain dan berjanji untuk saling membantu di saat coffee shop tersebut kembali beroperasi.


Saat ini, kami masih disibukkan untuk menyelamatkan coffee shop masing-masing. Kalau pesan dari saya pribadi, selamatkan dulu keluarga kalian masing-masing, saya akan menyelamatkan brand perusahaan saya terlebih dahulu, supaya saya dapat menyelamatkan pegawai saya (TUKU), setelah itu baru TUKU dapat menyelamatkan komunitas kita. Setelah komunitas, baru kita berbicara kota, bahkan negara.


Sebagai pengusaha, secara pribadi yang saya takutkan bukan hanya penyebaran virusnya, namun bagaimana kondisi perekonomian mempengaruhi mental dan semangat masyarakat Indonesia, bagaimana kami dapat membuat kondisi ekonomi dapat bergejolak lagi. Dari UMKM, kami berusaha untuk tetap bergerak, sekecil apapun tetap berkontribusi untuk menggerakkan perekonomian di komunitas kami, dalam hal ini di Cipete.

Top Tables (TT): Apakah Danu memiliki pesan terhadap F&B owners lain yang sama-sama menghadapi masa pandemi?

Danu: Rasa takut dan bingung dengan kejelasan yang terjadi di Indonesia saat ini pasti ada, karena kembali lagi, kita tidak ada yang siap dengan keadaan yang terjadi saat ini. Namun,saat ini yang mudah disadari adalah kita diberikan banyak waktu untuk berpikir sejenak.


Memang saat ini perekonomian sedang turun, tetapi sebagai pelaku usaha, saya ingin turut mengambil peran untuk menjadi warga negara dengan terus membangun negara dengan sebaik-baiknya. Saya semakin mencoba menyadari, sebenarnya apa yang dimiliki Indonesia? Apa yang diinginkan tetangga saya? Lalu, apakah kita bisa mengusahakan itu supaya dapat terjadi secepat mungkin?


Pesan saya terhadap teman- teman saya dan pelaku bisnis lain, buang seluruh rencana bisnis yang telah disusun di tahun kemarin. Pinggirkan seluruh brand image yang kita punyai. Kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengulang dari nol, nikmati saja! Sekarang, kita mau membuat cerita baru apa? Cara kita bersyukur adalah kita menikmati apa yang dimiliki sekarang, sehingga kita memiliki cerita baru tentang siapa itu Indonesia.



Sharima Umaya adalah editor-at-large dari Top Tables

197 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png