Akankah Tradisi Makan Tetap Sama Paska Pandemi?

Apakah pandemi ini dapat mengubah interaksi kita dengan makanan kaki lima? Akankah tradisi harus mengalah dan dibatasi?


Oleh Top Tables

Ciri khas makanan kaki lima disajikan dengan sederhana | Top Tables

Sebentar lagi protokol baru akan dikeluarkan oleh pemerintah mengenai aturan makan seiring kenormalan baru digaungkan oleh setiap pemerintahan di dunia. Sejak awal merebaknya pandemi, tempat-tempat yang ramai interaksi manusia pun ditutup, salah satunya tempat makan seperti restoran dan juga café.


Dampak yang dialami oleh pelaku industri restoran sangatlah besar. Tidak terhitung lagi banyak dari mereka yang menutup outlet tempat makan, menjual aset, hingga merumahkan karyawan. Namun sebagaimana industri restoran sangat lekat dengan komunitas masyarakat modern, maka kemungkinan untuk mereka bergandengan tangan, berkolaborasi, saling mendorong juga lebih besar. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka para penjaja makanan kaki lima?


Apabila para pelaku restoran yang terpaksa gulung tikar dapat lebih dengan mudah terdeteksi dikarenakan system yang lebih terhubung dengan lembaga formal seperti asuransi dan perbankan, bagaimana dengan penjaja makanan kaki lima. Mungkinkah gulung tikar mereka tak terdeteksi? senyap seakan tak pernah hadir?


Masalah tidak berhenti di sini saja bagi para penjaja makanan kaki lima. Bagi mereka yang berada di industri kuliner modern seperti restoran dan café tentu jauh lebih mudah untuk mengaplikasikan protokol dikarenakan SOP adalah detak jantung dari keberhasilan sebuah institusi restoran. Membatasi duduk, digitalisasi, keduanya mungkin bukanlah hal yang akan mengagetkan apabila manusia sudah boleh lagi makan di restoran. Tapi hal ini tentu akan sangat berbeda bila diaplikasikan terhadap makanan jalanan yang notabene sangat erat dengan nilai tradisi dan kekerabatan yang membumi.


Menurut Prof.Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch.,Ph.D, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2011 – 2014 dan juga pakar dalam urban planning kepada Top Tables, makanan dan cara makan adalah ekspresi budaya yang paling valid, di mana street food atau makanan kaki lima menjadi yang paling erat dengan ekspresi budaya makan tadi mulai dari cara makan hingga ruangnya. Kenormalan baru akan memiliki implikasi juga kepada street food atau kaki lima.


“Makanan kaki lima yang berbasis tradisi kembul seperti lesehan, kendurian, megibung – yang pada intinya makan bersama dengan tangan – pada akhirnya harus memiliki kemampuan beradaptasi apabila ingin tetap hidup, “ujar Prof Wiendu. Hal ini juga termasuk establishment yang kental dengan tradisi cara makan lokal yang sarat gestur berbagi, seperti rumah makan kuliner Minang. “Saya kira penggunaan makan dengan tangan tidak bisa hilang begitu saja di Indonesia. Masalahnya adalah bagaimana menjamin tangan agar sangat bersih ketika digunakan untuk makan.”


Urusan mengenai tradisi makan versus aturan baru pun tidak hanya membayang-bayangi para penjual masakan tradisional di Indonesia. Di Cina, pemerintah bergandengan tangan dengan sejarawan dan ilmuan – dibantu juga dengan beberapa selebritas – gencar mempopulerkan gerakan yang mendorong penggunaan sumpit tambahan saat makan. Menurut The New York Times, hal ini terjadi karena banyak yang merasa peraturan baru yang turun dari pemerintah ini bertentangan dengan budaya makan masyarakat di Cina yang umumnya menggunakan sumpit yang sama untuk mengambil makanan, makan, hingga membagi makanan ke rekan satu meja sebagai bentuk eratnya persaudaraan.

Kegiatan makan di warung dan kaki lima identik dengan keguyuban, ramah tamah, serta cara santap yang saling berbagi | Top Tables

Cara makan di warung atau rumah makan yang lebih menempel dengan budaya lokal membuat hal ini lebih sulit dilepaskan dibandingkan makan di restoran yang tergolong budaya baru di Indonesia, terutama hanya terjadi di kota-kota besar. Namun pada dasarnya, tradisi makan akan terus berkembang sesuai dengan manusianya. “Manusia akan bergerak mengikuti jamannya, bersama dengan kebudayaan yang terus bergerak beradaptasi atau mungkin membuat sesuatu yang baru. Karena prinsipnya kebudayaan digunakan manusia untuk bertahan hidup,” jelas Seto Nurseto, food anthropologist dari Universitas Padjajaran dan juga pegiat kuliner lewat platform Parti Gastronomi. Ia kemudian menjelaskan, bahwa cara makan di warung kaki lima juga pasti akan beradaptasi dengan caranya sendiri dengan tidak menghilangkan esensi yang membumi khas budaya lokal. “Setelah pandemic ini, manusia pasti akan meredefinisi bentuk dari keramahtamahan dan kebersamaan. Bentuknya akan seperti apa saya juga masih belum tahu karena kita sedang dalam tahap proses menuju perubahan tersebut,” ujar Seto kembali.


Cina sendiri pernah mengalami pandemi pada tahun 1910 yang dinamakan wabah Manchuria. Pandemi ini akhirnya melahirkan cara makan yang baru yaitu menggunakan meja bundar yang dapat diputar yang dinamakan lazy susan di Cina. Belajar dari beberapa abad sebelumnya di abad ke-14, makan bersama dengan tidak mengindahkan kondisi kesehatan adalah salah satu hal yang mendorong penyebaran bakteri Yestinia pestis, penyebab dari pandemi Black Death yang menewaskan lebih dari 100 juta jiwa di Eropa dan Eurasia. Penggunaan lazy susan untuk mendorong cara makan yang lebih higienis ini diprakarsai oleh Dr. Wu Lien-Teh yang melihat bahwa penyebaran penyakit salah satunya paling besar terjadi ketika sedang makan. Inovasi yang ia lakukan di awal abad ke-20 itu pun membuatnya menjadi pahlawan dengan berhasil membatasi penyebaran penyakit hingga menyelamatkan jutaan nyawa, dan budaya makan dengan meja bundar itu pun tetap diterapkan hingga sekarang.


“Saya rasa akan muncul cara-cara baru untuk manusia tetap bisa makan makanan tradisional dengan cara yang lebih sehat.” Ujar Prof Wiendu. Pada dasarnya, saling memberikan rasa aman akan menjadi landasan untuk lahirnya cara makan yang baru. Apakah nantinya kita tidak akan melihat lagi warung makan yang ramai? Akankah menyantap makanan dengan tangan akan dilarang? Budaya dan tradisi pun pada akhirnya harus bisa berjalan bersama dalam harmoni dengan aturan-aturan baru yang akan dikeluarkan, hal ini semata-mata demi kelangsungan hidup manusia ke depannya.

76 views
  • White Facebook Icon

FOOD

PEOPLE

CULTURE

Top Tables adalah media digital di Indonesia dengan makanan sebagai fokus utama. 

2019 Top Tables

All rights reserved.

In partnership with

Geometry-Logo-White.png